simfoni iblis berwajah malaikat

1254 Kata

Suara detak jam dinding di ruang kerja CEO PGG yang biasanya terdengar tenang, kini seolah berubah menjadi dentuman palu hakim yang siap menjatuhkan vonis. Virian mematung di ambang pintu. Aroma cerutu Cohiba yang berat dan tajam memenuhi ruangan, mencekik paru-parunya. Di sana, di balik meja jati miliknya, Kael Pratama memutar kursi perlahan. Cahaya bulan dari jendela raksasa menyinari separuh wajahnya, memperlihatkan senyum yang begitu ramah—namun di mata Virian, itu adalah senyum sang malaikat maut. “Ruangan yang bagus, Virian. Lebih luas dari kamar lamamu di rumah Ayah,” suara Kael terdengar renyah, seolah mereka hanya dua saudara yang sedang reuni biasa. Virian mengepalkan tangannya hingga kuku jarinya menancap di telapak tangan. “Bagaimana kau bisa masuk? Sistem keamanan PGG—” “S

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN