Setelah makan siang, aku mulai merapikan semua barang-barang yang berikan oleh ayah dan ibunya Iharasi. Meski aku sudah menolak dan melarang dua orang tua itu untuk tidak memberikan apapun padaku, tapi tetap saja mereka memberikan macam-macam hal. Mulai dari semangka, sayuran bahkan acar-acar yang mereka buat sendiri. Selain itu mereka juga memberikanku banyak sekali makanan yang mungkin tidak akan habis kumakan dalam dua—tiga hari. “Kuro-kun, kau harus hati-hati ya?” Ibunya memperingatkan. Sementara ayahnya hanya beberapa kali menepuk bahuku dan menyuruhku untuk kembali agar bisa menjemput anak mereka. “Ayah, hentikan!” bentak Iharasi jengah. “Hei, sopanlah di depan Kuro-kun!” kali ini ibunya menasehati. “Bu, ini kelewatan.” “Apanya yang kelewatan? Biarkan saja, sebentar lagi kalian

