DUA PULUH LIMA

1130 Kata

Waktu terasa sangat cepat. Bahkan Kinan masih tidak percaya, jika Kanu telah tiada. Mungkin anggapan orang yang pernah Kinan dengar, ada benarnya; orang yang akan pergi, diberi kesempatan hidup kembali hanya untuk berpamitan. Kinan memikirkan itu, dan hasilnya memang benar, jika ditimang-timang. Begitu banyak yang ia salahkan, tapi tidak akan pernah ada habisnya. Kesedihannya memang tidak bisa digantikan dengan kebahagiaan apapun. Tapi Kinan mencoba realistis, apa saja yang Tuhan ciptakan maka akan kembali pada-Nya. "Sayang, udah siap? Kita turun, ya. Pengajiannya udah mau dimulai." Bara sungguh tangguh. Meski Kinan sempat egois, memikirkan kesedihannya sendiri, tapi Bara tetap berdiri kokoh untuknya. "Iya, kamu duluan aja. Aku nanti ke Mama, kok. Soalnya di belakang pasti butuh orang b

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN