Mobil sedan berwarna hitam milik Kim Ji-yong melintasi area industri lama yang kering di pinggiran Seoul. Di sebelah kiri dan kanan jalan, gudang-gudang besar terlihat seperti raksasa yang tertidur dan berkarat. Kendaraan tersebut akhirnya mengurangi kecepatan dan berhenti di depan sebuah gedung besar yang dilengkapi gerbang baja setinggi lima meter. Di atasnya ada sebuah papan neon yang sebagian lampunya mati dengan tulisan "GHOST LOGISTICS - CENTRAL HUB".
Dari luar, tempat ini terlihat seperti sebuah pusat pemrosesan paket e-commerce yang padat namun kurang terawat. Puluhan kurir dengan pakaian berwarna gelap terlihat ke sana-kemari membawa kotak kayu, sementara suara ban berjalan menjerit dengan konstan, menciptakan latar belakang yang tepat untuk menutupi apa pun yang ada di dalamnya.
“ Tempat ini? " tanya Tae-ha, yang berusia 30 tahun, matanya memeriksa setiap sudut dengan kewaspadaan seorang mantan anggota pasukan khusus. "Terlihat seperti lokasi ideal untuk menyembunyikan mayat. "
Ji-yong, yang berusia 45 tahun, hanya tertawa pelan sambil mematikan mesin. "Tempat terbaik untuk menyembunyikan sesuatu adalah di depan mata semua orang, Tae-ha. Tidak ada yang mencurigai ribuan paket yang terus menerus masuk dan keluar setiap jam. Ayo, dia sudah menunggu. "
Mereka melangkah melewati tumpukan kardus yang menjulang tinggi menuju sebuah ruang pendingin besar yang terletak di sudut gudang. Ji-yong menempelkan telapak tangannya pada pemindai yang tersembunyi di balik tumpukan palet kayu. Pintu baja yang berat tersebut berderit saat terbuka, memperlihatkan sebuah ruang komando digital yang luas, sejuk, dan sangat modern.
Di tengah ruangan, seorang wanita muda duduk dengan rambut panjang yang menyentuh bahunya dan dikelilingi oleh dinding monitor yang menampilkan data logistik, satelit, dan rekaman CCTV kota. Ia mengenakan hoodie abu-abu yang kebesaran, kacamata dengan berbingkai tipis, dan hanya satu earphone yang terpasang. Di atas meja kerjanya, terdapat banyak kaleng kopi kosong dan beberapa kemasan camilan pedas.
"Jangan masuk jika sepatu kalian masih kotor," suara wanita itu terdengar datar tanpa menoleh. "Aku baru saja membersihkan lantai ini. "
"Tae-ha, ini adalah Lee Da-in," Ji-yong memperkenalkan. "Dia adalah otak, jantung, dan sistem saraf dari operasi kita. "
Da-in memutar kursinya, mengamati Tae-ha dari atas ke bawah dengan tatapan yang tajam. "Jadi, ini kandidat barumu, Jaksa? Sepertinya dia lebih berbakat dalam hal kekuatan daripada kecerdasan. Apakah dia tahu cara mengoperasikan ponsel pintar? "
Tae-ha hanya menatapnya datar. "Aku tahu cara meretas leher orang jika mereka terlalu banyak bicara."
"Wow, sedikit garang," Da-in menjawab sambil melemparkan sebuah ponsel pintar baru yang terbuat dari titanium ke arah Tae-ha. "Itu bukan ponsel biasa. Aku sudah menginstal sistem operasi Ghost Dispatch di dalamnya. Jangan gunakan untuk media sosial, atau kau akan dipenjara dalam waktu lima menit. "
Tae-ha menangkap ponsel tersebut dengan satu tangan. Di layar ponsel muncul ikon kotak paket dengan desain minimalis berwarna hitam. Saat jempolnya menyentuh layar, ponsel tersebut langsung melakukan pemindaian retina. Layar ponsel menggelap sesaat. Detak jantung Tae-ha terasa terlalu keras di telinganya sendiri. Lalu satu notifikasi muncul perlahan:
Akses diterima, Tanpa tombol keluar. Tanpa opsi batal. Hanya satu arah.
"Itu adalah tampilan utama yang kita punya," Da-in menjelaskan lagi dengan serius. Jemarinya meluncur di atas papan ketik, menunjukkan peta 3D Seoul pada layar besar. "Kami beroperasi sebagai layanan kurir gelap. Dengan aplikasi ini, kamu bisa mendapatkan pesanan penghapusan, melacak lokasi target secara real-time, dan meretas kunci digital dalam jarak lima puluh meter. Anggap saja itu tongkat sihirmu, Tae-ha. "
Ji-yong maju ke meja yang ada di tengah ruangan, mengambil sebotol air mineral, dan memberikannya kepada Tae-ha. "Silakan duduk. Kita perlu berbincang santai sebelum kamu terjun ke dalam masalah inti," ujarnya. Mereka bertiga duduk di sofa tua yang berada di sudut ruangan. Sesaat, suasana yang tegang mulai mencair.
“Jadi, Jaksa,” Da-in mulai membuka bungkus keripik kentang dan menyodorkannya kepada Ji-yong. “Kenapa memilih seorang kurir? Kenapa kita tidak memilih tentara bayaran seperti dalam film?”
Ji-yong meneguk air yang baru diambilnya. “Karena dalam kenyataan, seorang kurir adalah yang paling tak terlihat. Mereka ada di mana-mana, di lobi kantor, di depan rumah, di tempat parkir mall, orang mungkin melihat mereka, tapi tidak benar-benar memperhatikan. Ini adalah penyamaran sempurna untuk menghilangkan seseorang tanpa jejak.
“Lalu soal ‘Penghapusan’? ” Tae-ha bertanya. “Kenapa tidak langsung kita bunuh saja? Orang seperti Tae-jun seharusnya pantas mendapatkan hukuman mati. ”
Ji-yong menatapTae-ha dengan tajam, sosok yang tampak lelah akibat bertahun-tahun menghadapi hukum yang kelam. “Membunuh itu bukanlah hal yang sulit, Tae-ha. Namun, kematian hanyalah sebuah akhir. Ketika seseorang meninggal, mereka tidak lagi merasakan penderitaan. Tetapi jika kita ‘menghilangkan’ mereka, itu berarti kita akan mengambil semua akses terhadap harta dan identitas mereka, serta menghapus nama baik mereka di mata masyarakat. Mereka akan tetap hidup, namun seperti hantu. Mereka akan merasakan semua yang dialami oleh korban. Ini adalah bentuk keadilan yang sejati. "
Da-in mengangguk setuju sambil mengunyah keripiknya. “Dan secara teknis, itu lebih menyenangkan untukku. Melihat saldo bank seorang pengusaha menjadi nol dalam sekejap lebih memuaskan daripada melihat darah. ”
“Berapa lama kamu mengerjakan sistem ini? ” tanya Tae-ha kepada Da-in, merasa sedikit kagum dengan kompleksitas data yang ditampilkan di layar.
“Dua tahun,” jawab Da-in, wajahnya tampak lebih lembut. “Sejak Jaksa Kim menyelamatkanku dari keterpurukan karierku di intelijen karena politik. Aku berjanji kepada diriku sendiri, jika hukum tidak melindungi orang-orang pintar seperti kita, maka kita akan membuat hukum kita sendiri. "
Ji-yong kemudian berdiri dan menepuk bahu Tae-ha. “Istirahatlah di lantai atas. Kami sudah menyiapkan kamar khusus untukmu. Besok malam, Choi Tae-jun akan menjadi yang pertama yang kau antar menuju kehancurannya. Da-in juga sudah menyiapkan 'parasit' digital yang akan meledak di ponsel Tae-jun tepat saat kau tiba di depannya.”
Tae-ha berdiri, menatap ponsel Ghost Dispatch yang berada di tangannya. Di sana terlihat notifikasi baru:
[PESANAN MASUK: CHOI TAE-JUN. STATUS: SIAP JEMPUT]
“Satu pertanyaan lagi,” Tae-ha berbalik ke arah Da-in. “Apakah kamu punya kopi yang lebih baik dari kalengan ini? ”
Da-in mendengus kecil dan tersenyum tipis. “Lakukan saja tugasmu dengan baik besok, dan aku akan buatkan kopi paling enak yang pernah kau minum, lewat hasil retasan mesin kopi di kepolisian pusat. Bagaimana? ”
Tae-ha hanya memberikan anggukan kecil tanpa mengucapkan sepatah kata pun sebelum dia pergi. Di dalam ruangan yang sejuk itu, tiga individu dengan usia dan latar belakang yang bervariasi kini disatukan oleh tujuan yang identik. Mereka tidak lagi menjadi pelaksana hukum yang setia. Mereka adalah sosok-sosok samar yang bersiap untuk membalas dendam di tengah keramaian kota Seoul.