2

1119 Kata
Lima panggilan tak terjawab. Salma masih terus meneleponnya. Sengaja, Fatiha mengabaikannya. Belakangan ia menghindar bicara dengannya. Salma teramat menyayanginya, ia kakak yang sangat perhatian dan memedulikannya. Terkadang, perhatiannya justru membuat Fatiha kian merasa bersalah. Meski kakaknya telah sepenuhnya memaafkan segala sikap kurangajarnya di masa lalu, tetapi rasanya hal itu tidak cukup untuk Fatiha. Ia merasa berdosa telah melukai kakak sebaik Salma. “Mbak,” sapa Fatiha. Telepon ke enam, akhirnya ia bersedia mengangkatnya meski enggan. “Kamu sibuk banget, ya, Ti?” Lembut suaranya terdengar dari seberang. “Begitulah. Bosku berulah, aku harus menyelesaikan banyak pekerjaan.” “Setahuku, Pak Kusuma tidak pernah mau mengurusi usaha ‘kecilnya’ dan memasrahkan sepenuhnya padamu?” “Itu, kan, Pak Kusuma, Mbak. Yang kumaksud ini anaknya. Menyebalkan dan banyak tingkah.” “Mas Ulil tidak pernah cerita. Siapa namanya, Ti?” “Airlangga.” “Laki-laki?” “Tentu saja, Mbak. Memangnya ada perempuan bernama Airlangga?” Di seberang, Fatiha mendengar kakaknya menghela napas panjang. “Dia tidak macam-macam padamu, kan?” Dia menawarkan pernikahan sekaligus perceraian dalam satu waktu. Kalimat itu tentu saja hanya dibatinnya. “Tentu saja tidak. Mbak Salma tidak perlu khawatir.” “Kalau dia berani kurangajar padamu, laporkan padaku, Ti. Biar kuadukan pada Mas Ulil.” “Mbak Salma terlalu berlebihan! Aku sudah dewasa, bisa menjaga diri sendiri. Jangan memperlakukanku seperti anak kecil, Mbak.” “Kamu tahu jelas maksudku, Ti. Justru karena kamu adalah perempuan dewasa dan sangat cantik, makanya aku mencemaskanmu. Ditambah, ada seorang pria di sana.” “Bukan seorang, Mbak,” sanggah Fatiha. Sejujurnya ia senang diperhatikan oleh kakaknya, tetapi perhatian Salma menurutnya terlalu berlebihan. Ia masih saja menganggap Fatiha tidak dapat menjaga diri. “Di sini ada puluhan karyawan laki-laki. Kecemasan Mbak Salma terlalu berlebihan.” “Mereka bawahanmu, Ti, tidak akan berani macam-macam kalau masih sayang dengan pekerjaan. Tapi, Airlangga ini bosmu. Aku khawatir dia berani menggodamu.” “Aku tidak akan tergoda. Jangan khawatir.” “Apakah dia tampan?” “Mbak, sudahlah! Mbak Salma meneleponku hanya untuk membicarakannya?” “Tentu saja, tidak!” “Syukurlah, kalau begitu tidak perlu membahasnya lagi.” “Baiklah. Ada hal yang jauh lebih penting untuk dibicarakan.” Fatiha sudah langsung dapat menebak. “Mas Ulil ingin menjodohkanmu dengan Kang Rahmat, Ti.” Menghela napas, Fatiha menahan diri untuk tidak segera memutus sambungan telepon. Inilah, penyebab belakangan ini ia enggan menerima telepon kakaknya. Salma ingin sekali adiknya kembali menikah, meski Fatiha telah berkali-kali menegaskan, ia tidak ingin menjalin hubungan dengan pria mana pun, terlebih menikah kembali. “Aku bukan tempat sampah, Mbak! Aku tidak mau menerima bekasmu,” dengusnya tanpa dapat ditahan. “Kang Rahmat bukan bekas siapa-siapa! Ngawur, kamu ini.” “Bekas tunangan Mbak Salma, tentu saja.” Fatiha memutar bola mata meski tahu, kakaknya tidak dapat melihatnya. “Aku tidak ingin menikah lagi. Udahan, Mbak Salma tidak usah repot-repot menjodoh-jodohkan aku dengan siapa pun.” “Ti, Mbak Salma ingin kamu bahagia, demikian pula dengan Ibu. Beliau selalu berharap kamu dapat menemukan kebahagiaanmu.” “Kebahagiaan tidak melulu soal menikah, kan, Mbak? Aku bahagia di sini, dan itu sudah cukup. Aku tidak ingin mengulang kesalahan dua kali dengan menikah kembali.” “Tia—” “Udah dulu, ya, Mbak. Nanti kutelepon lagi. Aku beneran masih banyak pekerjaan.” Salma menghembuskan napas, tetapi tidak kuasa mencegah. Pada akhirnya pembicaraan mereka terhenti bersamaan dengan sambungan diputus oleh adiknya. Usai meletakkan ponsel ke meja, giliran Fatiha yang menghembuskan napas. Semua orang ingin ia kembali menikah. Kakaknya tiada henti menjodoh-jodohkannya dengan para pria yang dikenalnya. Amira, adiknya yang masih bocah kemarin sore pun tak ada bedanya. Sejak dulu memang gemar menjodohkan kedua kakaknya. Mentah-mentah Fatiha menolaknya. Jauh-jauh bersembunyi di tempat terpencil seperti ini, salah satu tujuannya agar tidak berurusan dengan para pria yang mengejar-ngejarnya dan selalu menimbulkan fitnah, akan sia-sia saja kalau kedua saudaranya masih saja menerornya untuk mencarikannya jodoh. Bukan salahnya terlahir dengan kecantikan di atas rata-rata. Bukan keinginannya pula ia digilai banyak pria. Fatiha lelah. Sejak menyandang status janda, hidupnya jauh dari kata tenang. Tidak hanya para pemuda yang berlomba-lomba untuk meminangnya, para pria berstatus suami pun turut menggodanya. Tak jarang mereka memintanya menjadi istri ke dua. Seringkali, Fatiha dikeroyok ibu-ibu setiap keluar rumah. Mereka menganggap ia telah menggoda suami mereka. Fatiha kesal, Marah, dan frustasi. Belum lagi ancaman Arman. Mantan suaminya itu begitu gencar memintanya untuk rujuk. Ia sungguh tertekan. Jauh meninggalkan rumah memberinya sedikit ketenangan, meski sebenarnya sedih harus berpisah dengan keluarganya. Sejuk udara pegunungan dengan pemandangan alam yang memanjakan mata, mampu melenyapkan segala tekanan yang menghimpitnya. Di sini Fatiha bahagia, dan ia ingin menikmati kebahagiaannya tanpa harus diteror perjodohan. Ketukan ringan terdengar nyaring dalam ruangannya yang hening. Fatiha tersentak dari lamunannya begitu melihat kepala Rini, sekretarisnya, melongok melalui celah pintu. “Bu, ada pesan dari Pak Kusuma.” “Oh, ya?” “Pak Kusuma menelepon Bu Fatiha, tapi katanya ponselnya sedang sibuk.” “Apa katanya?” “Hari ini Bu Fatma akan datang bersama putra bungsunya. Ibu diminta untuk mempersiapkan kamar terbaik.” Fatiha mengangguk. Ia meraih ponselnya untuk menghubungi beberapa orang. Bu Fatma adalah istri Pak Kusuma, pemilik tempat ini. Sebelumnya, Elang telah mengatakan, bulan depan ibunya akan datang. Namun, rupanya kedatangannya dipercepat. “Fatiha!” Pemilik nama yang dipanggil tersebut urung menekan sebuah nomor dalam ponselnya. Ia mengangkat kepala segera, mendapati pintu disentakkan kuat hingga terbuka lebar. Elang, pria itu muncul di ambang pintu. Rini buru-buru pamit keluar, meninggalkan mereka berdua dalam ruangan. Elang menatapnya nyaris tanpa kedip, Fatiha membalasnya dengan tatapan datar. “Ada yang Bapak butuhkan?” tanyanya sedatar tatapannya. “Ya, aku butuh sesuatu darimu.” “Apa yang bisa saya bantu, Pak?” “Kamu dengar sendiri, hari ini Ibu akan datang.” Elang menatapnya sungguh-sungguh. “Menikahlah denganku, Fatiha.” Menghembuskan napas, datar tatapannya kini berubah berkilat. Mendadak Fatiha kesal pada pria ini. “Saya sudah menjawabnya tempo hari.” “Fatiha—” “Jawabannya masih tetap sama, Pak. Tidak.” Elang menghembuskan napas jengkel. “Kamu suka bekerja di sini, bukan?” “Apakah Pak Elang akan mengancam untuk memecat saya?” “Tidak, itu bukan gayaku.” Santai, pria itu bergerak, lantas duduk di sofa kecil dan melipat satu tungkainya bertumpu pada tungkai sebelah. “Melihat pekerjaanmu selama sebulan, kusimpulkan tempat ini sangat berarti untukmu. Kamu membutuhkan tempat ini untuk bersembunyi bukan?” “A—apa?” “Sayangnya, Bapak ingin menjual tempat ini dalam waktu dekat. Kamu siap kehilangan tempat persembunyianmu?” Mulut Fatiha ternganga. Bagaimana bisa, pria ini mengetahuinya? “Aku bersedia membelinya dari Bapak, daripada jatuh ke tangan orang lain, dan kamu bisa tetap di sini, bahkan memiliki tempat ini asal mau menikah denganku.” Bersambung … Yuk, tinggalkan jejaknya. ❤❤
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN