Ifa duduk dibalkon kamar dengan menatap gemericik air hujan yang turun dihari yang sudah sangat gelap. dia tengah memikirkan apa yang sudah terjadi padanya. Ifa, takut apa yang terjadi hanya mimpi, yang akan membangunkannya dari kenyataan pahit. dimana dia hanya terlalu berharap dan baper selama ini. Sikap El, kata-kata manis El, membuat Ifa merasa nyaman, aman, kesal, jengkel, baper, senang, menjadi satu. kini setelah El memberikan semua pada Ifa, jujur Ifa takut hanya mimpi. Takut akan kehilangan El, pria yang mampu menggerakkan hatinya, pria yang mampu membuatnya salting setiap bertemu, pria yang mampu membuatnya panas dingin saat memeluknya. Ifa, ternyata sudah mulai tersadar ada rasa tersendiri yang tidak bisa dia jelaskan. Ifa menyadari saat dia tidak bertemu dengan calon suaminy

