Bab 7

1564 Kata
Farhana menghela napas, dia kemudian melakukan panggilan terhadap Gias. Dia masih bersabar saat nada sambung hampir habis. Namun, beruntung ponsel tak jadi dilempar lantaran suara merdu itu terlanjur menyapanya dari jauh.  [Assalamualaikum, Hana.] Farhana segera menegakkan duduknya. Dia merapikan rambut seolah Gias ada di sana. Sebelum menjawab salam, Farhana membasahi tenggorokannya terlebih dahulu. “Waalaikumsalam, Gias. Kamu sibuk?” [Nggak.] Farhana menurunkan bahu, bibirnya mengerucut. Bahkan jawaban Gias sesingkat itu. Jika tidak ingin bertanya soal Farhana malam ini, setidaknya Gias mau berbagi kisahnya seharian tadi. Namun, pria itu terlalu irit bicara. “Gias, aku di Bandung. Di sini dingin.” [Terus?] “Ya, mungkin aku harus adaptasi kali ya.” [Dingin di Bandung tidak sedingin di Alaska, ‘kan?] Padahal itu bukan kalimat pujian. Namun, entah mengapa itu berhasil membuat hati Farhana bersorak, bahkan tubuhnya menggelinjang saking senangnya. membuat Farhana terus menyunggingkan senyum. “Gias ….” [Iya?] Hening … hanya embusan angin yang begitu lembut membelai telinga.  [Kenapa Han?] Jantung Farhana berdebar, seolah Gias baru saja mengejutkannya. “Besok aku interview, doakan ya.” [Kamu sudah minta doa sama ibumu?] “Sudah, Pak ustadz.” [Kamu ke Bandung, nggak kabur, ‘kan?] Farhana mendengkus. “Nggaklah.” [Kirain buat menghindar dari surat wasiat itu.] Farhana melipat bibirnya. Kalau dia katakan apa yang baru saja Gias duga memang benar adanya, apa Gias akan menceramahinya lagi?  “Aku sudah bilang akan terima perjodohan itu setelah dua tahun aku di Bandung dan mereka setuju,” jawab Farhana.  [Dua tahun? Apa kamu sudah pernah bertemu dengan calonmu, apa dia setuju?] “Aku nggak tahu.” Farhana reflek mengedikkan bahu. “Aku nggak mau mikirin itu, Gias.” Gias terdiam, tak ada perkataan lain, selain suara Gias yang terbatuk.  “Kamu kenapa?” tanya Farhana penasaran. Bibirnya terus saja menyunggingkan senyum. Dia ingin sekali melihat wajah merah Gias ketika terbatuk. Apa yang membuat Gias terbatuk? Itulah jerit hati Farhana saat ini. [Nggak tahu, tiba-tiba tenggorokanku gatal.] “Kata orang kalau seperti itu, tandanya ada yang rindu,” seloroh Farhana, dia hanya sedang menggoda Gias, padahal dia sendiri tidak tahu kebenaran kalimatnya.  [Hmm.] Gias tersenyum miring mendengar kelakar wanita itu.  “Gias--” Farhana terdiam sejenak. Sungguh rindu itu mengaung di hatinya. “Aku yang rindu sama kamu. Kalau sekiranya aku nggak cinta sama laki-laki pilihan almarhum ayah dan cuma kamu yang aku cintai, gimana?”  Gias tak menjawab. Bukan karena sinyal yang buruk, melainkan dia sedang bertanya-tanya, kenapa harus hal itu lagi yang dia dengar dari Farhana. Jantung Farhana berdebar. Sebenarnya dia malu, seolah dia sedang mengemis cinta pada beruang kutub itu. “Apa aku nggak boleh mencintaimu?”  Lagi-lagi Gias bingung dengan pertanyaan seperti itu.  Terlanjur. Farhana terlanjur malu. Biarlah. Lagi pula Gias tidak melihat bagaimana kemerahan yang tertera di wajahnya saat ini. “Kalau aku tidak boleh mencintaimu, kamu saja yang mencintaiku, gimana?”  Embusan angin menjadi pertanda jawaban dari Gias. Ah, lagi-lagi Farhana kecewa karena Gias terus saja mendiamkannya.  [Han ….] Suara itu terdengar parau membuat Farhana merasa perlu untuk menyiapkan hati karena kemungkinannya hanya dua, penolakan dan penerimaaan.  [Jujur aku--] Debaran di balik d*da Farhana terus menggema, menyahut kegugupan pria itu di balik telepon.  [Sudahlah, aku cuma nggak mau bikin kamu kecewa, Hana.] Jantung Farhana tiba-tiba mencelus. “Aku tahu,” ucap Farhana. Tak terasa air matanya jatuh membasahi pipi. Kenapa Farhana harus melukai dirinya lagi. Bukankah dia sudah tahu kenyataannya? [Selamat istirahat, Han. Assalamualaikum.] Perih. Perasaan Farhana benar-benar perih. Dia bahkan tidak menjawab salam Gias, hingga sambungan itu terputus. Tetes demi tetes air mata kembali terjatuh. “Begini ya, rasanya cinta bertepuk sebelah tangan?” gumam Farhana.  Andai Tuhan tak memberinya rasa itu, tapi apa ini salah Tuhan? Farhana menyeka air matanya. Dia tidak ingin tangisan ini merusak penampilannya besok dan membuat matanya bengkak, hitam seperti panda. Dalam keadaan sedih dan frustrasi seperti ini Farhana tidak dapat tidur, sudah dipastikan besok akan terjadi kehancuran dengan penampilannya.  Dia menyesal mengungkapkan perasaannya itu lagi. Seharusnya Farhana sudah tahu jawaban Gias. Kenapa dia menjadikan luka dari Gias sebagai candu?  Farhana mengambil selimut dan menutupi seluruh tubuhnya. Namun, dari luar terdengar suara orang marah-marah. Farhana segera melihat jam weker di atas meja. Waktu baru saja menunjukkan pukul delapan malam apa dia akan tidur secepat ini?  Farhana mengayun kaki dan turun dari ranjang. Kesedihan membuatnya lemas. Dia berjalan gontai ke luar, Farhana ingin sekali menghirup udara malam di Bandung. Semoga itu bisa membuatnya lebih tenang.  Namun, sesaat kemudian dia terperangah melihat seorang pria tengah memarahi Oma Yuli. Dia pun segera mendekat. Sungguh dia tidak suka, apa seperti itu berbicara pada orang yang lebih tua?!  Farhana menarik tangan Oma Yuli dan dia berdiri membelakangi wanita tua itu, dan menghadap tepat di depan pria kurang ajar yang sedang mencoba menahan amarah. "Apa ini cara Anda berbicara pada orang tua, hm?" Farhana mengangkat dagunya. "Berapa utang Oma ke kamu?"  Pria itu memicingkan mata menatap Farhana. Farhana menantang tatapan pria itu, namun, dia seperti sedang memindai siapa pemilik mata coklat itu. Aroma green tea dan peppermint merangsek menguasai penciumannya. Dan tiba-tiba saja dia terkesiap, saat bayangan seorang pria sedang menciumnya lima tahun lalu datang membayangi bak hantu dalam film horor.  "Kamu?" pekik Farhana tertahan. Belum sempat pria itu menjawab sapaan Farhana, Farhana terlanjur melayangkan telapak tangan dan membuatnya mendarat tepat di pipi pria itu. Semua orang terkesiap dengan apa yang Farhana lakukan. Shafira segera mengajak Oma Yuli untuk menjauh.  Farhana menarik kedua ujung lengan bajunya ke atas. "Jadi, pria m***m itu kamu, seorang Depcolector, hm?"  "Apa, hm?" Pria itu mencengkram rahang Farhana, hingga Farhana terdongak. "Berani kamu menampar saya? Kamu tidak tahu siapa saya?"  Oma Yuli mengacungkan tangan ke depan, mencoba mencegah apa yang tengah cucunya lakukan terhadap Farhana.  Farhana segera menepis tangan pria itu dari rahangnya. "Kamu lupa, siapa saya?" Farhana terus saja menantang. "Kamu Arga, 'kan? Pria yang merenggut ciuman pertama saya di depan pacar saya sendiri?" Saat Farhana kembali hendak melayangkan tamparan, pria itu segara menahan tangannya.  "Oma, siapa dia?" tanya pria itu dengan garang.  "Dia–" Oma Yuli tampak gugup, "dia Hana, anak yang kos di sini," jelasnya.  "Apa?" Mata pria itu membola. "Apa Oma tidak bisa memilih siapa orang yang pantas untuk mengontrak kamar di sini? Apa Oma nggak takut dia akan mencuri perhiasan Oma?"  Farhana menggelengkan kepala, selain dia tidak suka dengan tuduhan pria itu terhadapnya, dia juga tidak suka dengan nada bicaranya yang tinggi.  "Farras, Oma yakin Hana ini orang yang baik." Oma Yuli memberikan pembelaan.  Farhana semakin mengangkat dagunya. Namun, tiba-tiba keningnya mengerut. "Farras?"  "Iya, apa, hm?" Pria itu kembali menantang Farhana. "Lihat saja apa yang akan terjadi karena kamu berani menantang saya."  Farhana yakin Farras itu Arga, Arga itu Farras. Dia masih ingat sorot mata penuh dendam itu, juga aroma green tea dan peppermint yang pernah menguasainya. Namun, belum sempat Farhana mengklarifikasi semuanya, pria itu terlanjur mengangkat kaki dari hadapannya.  "Oma." Farhana segera mendekat pada Oma Yuli dan Shafira. "Oma nggak apa-apa, 'kan?" tanyanya panik.  "Justru Oma yang seharusnya bertanya, kamu tidak apa-apa?"  Farhana mengangguk, sebenarnya Farhana tidak apa-apa, hanya saja dia kesal pada pria itu, kenapa Tuhan pertemukannya lagi dengan pria b******k seperti Arga.  "Oma minta maaf atas sikap cucu Oma, dia memang kasar."  "Apa?" Farhana segera mundur, dia seperti baru mendengar gelegar petir. Apa yang sudah Farhana lakukan, baru sehari di tempat baru sudah cari gara-gara?  "Iya, namanya Farras, dia memang pemarah, sepertinya Oma gagal lagi mengenalkannya dengan perempuan. Dan dia tidak suka dengan cara Oma yang terus memaksanya untuk segera menikah."  Farhana tercengang. Apa dia tidak salah dengar? Mungkin itulah penyebab Farras memarahi Oma nya. Namun, Farhana tetap saja tidak suka saat Farras bersikap tidak sopan pada neneknya sendiri.  "Oma akan meminta Hana untuk pergi dari sini?" tanya Farhana.  Oma Yuli tersenyum lembut. "Nggak. Buat apa Oma meminta kamu pergi."  "Terima kasih, Oma." Mungkin Farhana sedang dalam masalah besar karena berurusan dengan Farras. Namun dia tak peduli, lagi pula di sini dia bayar dan Oma Yuli sendiri yang menerima uangnya. *** Sebuah gebrakan tangan ke meja membuat Farhana terkesiap. "Tugas pertama kamu," ucap Elyn sembari menjauhkan tangannya. Sementara selembar kertas teronggok di atas meja.  "Ini apa?" tanya Farhana seraya mengambil kertas tersebut.  "Itu alamat apartemen pak Direktur, kamu dapat tugas untuk mengubah interiornya," ucap Elyn sembari membusungkan d**a. "Kalau pak Direktur suka, kamu bisa lanjut bekerja, kalau tidak suka, siap-siap kamu dipulangkan," imbuhnya.  Farhana tercenung. Bahkan dia belum bertemu dengan Direkturnya itu dan langsung mendapat tugas.  "Itu ujian terberat buat kamu," ucap Elyn. "Yang sudah-sudah, bukan mereka yang dipulangkan, tapi mereka sendiri yang minta pulang." Wanita itu kemudian tersenyum sinis. Farhana segera bangkit dan berdiri di sebelah Elyn. "Pak Direktur orangnya gimana?" tanya Farhana penasaran.  Alih-alih menjawab, Elyn malah mengedikkan bahu seraya melenggang pergi. Membuat Farhana merasa dongkol.  Beberapa saat kemudian Elyn menoleh. "Kamu tunggu apa lagi? tanya perempuan Tionghoa itu.  "Sekarang berangkat, lebih cepat lebih baik." "Iya, Chi." Farhana mengangguk. Dia kemudian mengambil tas selempangnya dan melenggang pergi. Apa yang akan Farhana hadapi setelah ini, apa Elyn sedang menakut-nakutinya?  Farhana berdiri di depan jalan menunggu ojek online pesanannya. Selang lima belas menit pesanan ojeknya datang.  "Mbak Farhana ya?"  Farhana kemudian mengangguk dan mengambil helm yang diberikan abang ojek itu. Tanpa banyak bertanya, dia naik ke motor tersebut.  Dalam perjalanan, Farhana sempat memikirkan segala kemungkinan yang ada, entah itu soal dia yang bisa terus bekerja, atau malah dipulangkan lagi seperti apa yang dikatakan Elyn padanya. Menjadi karyawan biasa di kantor yang lama, atau menjadi manajer di kantor yang baru. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN