"Ayah, sedang apa?" tanyaku seraya mendekati Ayah yang duduk di sebuah batu besar.
"Nak, kamu tidak rindu sama Ayah?" ucapnya menarikku untuk duduk.
"Tentu saja aku rindu sama ayah. Ayah kemana saja?" Aku memeluknya dengan erat seolah tidak ingin melepaskannya.
"Ayah disini nak," Beliau menatapku dengan penuh kasih sayang.
"Apa Mamah bahagia?" tanya ku tiba-tiba juga merindukan Mamah, walaupun sebenarnya aku tidak pernah bertemu dengannya.
"Tentu saja, Mamah kamu sekarang sudah bahagia."
"Memang apa Ayah tidak bahagia?" tanyaku masih memeluknya erat.
"Untuk sekarang tidak, Ayah mengkhawatirkanmu. Makan banyak, sekarang tubuh kamu sedikit kurus." Ayah memperhatikan keadaanku.
"Aku capke Yah," menjeda kalimat. "Aku ingin berhenti saja." Sudah di ambang putus asa.
"Jangan Nak, ayah tidak suka mendengarnya. Kamu anak Ayah. Dan anak Ayah akan selalu kuat, pantang menyerah. Hadapi lah masalah yang ada di depanmu. Percaya kamu bisa. Ayah ingin melihatmu bahagia. Apa kamu bisa berjanji?" Aku mengangguk tersenyum.
"Rama kecil sudah besar, sangat tampan ternyata," Ayah menggodaku.
"Sama seperti Ayah." Kami tertawa bersamaan. Sudah lama aku tidak merasakan bahagia seperti ini.
"Waktunya Ayah pergi." Ayah melepaskan genggaman tanganku.
"Kemana Yah? Jangan pergi." Aku menarik kembali tangan Ayah.
"Ayah harus pergi sayang. Ini bukan tempat Ayah." Tiba-tiba air mataku keluar. Aku menangis.
"Jangan pergi Yah, aku tidak punya siapa-siapa." Air mataku terus keluar. Ayah melepaskan tanganku dengan lembut dan berdiri.
"Banyak orang yang mencintaimu. Percayalah kamu akan bahagia." Ayah tersenyum padaku dan berbalik pergi menjauh meninggalkanku. Ku panggil nama nya berulang kali namun Ayah tetap melangkah maju.
"Ayaaaah!" Aku terbangun. Lagi-lagi mimpi. Jam menunjukkan pukul sembilan malam. Aku baru ingat, selepas dari kantor aku langsung tidur di apartemen Angga dan sekarang baru bangun. Di samping ku Angga sudah terlelap dalam mimpi. Dia sama sekali tidak terganggu oleh mimpiku. Ku hela napas panjang. Ku senderkan punggung di bahu ranjang. Kembali menerawang jauh. Ya, aku tiba-tiba ingat Ayah.
Ayah terbaring di rumah sakit dengan banyak selang ditubuhnya. Aku yang saat itu baru berumur lima tahun menangis sejadi-jadinya melihat kondisi Ayah. Walaupun Ayah memperlihatkan senyum cerianya, namun itu tidak bisa menyembunyikan rasa sakit di tubuhnya. Aku memegang tangan itu yang sudah melemah, tidak bisa balik memegang tanganku dengan sempurna.
"Ayah akan sembuh kan?" Beliau hanya tersenyum. "Ayah akan bermain denganku kan? Lagi-lagi dibalas dengan senyuman, beliau sudah tidak mampu berbicara. "Ayah akan melihatku sukses seperti Ayah kan?" sekarang beliau memejamkan mata sebagai isyarat meng iyakan, walaupun itu mustahil.
Mulut ayah terbuka sedikit seperti ingin mengatakan sesuatu. Aku yang saat itu hanyalah seorang anak kecil tidak mengerti. Lalu pak Ganda yang sejak tadi memperhatikan mengarahkan ku untuk mendekat pada Ayah. Ku condongkan tubuhku mendekat, dan ku dekatkan telingaku tepat di wajah Ayah. Dan aku mendengar ucapannya.
"A-ayah," napasnya terengah-engah "A-ayah-hh sa-sa-ya-yang h-h Ra-ma h-h ba-ha-gi-gia hh." Itu adalah kata-kata terakhir sebelum Ayah benar-benar meninggalkanku. Aku menangis, berteriak, bahkan mengamuk. Untungnya pak Ganda ada di dekatku. Dia memelukku agar tidak melakukan hal-hal konyol.
"Tenanglah Rama, Ayah kamu sudah tenang. Lihat dia tersenyum kan?" ucap pak Ganda menenangkanku. "Ingat apa yang terakhir di ucapkan Ayahmu. Jangan membuat ayahmu menangis." Aku masih menangis histeris. Pak Ganda mengusap pundakku. "Jangan takut, bapak akan bersamamu. Bapak akan menjagamu seperti anak bapak sendiri."
Sekilas mengingat kejadian itu tanpa aku sadari air mataku menetes di pipi. Ck, gampang sekali aku menangis akhir-akhir ini. Ada apa dengan diriku. Lama terdiam, aku melanjutkan tidurku kembali. Ingat besok aku harus kembali ke Bandung. Menyelesaikan kesalah pahaman. Dan mudah-mudahan dapat bukti baru. Dengan mudahnya aku masuk ke alam mimpi.
Sekarang yang pertama bangun adalah aku. Angga masih mendengkur, tertidur pulas. Biarkan saja dia, sepertinya semalam dia memang kelelahan dan sekarang juga jatahnya dia libur. Aku mandi dan membuat sarapan sendiri. Waktu masih menunjukan pukul enam pagi. Ku bangunkan Angga untuk berpamitan dengannya.
"Angga, gue kembali ke Bandung sekarang ya?" ucapku masih tidak mendapat sahutan dari lelaki itu. "Woii," teriakanku berhasil membangunkannya.
"Pulang sekarang?" Aku mengangguk.
"Ingat, nanti loe cari info tentang Alexa," ucapku memastikan agar dia tidak lupa.
"Siap bos! TiTi DJ." Aku mengernyit tidak mengerti. "Hati-hati di jalan, ya elah bahasa gaul aja loe ga ngerti." Aku hanya menggeleng dan terkekeh mendengarnya.
Seperti biasa aku naik bus jurusan ibukota Jakarta ke Bandung. Di pagi hari ini mudah-mudahan jalanan masih sepi dan mobil cepat sampai di Bandung. Benar, jam 10 aku sudah sampai di Bandung.
Tiba saat di kontrakan, terlihat ada seorang wanita yang menunggu. Ku hampiri dan ternyata itu
"Alexa?"tanyaku heran.
"Aku nunggu kamu dari tadi. Mana hp kamu tidak bisa di hubungi," cerca wanita cantik itu.
"Sorry Lex, aku nginep di rumah teman. Tadinya kemarin mau langsung pulang saja. Tapi badan ku serasa remuk semua. Jadi kuputuskan untuk menginap dulu di rumah Angga." Alexa seperti tampak berfikit. "Dan ah iya, hp ku lowbet Lex. Tidak sempat dan tidak ingat aku mengisi daya nya di kost.an teman," ucapku jujur. Aku membuka pintu kontrakan dan masuk bersama Alexa.
"Hari ini kita akan kemana?" tanya Alexa yang sudah bersikap seperti biasa kembali.
"Tidal tahu Lex, aku masih bingung harus kemana dulu. Terserah kamu aja deh, kalau kamu ada tempat lain untuk dimintai info." Tubuhku masih terlentang di atas tempat tidur, meluruskan otot-otot dan sendi selama perjalanan kesini.
Setelah setengah jam aku mengistirahatkan diri. Aku bangun dengan duduk bersila di atas tempat tidur.
"Jadi kita mau kemana Lex?" tanya ku masih bingung harus kemana.
"Ikuti aja aku," menggantung kalimatnya. "Kamu mandi dulu sana, biar fresh. Dan pegal-pegalnya hilang." Aku menuruti perkataanya. Bergegas ke kamar mandi ukuran kecil. Tidak lupa membawa baju yang akan di pakai, ke dalam. Agar sekalian ganti baju di sana, supaya Alexa tidak melihat tubuh atletis ku. Ingat, aku harus menjaga jarak dengannya. Kini aku sudah rapi dan wangi. Alexa mengajakku ke masuk ke mobilnya.
"Mau kemana Lex?" lagi-lagi aku bertanya.
"Kita akan lunch di restoran," tukas Alexa. Apa? Lunch? Aku bertanya-tanya tentang apa yang akan dilakukan Alexa.
"Kenapa ke restoran? Mahal. Kalo mau makan ayo di warteg aja." pinta ku.
"Aku yang bayar," ucapnya. "Nyari pelaku nya nanti saja. Kita juga udah di bantu sama polisi. Sekarang kita luangkan waktu dulu buat kamu."
"Aku?" menunjuk diri sendiri.
"Hu.um, hari ini hari ulang tahunmu kan? Aku mohon hari ini saja luangkan waktu untuk merayakan ulang tahunmu. Dan kita akan merayakannya dengan makan di restoran. Dan, jangan nolak." Aku seketika terdiam. Bukan karena dia akan merayakan ulang tahunku. Tapi karena dia tahu hari ulang tahunku.
Kenapa dia tahu hari ulang tahunku? Dari siapa? Jangan-jangan.....?