Tak selang lama setelah Irhea berteriak, cahaya yang lain melesat mendekat. Sosok manusia yang baru akhirnya muncul. Kali ini bahkan gerakan manusia itu tampak lebih kilat dan cekatan. Irhea melangkah mundur satu kali. Dia menatap manusia itu dengan dingin. Kelelahan dan kesakitan di seluruh tubuhnya sama sekali tidak dipedulikan. Sekarang dia harus bisa menghancurkan manusia palsu itu. “Hmmph! Manusia buatan sepertimu seharusnya kalah dari manusia asli sepertiku,” gumam Irhea dengan sedikit mengejek. Sebenarnya itu hanya untuk meyakinkan dirinya sendiri. Whosshh! Tanpa aba-aba, manusia itu melesat cepat ke hadapannya. Tangannya yang besar melayang hendak menghantam kepala Irhea. Gadis itu segera menghindar ke samping. Diambilnya batang kayu yang tergeletak di tanah untuk dijadikan sen

