Beno menyengir. "Kau memang tanggap, Bran," batin Beno. Cowok itu lalu mendekat ke arah Bran, kemudian duduk di kursi yang terletak tepat di samping ranjang bocah itu. "Woah! Aku tak menyangka klinik istana cukup mewah seperti ini." Beno berpura-pura memandang ke sekeliling ruangan, sambil memberikan sebuah isyarat pada Bran, untuk menjauhkan Baron agar keluar dari ruangan itu. Beno mencoba berbasa-basi sambil mencari cara untuk bisa lepas dari pengawalan Baron. "Ini bukan klinik. Ini hanya ruang pengobatan pegawai istana." Baron menjawab Beno dengan wajah datar. Sementara Bran menahan senyum. "Ah, iya benar," jawab Beno membenarkan ucapan Baron. "Apa bedanya? Kan sama-sama tempat pengobatan," rutuk Beno dalam hati. Cowok itu lalu menatap ke arah Bran dengan tatapan khawatir. "Bagaimana

