Virian Pratama menutup ponsel satelitnya dengan satu sentakan kasar. Suara Zen yang mengabarkan kehancuran toko di Karta masih terngiang, membakar sisa-sisa kemanusiaan yang ia miliki. Mobil sedan hitamnya membelah jalanan protokol Nagaraja yang masih basah, melaju kencang menuju pusat gravitasi kekuasaannya: Menara PGG. Di depan gedung setinggi 80 lantai itu, barisan wartawan sudah mengerubung seperti lalat, namun Virian masuk melalui jalur bawah tanah yang paling rahasia. Langkah kakinya menggema di lorong beton yang dingin. Pakaiannya masih hancur, bercampur noda lumpur dan sisa cat merah, tapi ia tidak peduli. Ia melangkah masuk ke dalam lift khusus CEO. Begitu pintu lift tertutup, ia menatap bayangannya di cermin baja. Wajahnya pucat, namun matanya memancarkan sinar predator yang si

