Bab 2

1657 Kata
Bab 2 Setelah memilih menjadi pacar pura-pura Arka... Malam itu menjadi awal dari sandiwara mereka. — Di depan sebuah mansion megah... Arka berdiri sambil sesekali melirik jam tangan. Rahangnya mengeras. Sudah tiga puluh menit ia menunggu. Namun sosok Natasha tak kunjung muncul. "Ck." "Nih bocah tengil banget." "Bisa-bisanya nggak jawab telepon gue dari tadi." gerutunya kesal. Arka kembali menekan tombol panggil. Kali ini... Teleponnya akhirnya tersambung. "Halo?" Suara Natasha terdengar serak. Disusul tawa canggung. "Hehehe... sorry ya, Kak." "Gue ketiduran." Arka langsung memijat pelipisnya. "Enak banget hidup lo." "Gue nunggu setengah jam di depan mansion lo." "Lo malah tidur." "Iya, iya." "Maaf." "Gue keluar sekarang." Beberapa menit kemudian... Pintu mansion terbuka. Natasha berlari kecil menghampiri mobil Arka. Rambutnya masih sedikit berantakan. Napasnya pun belum beraturan. "Huft..." "Sorry banget." Arka hanya melirik sekilas. "Masuk." Natasha segera membuka pintu mobil. Begitu duduk... Mobil kembali melaju meninggalkan kawasan mansion. Beberapa menit perjalanan berlangsung hening. Natasha akhirnya tak tahan. "Kita mau ke mana sih?" "Lagian..." "Lo nggak punya cewek apa sampai maksa gue jadi pacar pura-pura?" Arka tetap fokus menyetir. "Nggak usah banyak tanya." "Duduk yang anteng." "Dan nanti ikuti semua perintah gue." Natasha langsung memutar bola matanya. Dasar ketua BEM songong. Daripada capek debat... Lebih baik pura-pura budeg. Arka kembali mulai menjelaskan. "Nanti di depan keluarga gue..." "Kita harus kelihatan mesra." "Kayak pasangan yang lagi pacaran beneran." "Tapi inget." "Ini cuma akting." "Jangan sampai lo baper sama sikap gue." Natasha tetap menatap ke luar jendela. Seolah tidak mendengar sepatah kata pun. Arka masih terus berbicara. "Kalau mereka nanya..." "Bilang aja kita udah kenal lama." "Tapi baru jadian." "Kalau ditanya kapan..." "Bilang aja nggak tahu." "Soalnya hubungan kita ngalir gitu aja." Beberapa detik berlalu. Tidak ada jawaban. Arka mengernyit. Ia menoleh sekilas. Natasha masih sibuk melihat pemandangan di luar jendela. "Natasha." Tidak ada respons. "Natasha." Tetap diam. Kesal... Arka mencubit pelan lengan gadis itu. "Aww!" "Sakit, njir!" Natasha refleks menarik tangannya. Arka mendengus. "Gue udah capek ngejelasin panjang lebar." "Mulut gue hampir berbusa." "Eh lo malah asyik sendiri." Natasha langsung mendelik. "Lah?" "Yang tadi nyuruh gue diem dan anteng siapa?" "Giliran gue anteng..." "Lo malah marah." "Aneh." Arka menghela napas. "Susah emang ngomong sama lo." Beberapa menit kemudian... Lampu-lampu sebuah kawasan elite mulai terlihat. Arka memperlambat laju mobilnya. "Sebentar lagi kita sampai." "Inget." "Lo harus akting sesuai yang gue jelasin tadi." Tatapannya berubah serius. "Kalau sampai lo ngerusak sandiwara ini..." "Gue bakal bikin hidup lo nggak tenang selama kuliah di Universitas Cakrawala." Natasha langsung mendengus. "Dih." "Mentang-mentang Ketua BEM." "Seenaknya ngancem mahasiswa baru." gumamnya pelan. Dalam hati... Natasha memang paling benci orang yang menyalahgunakan jabatan untuk menindas orang lain. Arka melirik ke arahnya. "Lo denger nggak sih apa yang gue bilang dari tadi?" Natasha menoleh dengan wajah jutek. "Iya, woy." "Gue denger." "Lo pikir gue budeg apa?" Jawabannya membuat Arka hanya bisa menggeleng pelan. Baru kali ini... Ia bertemu mahasiswa baru yang berani membalas setiap perkataannya tanpa rasa takut. Entah kenapa... Sikap Natasha yang menyebalkan itu justru membuat sudut bibir Arka nyaris terangkat. Namun ia segera menahan ekspresinya. Sandiwara mereka... Baru saja dimulai. Mereka akhirnya tiba di sebuah restoran mewah yang menjadi langganan keluarga Arka. Lampu-lampu kristal yang menggantung di langit-langit membuat suasana restoran terlihat elegan. Arka memarkir mobilnya di depan pintu masuk. Ia menoleh ke arah Natasha. "Tunggu dulu di mobil." "Jangan turun sebelum gue buka pintunya." Natasha hanya mendengus pelan. "Iya, Bos." Arka turun lebih dulu. Lalu berjalan memutar ke sisi penumpang dan membukakan pintu untuk Natasha. Baru saja Natasha hendak turun... Sebuah suara perempuan terdengar dari arah belakang. "Arka!" Seorang wanita cantik dengan gaun putih berjalan cepat menghampiri mereka. Tanpa meminta izin... Wanita itu langsung merangkul lengan Arka dengan manja. "Kamu kok lama banget sih?" "Aku dari tadi nungguin kamu." Natasha melirik sekilas. Dalam hati ia langsung bergidik. Ih... Najis. Namun... Seketika sebuah ide jahil muncul di kepalanya. Bukankah mulai malam ini... Ia resmi menjadi pacar pura-pura Arka? Kalau begitu... Saatnya memainkan perannya. Dengan santai Natasha menyelip di antara Arka dan wanita itu. Tangannya dengan halus melepaskan pelukan wanita tersebut dari lengan Arka. "Eh, maaf ya, Kak." ucap Natasha sambil tersenyum manis. Wanita itu langsung terkejut. Tatapannya berubah tajam. Begitu pula Arka. Pria itu benar-benar tidak menyangka Natasha bisa membaca situasi secepat ini. Bahkan aktingnya dimulai tanpa perlu disuruh. Natasha lalu berbalik menatap Arka. Wajahnya berubah sangat manis. "Sayang..." "Kakak ini siapa?" tanyanya dengan nada lembut. Arka yang sempat terdiam akhirnya ikut bermain. "Eh..." "Kenalin." "Ini Arumi." "Putri sahabat mama aku, sayang." Natasha langsung mengulurkan tangan. "Hai, Kak Arumi." "Aku Natasha." "Pacarnya Kak Arka." Senyumnya begitu ramah. Namun... Arumi sama sekali tidak menyambut uluran tangannya. Wanita itu hanya menatap Natasha dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tatapan penuh penilaian. Natasha menarik kembali tangannya. Tetap tersenyum. Seolah tidak merasa dipermalukan. Arumi lalu menoleh ke arah Arka. "Apaan sih, Arka?" "Kenapa kamu bawa cewek ke acara keluarga?" "Kamu tahu kan malam ini acara apa?" Arka menatap Arumi datar. "Memangnya kenapa?" "Gue bawa pacar gue." "Nggak ada yang larang." "Mama gue juga nggak masalah." Ucapan itu membuat wajah Arumi berubah. "Tapi malam ini kita mau dijodohkan!" "Kamu malah datang sama cewek lain?" bentaknya. Kemudian Arumi kembali menatap Natasha. Sorot matanya penuh rasa tidak suka. "Dan lo..." "Nggak usah sok cantik." "Nanti juga Tante Dela bakal nyuruh lo menjauh dari Arka." Natasha hanya berkedip pelan. Dalam hati ia mendengus. Dih... Siapa juga yang mau sama cowok songong begini. Namun di luar dugaan... Natasha justru tersenyum semakin manis. Ia kembali memeluk lengan Arka. "Maaf ya, Kak Arumi." "Tapi kayaknya..." "Aku nggak bisa jauhin pacarku." "Jadi gimana dong?" ucapnya dengan wajah polos. Arka hampir tertawa melihat akting Natasha. Namun ia berhasil menahannya. Tatapannya kembali berubah tajam ke arah Arumi. "Jangan bentak-bentak pacar gue." "Dan denger baik-baik." "Gue sama Asha nggak bakal pisah." Arumi mengepalkan tangannya. Wajahnya memerah menahan emosi. Arka sama sekali tidak peduli. Ia justru merangkul pelan bahu Natasha. "Sayang." "Yuk kita masuk." Natasha langsung mengangguk manis. "Iya, Sayang." Sebelum masuk ke dalam restoran... Ia sempat menoleh ke arah Arumi. "Kak Arumi..." "Kita duluan ya." ucapnya sambil melambaikan tangan. Arumi hanya bisa menggertakkan gigi melihat mereka pergi. Begitu sudah cukup jauh dari Arumi... Natasha langsung melepaskan tangan Arka. Wajah manisnya seketika berubah jutek. "Lo jangan geer ya." "Tadi gue cuma menjalankan tugas." lirih Natasha. Arka menoleh sekilas. Sudut bibirnya terangkat tipis. "Akting lo keren juga, Cil." "Nanti gue kasih bonus." Natasha langsung mendelik. "Lo kira gue cewek sewaan?" "Dikasih bonus segala." Arka terkekeh pelan. "Minimal ucapan terima kasih, dong." Natasha mendengus. "Terima kasih apanya." "Kalau bukan gara-gara lo, gue juga nggak bakal ikut sandiwara beginian." Arka hanya tersenyum tipis. Sampai di dalam ruang VIP, Natasha melihat ada dua wanita cantik yang usianya kurang lebih sama dengan maminya. "Ma." Panggil Arka. Kedua wanita itu langsung menoleh. Tatapan mereka seketika tertuju pada Natasha yang berdiri di samping Arka. "Ma, kenalin." "Ini Natasha." "Perempuan yang Mama suruh aku bawa untuk acara malam ini." Ucapan Arka langsung membuat salah satu wanita mengernyit. "Sebentar, Jeng Dela." "Apa maksudnya ini?" tanya wanita itu dengan wajah bingung. "Ini kan acara pendekatan Arka sama Arumi." "Kenapa Arka malah bawa gadis lain ke sini?" Mama Dela tersenyum tipis. "Jeng Rina, tenang dulu." "Nanti saya jelaskan semuanya." "Arka, suruh teman kamu duduk dulu." Arka mengangguk pelan. Namun sebelum duduk, Natasha justru melangkah menghampiri Mama Dela. Dengan senyum manis, ia mengulurkan tangan. "Selamat malam, Tante." "Kenalin, aku Natasha." "Panggil aja Asha." Arka sedikit terkejut melihat keberanian Natasha. Sedangkan Mama Dela tampak bingung sesaat. Namun melihat sikap Natasha yang sopan, beliau pun membalas uluran tangan gadis itu. "Selamat malam." "Saya Dela." "Mamanya Arka." Baru saja tangan mereka bersentuhan... Tiba-tiba Arumi berdiri. Brakk! Ia menepis tangan Natasha lalu mendorong tubuh gadis itu hingga hampir terjatuh. "Nggak usah cari muka sama Tante Dela!" bentaknya. "Karena lo nggak pantas buat Arka!" "Arumi!" Rina langsung berdiri kaget. "Kamu ngapain?" Arka refleks menangkap lengan Natasha sebelum benar-benar terjatuh. "Sayang." "Kamu nggak apa-apa?" Natasha mengangguk pelan. "Nggak apa-apa kok, Kak." Padahal dalam hati... Ia benar-benar ingin membalas dorongan Arumi. Mama Dela ikut menghampiri. "Asha." "Kamu nggak kenapa-kenapa, kan?" Natasha tersenyum ramah. "Aku nggak apa-apa kok, Tante." "Tante nggak usah khawatir." Arumi mendengus kesal. "Mami lepasin aku!" "Aku benci lihat tuh cewek sok cantik!" Rina langsung menatap putrinya tajam. "Arumi!" "Jaga sikap kamu." "Mami nggak pernah ngajarin kamu bersikap sekasar ini." Mama Dela menghela napas pelan. "Arumi." "Tenang dulu." "Nanti Tante jelaskan semuanya." Suasana akhirnya sedikit mereda. Arka kembali menjalankan sandiwara mereka. Ia menarik sebuah kursi untuk Natasha dengan sikap yang begitu lembut. Namun... Saat Natasha hendak duduk... Arumi lebih dulu merebut kursi itu. Arka hanya tersenyum tipis. "Nggak apa-apa." "Kamu duduk di sebelah Mama aja yah sayang." ucapnya lembut sambil mengusap pelan pucuk kepala Natasha. Sikap Arka membuat Arumi semakin mendidih. “Awas aja lo, cewek alay. Gue bakal bikin lo malu di depan Tante Dela.” Batin Arumi Natasha hanya membalas tatapan itu dengan senyum tipis. Ia kemudian duduk di antara Mama Dela dan Arka. “Pantes aja nih cowok songong nggak mau sama dia. Kelakuannya aja kayak Mak Lampir.” Batin Natasha. Tak lama kemudian... Beberapa pelayan masuk membawa hidangan. Saat salah satu pelayan berjalan melewati Natasha... Arumi diam-diam mengulurkan kakinya. “Rasain lo, makan tuh kuah panas.” Batin Arumi Namun... Rencananya justru berantakan. "Ya ampun, Tante!" teriak Natasha spontan. Pelayan kehilangan keseimbangan. Semangkuk sup panas justru tumpah mengenai lengan Mama Dela. Mama Dela langsung meringis pelan. Arumi yang panik buru-buru berdiri. "Heh, Mbak!" "Gimana sih kerjanya?" "Bisa hati-hati nggak?" "Lihat tuh!" "Calon mertua saya sampai kena kuah panas!" Bentaknya kepada pelayan. Pelayan itu langsung pucat. "Maaf, Bu..." "Saya benar-benar nggak sengaja." "Udah, Arumi." Mama Dela menggeleng pelan. "Tante nggak apa-apa." Natasha segera mengambil beberapa tisu. "Tante." "Sebaiknya Tante bersihin bajunya dulu ke toilet." "Nanti takut bekas kuahnya susah hilang." Mama Dela mengangguk. "Iya." "Terima kasih, Asha." Natasha langsung membantu Mama Dela berdiri. Sedangkan Arumi hanya menggigit bibir bawahnya. ‘Kenapa malah Tante Dela yang kena! Mana tuh cewek alay malah kelihatan baik di depan semua orang!’ Sial!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN