Dari kejauhan Arnold memandang kepergian Fey yang kini telah melakukan check in di bandara. Tetap saja pria itu enggan untuk beranjak barang sedikit hingga ia memastikan ketika tubuh kecil itu hilang dari pandangan matanya. Arnold mendesah pelan, ia mengacak rambutnya menahan gejolak dalam dadanya. Jika dulu, mungkin ia tidak akan mau melepaskan gadis itu pergi begitu saja. Tapi kini keadaan berbalik, ia harus merelakannya untuk sesaat. Suara dering ponsel di saku celananya cukup mengalihkan pandangannya dari pesawat yang sebentar lagi akan lepas landas. Dengan berdecak kesal pria itu mengangkat panggilan telepon dengan sorot mata dingin. "Apa kalian begitu tidak becus melakukannya sehingga memintaku datang ke sana?" Kedua rahangnya tampak mengeras, amarah dan kekecewaan karena Fey per

