“Mereka tidak mendengarku. Hanya kau yang bisa membantuku ….” Suara bisikan itu terdengar semakin intens di telinga Irhea. Pandangannya sedikit kosong ketika suara yang halus itu mencoba memengaruhi pikirannya. “Mendekatlah, Sayang ….” “Mendekatlah dan aku akan memberimu ganjaran yang setimpal.” Dorongan kuat untuk melangkah ke arah timur tiba-tiba merasuki hati dan pikiran Irhea. Namun, ada sisi lain juga yang mencoba menahannya. Tiba-tiba dia teringat pada peringatan pria asing itu sebelumnya, peringatan agar dia tidak mendengarkan suara-suara yang mungkin menggodanya untuk pergi. “TIDAAKK!” Irhea langsung berteriak sambil menggeleng kuat. Tubuhnya turun berjongkok, lalu memegangi kepalanya yang terasa berat dan berputar-putar. “Jangan bicara lagi! DIAAMM!” “Irhea, ada apa?” Eukela

