Chapter 6
Toilet's Kissing
"Kau harus menolongku."
Ucapan yang baru saja dilontarkan wanita yang berdiri di belakangnya membuat Beck mengerutkan keningnya seraya menatap cermin. "Maaf, bisa kau ulangi?"
Jessie membelalak panik dan meletakkan telunjuknya di depan bibir dengan posisi vertikal kemudian menyeret lengan Beck. "Pokoknya kau harus membawaku keluar dari tempat ini."
"Hai, Nona. Apa yang akan kau lakukan?" tanya Beck terheran-heran. Primadona di meja judi yang sempat dikaguminya tiba-tiba meminta bantuannya, apa lagi si pirang itu membawanya masuk ke dalam salah satu toilet. "Nona, ada apa?"
Jessie seraya memutar kunci pintu toilet lalu berbalik menghadap Beck. "Kau sendiri, apa yang kau lakukan di toilet wanita? Kau pasti berniat buruk, 'kan?"
Beck mengernyit. "Pintu toilet pria terkunci, lagi pula aku hanya ingin mencuci tanganku. Jadi...." Beck mendekatkan wajahnya ke arah wanita pirang di depannya. "Aku sepertinya pernah melihatmu...," ucapnya seraya mengingat-ingat.
Jessie menarik rambut palsunya ke arah belakang kepalanya. "Syukurlah ingatanmu berfungsi dengan baik," ucapnya seraya membuang rambut palsunya ke dalam tempat sampah.
"Sial!" Beck berkacak pinggang, ia menatap Jessie dengan tatapan kebingungan. "Apa yang kau lakukan di...."
Jessie berjinjit dan membekap mulut Beck. "Bisakah kau diam?"
"Apa yang kau lakukan di sini?" bisik Beck meskipun ia tahu apa yang telah dilakukan Jessie di tempat itu.
Namun, ia butuh penjelasan. Bagaimana bisa seorang putri kerajaan berada di tempat perjudian? Mungkin sedikit tebakannya bisa jadi benar, sang putri sedang bosan dan ingin bersenang-senang makanya menyamar. Tetapi, kenapa harus di tempat judi dan di Tijuana.
"Seseorang menjebakku," ucap Jessie. "Kau harus...." Suara tumit sepatu wanita menginjak lantai membuat Jessie tidak melanjutkan ucapannya. Ia menatap Beck kemudian kembali meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya.
Suasana di tempat itu menjadi hening dan diliputi ketegangan, keduanya bertukar pandang hingga terdengar suara wanita bersenandung pelan kemudian disusul suara derit pintu toilet. Sepertinya pengunjung wanita itu masuk ke dalam salah satu toilet.
Jessie mendengus, tampak sedikit lega kemudian ia melepaskan jaring dari rambutnya lalu menguraikan rambutnya yang berwarna cokelat terang, gerakannya lembut dan anggun kemudian ia melepaskan jaketnya dan menjejakkannya ke dalam tempat sampah.
"Apa yang terjadi?" tanya Beck. Hanya bibirnya yang bergerak-gerak tanpa mengeluarkan suara.
"Aku akan menceritakannya nanti, sekarang kau hanya harus membawaku keluar dari sini," ujar Jessie tanpa suara dibarengi dengan isyarat tangannya.
Beck mengernyit karena tidak mengerti. "Apa?" tanya Beck, masih tanpa suara dan ia tidak mendapatkan jawaban dari Jessie.
Jessie justru menarik bagian bawah kausnya yang dimasukkan ke dalam celana kain kemudian mengamati Beck dengan saksama. "Kita harus bertukar pakaian," ucapnya tanpa suara.
Beck melongo, ia tidak paham sepenuhnya tetapi saat Jessie menarik jasnya ia mengerti maksud Jessie. Tidak mungkin mengenakan pakaian wanita! Beck tidak ingin tampil seperti badut.
"Tuan Putri, jangan konyol!" tolak Beck seraya memegangi jasnya.
"Aku hanya perlu kemejamu," bisik Jessie. "Kau bisa mengenakan kausku, cepatlah. Pria itu mungkin akan segera ke sini mencariku. Aku sudah terlalu lama di sini."
"Pengawalmu?" tanya Beck.
Jessie memutar bola matanya. "Kau terlalu banyak bertanya," geramnya seraya menarik kaus yang dikenakan melalui kepalanya. "Cepat!" bentaknya tidak sabar.
"Sial!" gerutu Beck karena mengingat gadis di depannya adalah adik dari sahabatnya, Beck tidak bisa mengabaikan gadis itu. Lebih dari itu, ia tidak peduli. Bahkan dengan status Jessie sekali pun, Beck tidak akan peduli apa lagi menolong.
Ia melepaskan jasnya kemudian mulai melepaskan kancing kemejanya sedangkan Jessie menarik bagian bawah kemejanya, mengeluarkannya dari dalam celananya.
Suara deheman pria membuat Jessie berhenti dan raut wajahnya tegang. Tamat!
Jantungnya berpacu cepat, malam ini jika ia tidak dapat lolos dari pria berkulit cokelat yang tidak diketahui namanya itu, bisa dipastikan dirinya akan berakhir tragis. Mungkin dijual kepada sindikat perdagangan wanita, atau mungkin ia harus meminta bantuan ayahnya kemudian dirinya akan berakhir dengan hukuman yang lebih sadis dari kakaknya yang sok tegas itu.
Beck menaikkan kedua alisnya, seolah melalui matanya dan Jessie seolah mengerti, ia meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Beck. Jantungnya berderap kencang, ia yakin jika orang yang masuk ke dalam toilet adalah pria yang menipunya.
"Nona, di mana kau?" seru pria itu.
Dugaannya tidak meleset, ia mengenali suara itu. Jessie dan Beck kembali saling pandang dengan tegang.
Pria itu bernyanyi kecil kemudian berucap, "Jangan coba-coba melarikan diri dariku, Nona Pirang. Aku tahu kau masih di sini."
Lalu terdengar pintu toilet menabrak dinding pembatas toilet, kemudian suara air penyiram kloset disusul suara tumit sepatu wanita yang menjauh dengan terburu-buru. Wanita yang barusan itu pasti ketakutan, pikir Jessie.
Tidak ada waktu lagi, otak Jessie tidak mampu berpikir lebih jernih lagi, ia mendorong Beck dengan lembut, membuat Beck terduduk di atas kloset kemudian ia sendiri duduk mengangkang di atas pangkuan Beck. d**a Jessie naik turun, sementara Beck mengawasi pintu dan sesekali berpandangan dengan mata Jessie.
Ketika suara langkah pria di luar berhenti di depan pintu toilet yang mereka tempati. Pintu toilet yang mereka tempati bergerak karena dorongan dari luar, Beck dan Jessie saling bertatapan seolah-olah mereka sama-sama menghitung mundur sebelum pintu didobrak. Dan perkiraan mereka sangat tepat, begitu terdengar suara tendangan di pintu, Jessie mencium bibir Beck.
Beck tidak menyangka akan ada ciuman di toilet Casino bersama seorang tuan putri, tetapi meskipun tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi pada Jessie, ia membiarkan Jessie mencumbui bibirnya. Tetapi, ketika pintu menghantam dinding pembatas toilet dan si penendang pintu berdiri di depan pintu, Beck memiringkan kepalanya dan menatap ke arah pintu.
"Apa masalahmu, Tuan?" tanya Beck kepada pria yang berdiri di depan pintu dengan tatapan curiga.
Pria itu mengedik. "Apa kau tidak memiliki uang untuk menyewa hotel?"
Beck mengusap dengan lembut pinggang Jessie yang terbuka. "Apa ada larangan bercinta di toilet?"
Pria Meksiko itu mengernyit sinis. "Ini tempat judi, Bung! Bukan tempat bercinta!"
Jessie tidak mungkin melompat dari pangkuan Beck kemudian berpura-pura menyeret kekasihnya keluar, yang ia lakukan harus meyakinkan bahwa mereka adalah dua orang yang dimabuk gairah. Jadi, Jessie kembali mencium Beck, tidak peduli terkesan betapa nakalnya dirinya di mata Beck. Jika hanya itu cara yang bisa membuatnya selamat, maka Jessie akan melakukan dengan sebaik mungkin.
Jessie mengalungkan lengannya ke leher Beck, merapatkan tubuhnya ke tubuh Beck dan menggoda bibir Beck. Sialnya, Beck yang tadinya hanya diam justru membalas ciumannya, pria itu membalas ciumannya dan mengambil kendali dari ciumannya.
Bajingan! Pria ini mengambil kesempatan! Tetapi, Jessie tidak memiliki pilihan.
"Hai, kalian benar-benar tidak punya uang?" tanya pria Meksiko itu, terdengar jengkel.
"Ya. Kami akan pergi ke hotel. Setelah kekasihku berpakaian," ucap Beck dengan bibir yang masih dicumbui oleh Jessie.
"Dasar, Anak Muda!" gerutu pria itu kemudian terdengar langkah kakinya menjauh meskipun pria itu sempat kembali menendang salah satu pintu toilet.
"Apa dia sudah pergi?" tanya Jessie dengan suara parau dan masih dengan posisinya yang sangat rapat dengan Beck.
"Kau selamat, Tuan Putri." Berharap Jessie segera turun dari pangkuannya karena posisi seperti itu terasa sangat tidak nyaman mengingat dirinya adalah pria normal yang telah bertahun-tahun tidak menyentuh wanita.
Bersambung....
Jangan lupa untuk tinggalkan komentar dan Rate.
Terima kasih dan salam manis dari Cherry yang manis.