Bab 12

1462 Kata
Farhana terduduk di atas sofa. Sementara Farras masih berada di ambang pintu, menerima beberapa ember cat yang baru diantar. Farhana bergidik, sungguh dia sudah tidak bersemangat lagi. Suasana hatinya buruk sekali. Farras tidak mengajaknya makan. Ini memang ulahnya sendiri, kenapa harus menampar Farras di tempat umum? Saat Farras hendak mendekat padanya, bell kembali berbunyi, dengan sangat terpaksa Farras membuka pintu untuk tahu siapa yang datang, padahal dia sudah tidak kuat ingin memaki kembali wanita itu.  Farhana tidak  begitu mendengar dan tak begitu tahu, siapa yang datang dan kenapa Farras menjadi sangat ramah. Namun, tiba-tiba dia terkesiap saat Farras menjatuhkan dua kotak pizza di atas meja.  "Kamu sebenarnya nyusahin," sergah Farras.  Farhana ingin sekali menjawab pernyataan Farras tersebut, kalau dirinya tidak minta untuk di kasih makan. Dia malah meminta untuk pulang, bukan tertahan di sini.  "Makan!"  Farhana lagi-lagi terkesiap. Apa sebenarnya yang diinginkan Farras darinya? Perlahan tangan Farhana terulur dan mengambil potongan pizza itu. Air mata tak hentinya terjatuh. Napasnya pun bergetar. Dia bersumpah tidak akan mencari gara-gara lagi dengan Farras, di mana ada kesempatan, dia akan pulang.  Pria itu tampak santai menikmati makanannya, seolah tidak terjadi apa-apa. Kedua tangannya dibuka dengan lebar, sementara kakinya berada di atas lututnya sendiri. "Aku sebenarnya tidak suka ada orang yang cari masalah denganku."  Andai Farras tahu, Farhana juga sebenarnya tidak suka. Bukan apa-apa, masalah yang menurutnya sangat besar ini adalah bermula dari apa yang Farras lakukan di masa lalu. Bagi Farhana, itu adalah sebuah kejahatan. Namun, Farras tidak menyadari kalau maaf saja tidak berarti apa-apa.  Dalam hening, air mata kembali menetes, meski begitu dia tetap mengigit pizza dan mengunyahnya. Farras tidak buta, dia melihat bagaimana air mata terjatuh membasahi pipi Farhana. Sayang sekali Farras bukan manusia dengan rasa empati yang tinggi. Dia tetap pria berhati keras.  Farras kemudian bangkit dan menjatuhkan kotak pizza yang dipegangnya ke atas meja. Sementara Farhana semakin menundukkan wajahnya. Entah Farras sadar atau tidak yang jelas dia sudah membuat Farhana ketakutan. “Selesaikan makanmu, karena setelah ini, kamu harus mulai bekerja. Ingat--” Dia mengacungkan telunjuknya ke depan Farhana sementara gadis itu tetap tertunduk, “berikan hasil terbaik untuk saya!” Farhana hanya bisa mengangguk. Entah apakah dia bisa bekerja dalam kondisi seperti ini atau tidak. Pasalnya Farhana selalu bekerja dengan suasana hati yang baik, bukan dalam keadaan tertekan seperti ini.  Farras menatap gadis yang tertunduk sementara rambut panjangnya menutupi hampir seluruh wajahnya. Berniat sekali Farhana menyembunyikan kesedihan darinya. Dia tidak suka wanita lemah.  Farhana sedikit beringsut dari duduknya. Namun, pinggul tak sengaja membuat tasnya terjatuh. Farras tercenung saat menatap sebuah foto teronggok di lantai. Farhana hendak mengambil. Namun, Farras sudah lebih dulu memungutnya.  Farras menatap gambar seorang pria yang berfoto dengan Farhana. “Dia siapa?” tanyanya.  Farhana belum menjawab, dia malah sibuk mengatur napas.  “Siapa?” Farras mengulangi pertanyaannya.  “Dia--” Farhana menarik napas, seolah dia takut dengan kebohongan yang akan dia sampaikan. “Dia Gias, calon suamiku,” ucapnya tanpa mengangkat wajah.  Raut wajah Farras tiba-tiba berubah, seolah sebuah kesalahan telah menyadarkannya. Namun, dia tidak ingin Farhana melihat itu. Dia pun menjatuhkan foto tersebut ke pangkuan Farhana.  “Kamu tenang saja, aku tidak akan berbuat sesuatu yang merugikan kamu. Karena aku tidak ingin merebut calon istri orang,” ucap Farras pelan. Farhana sedikit terenyuh dengan cara Farras menyampaikan kalimat tersebut. Begitu lembut dan tenang. Syukurlah, semoga setelah ini Farras tidak akan lagi berbuat semena-mena terhadapnya.    Pria itu kemudian berlalu ke luar membawa satu kotak pizza yang masih utuh. Farhana menghela napas. Dia merasa lega dengan ke luarnya monster itu dari tempat tersebut, membuat Farhana bisa menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Bahkan kali ini dia menyantap pizzanya dengan sangat lahap. Jika satu kebohongan bisa menyelamatkannya, dia bersumpah akan melakukan seribu kebohongan untuk bisa menyelamatkan diri dari setiap masalah yang dia hadapi.  Sementara Farras membawa pizza itu ke tempat pos satpam, dua orang pria, Agus dan Sapto sedang bertugas siang ini. “Gus,” sapa Farras sembari mendaratkan bok*ngnya, kemudian menoleh. “Kebetulan ada Pak Sapto. Nih Pak, saya bawa pizza.” Farras meletakkan kotak pizza itu di meja.  “Wah, makanan enak.” Agus langsung membuka kotak tersebut, makanan yang berbahan dasar terigu dengan berbagai toping itu membuat air liur terbit di rongga mulut Agus. “Pak, ayo Pak.” Agus menyodorkan kotak itu pada Sapto sesaat setelah dia mengambilnya.  Farras termenung. Ternyata Farhana adalah calon istri sahabatnya. Kenapa Gias tidak pernah cerita kalau dia sudah memiliki calon istri? Kini raut depresi tertera di wajah Farras. Dia menyesal telah keterlaluan pada Farhana, bagaimana kalau Gias tahu, apa yang telah dia lakukan pada calon istri sahabatnya itu.  “Kenapa, Pak Bos?” tanya Agus seraya memiringkan wajahnya dan menatap Farras. Sementara matahari yang sudah meninggi membuat kedua matanya menyipit.  “Nggak, Gus.” Farras mengusap kasar wajahnya sendiri. “Ada masalah ya, sama Teh Hana?” tebak Agus sembari berhenti mengunyah. “Saya lihat tadi, Teh Hana kayak yang abis nangis.”  Farras menoleh cepat dan menghujamkan tatapan menusuk pada Agus, hingga pria itu meringis, seolah dia tertancap pedang. Kenapa Agus harus menanyakan hal yang begitu pribadi pada Farras? “Maaf, Pak Bos, saya lancang. Betewe--” Agus mengacungkan potongan pizza yang dia pegang, “makasih pizzanya, Pak Bos.” Farras tak menjawab, dia tidak suka ada orang yang suka menebak-nebak dan sok tahu dengan kehidupannya.    Mendadak Agus merasa hambar dengan pizza yang tengah dikunyahnya. Dia kemudian menoleh pada Sapto yang justru tampak asyik menikmati makanannya. Agus menelan liurnya susah payah, dia terus saja merutuki kebodohannya. Farras kemudian bangkit dan menoleh. “Saya permisi,” ucapnya dingin.  “Makasih, Mas,” ucap Sapto. Farras hanya menjawab dengan anggukan. Kemudian dia melenggang pergi dari tempat itu. Dia meninggalkan Farhana sendiri di apartemen dan dia malah pergi dengan mobilnya.   Sementara Farhana, sudah merasa lebih baik setelah kepergian Farras dan setelah kebohongannya. Entah apa yang terjadi dengan pria itu, yang Farhana tahu ternyata Farras masih memiliki hati dengan tidak akan merebut calon istri orang.  *** Akhirnya Farhana bisa pulang sendiri dengan menggunakan angkutan umum, jadi dia bisa pergi ke konter untuk memperbaiki ponselnya yang rusak akibat terjatuh tempo hari. Sebelum urusannya dengan pria itu selesai, Farhana belum berniat memakai uang yang diberikan Farras. Mendekor ruangan memang bukan pekerjaannya. Tugasnya hanya mendesain, tapi Farras memaksa dan tidak mengirimkan bala bantuan dari kantor.  Farhana merebahkan tubuhnya di ranjang. Dua hari sudah ponselnya tidak aktif, beruntung kerusakannya tidak parah dan dia bisa kembali menggunakan ponselnya.  Pesan datang dari Nesya. [Kemana aja sih, Han?]  Farhana mengulas senyum, selain dari Nesya, beberapa pesan datang dari Fahri, ibunya dan juga Raka, lalu Gias? Seketika Farhana merengut, bahkan menanyakan kabar saja tidak, ke mana Gias? Miris sekali, berharap cinta dari orang yang tidak ingin memberi cinta.  [Maaf Nes, ponselku rusak.] Pesan itu terkirim pada Nesya. Dua detik kemudian pesan terbaca, dan Nesya langsung mengetik balasan.  [Ya ampun kasihan banget.] [Kamu gimana sama anak sulung keluarga Pranaja?] [Nggak gimana-gimana, biasa aja, orangnya dingin, kayak beruang kutub.] Nesya mengirimkan emoticon tertawa.  Namun, justru jantung Farhana mencelus, dia jadi teringat dengan Gias, dia yang selalu menyebut Gias dengan sebutan si Beruang kutub dari Alaska. Memangnya ada orang yang lebih dingin dari Gias? Setelah pesan terakhir Nesya, Farhana tidak ada keinginan untuk membalasnya lagi. Dia malah mendial nomor ibunya dan segera mendekatkan ponsel itu ke telinganya. Begitu sambungan terhubung. Farhana  segera mengucap salam.  “Ibu sehat?” tanyanya kemudian. [Sehat, Nak. Kamu kenapa baru mengabari ibu?] “Maaf, Bu. Ponsel Hana rusak, kemarin baru dibenerin.” [Syukur kalau udah bener lagi. Han, kapan pulang? Katanya seminggu sekali?] “Hana belum bisa, kerjaan Hana masih numpuk, tapi Hana janji setelah ini, Hana pasti pulang dan nggak akan balik lagi ke Bandung.” Rahmi tak memberikan jawaban. Farhana tahu ibunya pasti kecewa karena Farhana tidak menepati janji.  “Ibu sehat-sehat ya, salam untuk semuanya.” [Iya, kamu juga.] Setelah mengucap salam, Farhana memutuskan sambungan. Dia menghela napas. Sungguh dia lelah dengan pilihannya yang selalu meleset dari kata memuaskan. Namun, apa ini ujian dalam mewujudkan cita-citanya? Tiba-tiba panggilan masuk dari Raka. Farhana merasa bimbang, apa sebaiknya dia angkat, atau biarkan saja Raka lelah dengan panggilannya. Namun, dia merasa kasihan pada Raka.  “Iya, Ka?” tanyanya usai menekan tombol terima.  [Han, gimana di Bandung?] Farhana mengerutkan kening. Raka memang selalu perhatian, tapi Farhana tidak begitu suka dengan perhatian yang Raka berikan. “Kacau sih, tapi ya sudahlah.” Farhana hanya bisa menjawab itu. Namun, dia malas sekali memberi alasan pada Raka.  [Kok bisa? Bos kamu galak?] tanya Raka. “Galak dan nyebelin,” dengkus Farhana. “Udah dulu ah, Ka, aku masih banyak kerjaan.” [Han?] “Assalamualaikum,” ucap Farhana.  [Waalaikumsalam.] Farhana tercenung setelah memutus sambungan telepon dari Raka. Ada apa dengannya, kenapa dia menghindari Raka? Padahal persahabatan tetap harus terjalin, meski salah satu mengharapkan lebih. Bukankah Raka juga sudah katakan kalau dia sudah bersama Sarah?  ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN