Bab 10.

1898 Kata
Pagi-pagi, saat aku sudah siap hendak ke kantor. Tiba-tiba ponselku kembali berdering. Sebenarnya aku malas membukanya. Aku khawatir itu Desti yang mencoba menghubungiku karena ingin bertemu. Parahnya, aku tak menyimpan nomor Desti, atau orang-orang yang bagiku belum terlalu penting dan ke depan belum tentu berinteraksi lagi, termasuk nomor Rizal. Biasanya hanya akan kusimpan setelah aku merasa benar-benar perlu dan kelak akan banyak berhubungan lagi. Tapi, tunggu! Jangan-jangan ini Rizal. Nomor memanggil masih berkedip-kedip di ponselku. Tak ada foto profil karena belum tersimpan di kontak. Aku juga bukan penghafal angka. Tak mungkin aku mengingat angka-angka nomor telpon. Segera kuusap tombol hijau di aplikasi itu. “Assalamualaikum!” Deg! Suara pria terdengar di ujung telepon. Tak sadar senyumku mengembang. Dadaku rasanya berdebar tak karuan. Aku sudah biasa menerima telpon dari pria untuk urusan pekerjaan. Namun, suara pria yang diujung sana, tentu saja bukan masalah pekerjaan. Karena aku mengenal suara bariton itu. “Kok salamku nggak dijawab?” Terdengar kembali suara yang membuat jantungku nyaris mau copot. Aku menutup mulutku menahan tawa. Aku sampai lupa tidak segera menjawab salamnya. Tak dapat kubayangkan bagaimana warna mukaku. Untungnya tak ada yang melihatku. Di kosanku, pagi-pagi begini semua sibuk. Satu persatu pun mulai berangkat ke kantor masing-masing. “Alaikumussalam warohmatullohi wabarakatuhu,” jawabku. Ponsel agak kujauhkan setelah aku menjawabnya, agar tak terdengar nafas yang tak beraturan ini. “Undangan dari Dini sudah diterima?” Suara Rizal dari seberang. Aku menghela nafas. Andai aku nggak mendengar langsung cerita dari Dini kalau mereka sudah pernah kontak, mungkin aku akan cemburu. Karena penyebutan nama Dini terdengar begitu akrab. Mungkin benar, aku memang orang yang kaku dalam pergaulan. Berbeda dengan Dini, adikku yang lebih luwes dan supel. Bisa jadi, karena adikku yang mengurus semuanya, jadi Rizal lebih sering berkomunikasi dengan Dini. Toh, memang aku menyerahkan semuanya pada Dini. Orang rumah pun melihatku seperti aku tak terlalu niat menikah. Aku cukup menurut saja apa yang dimaui oleh keluarga besarku. Apalagi, di keluarga besar ada Pakde dan Paklik yang selalu siap siaga mengurus semuanya. “Kok bengong, Neng?” Pertanyaan Rizal lagi-lagi membuyarkan lamunanku. Sekarang dia menambah kata "Neng" yang membuatku merasa tersanjung. Ah, panggilan itu terasa istimewa. Padahal, bisa jadi, bagi Rizal biasa saja. Beginikah rasanya jatuh cinta. Sesuatu yang biasa, menjadi terasa istimewa? “Eh, iya. Sudah. Sudah kubagikan malah,” jawabku sambil menutupi kegagapanku. “Hmm, kamu sudah nggak sabar, ya? Berarti sudah mantap, nih?” Suara Rizal terdengar menggodaku. Rasanya jantungku mau ambyar saat mendengar Rizal berbicara tidak terlalu serius. Hampir tak pernah dia bercanda denganku. Sejak SMA hingga kini, hal-hal kecil yang dilakukan Rizal padaku, benar-benar membuat perasaanku jungkir balik. Se-bucin itukah aku padanya? “Tih,--kamu masih di sana?” tanyanya lagi saat yang tersisa hanya keheningan di antara kami. Aku melirik ke luar jendela kamar. Panas semakin terik. Artinya hari sudah semakin siang. Meski kosan ke kantor hanya berjalan kaki, namun aku tak mau jalan dengan terburu-buru. “Zal, aku sudah mau berangkat. Ada apa lagi?” Aku sedikit pura-pura serius untuk menutupi kegugupanku. "Oh, iya. Maaf menganggu pagi-pagi. Nanti aku ke kantormu, ambil undangan. Masih ada sisa, kan?” tanya Rizal. “Eh, iya. Masih banyak,” jawabku berusaha senormal mungkin. Degup jantung belum juga mau netral. Padahal hanya menerima telepon seperti ini. “Siapa tahu saking senengnya, kamu bagiin ke tukang-tukang ojeg yang mangkal di belakang kantormu,” canda Rizal lagi. Terdengar derai tawanya olehku. Refleks aku pun ikut tertawa, tanpa suara. "Ohya, alamat kantormu ya. Nama kantormu dan lantai berapa. Kalau gedungnya, aku sudah hafal." Ucapan Rizal lagi-lagi membuatku GR. Bisa-bisanya dia mengatakan sudah hafal. Apa dia memata-mataiku? Bisa jadi, kan? Bukannya dia juga tempo hari tahu-tahu ada di depan kosanku? “Zal,--” Ragu aku memanggilnya. Aku teringat dengan telepon dari Desti kemarin. Haruskah aku minta ijin pada Rizal untuk menemuinya? Atau aku berinisiatif untuk menolak setiap ajakannya saja? “Hmm...” Suara sahutannya seperti itu, kenapa malah membuatku semakin bergetar. Kalau begini terus, aku bisa nggak kuat. “Desti minta ketemu aku lagi...." Aku ingin tahu reaksi Rizal, apakah dia akan setuju atau tidak. Tapi, tak ada sahutan. “Zal, kamu nggak usah khawatir. Aku sudah istikharah,” lanjutku usai terdengar desahan nafasnya yang mengisyaratkan ketidaksukaan. . Sepertinya dia berat mengijinkanku. Sepertinya dia masih menyimpan kekhawatirannya padaku. Dia khawatir kalau aku termakan ucapan Desti karena mantan istrinya itu bisa saja memanfaatkan putri mereka sebagai alasan, agar aku iba. “Tih, tak semua sebaik kamu. Ada orang-orang yang punya rencana lain dibalik sikapnya yang manis,”tutur Rizal kemudian. Sebaik aku? Tubuhku seolah terbang melayang mendengar ucapan Rizal. Senyumku tak henti mengembang. Rizal bilang aku baik? Aku segera menekan-nekan telingaku untuk menyadarkan kalau aku tidak salah dengar. Lalu aku menata hati untuk kembali melanjutkan percakapan, agar Rizal tidak curiga bahwa aku sukses dibuatnya salah tingkah. “Kita tak boleh berburuk sangka, Zal,” tukasku, terdengar normatif. Terdengar dari balik telepon, dia menghela nafas dengan kasar. Dia seolah berusaha menghalau kekesalan hatinya menghadapiku. “Zal, aku harus berangkat. Nanti disambung lagi, ya,” ujarku kemudian. Lalu kututup telepon itu sebelum persetujuan dari Rizal keluar. Aku biarkan dia berfikir. Toh, aku juga tidak buru-buru bertemu dengan Desti. Tapi, sepertinya aku harus menyimpan nomor Rizal agar tidak tertukar dengan nomor Desti. Aku berjalan lebih cepat dari biasanya. Biasanya tak sampai lima belas menit aku sudah tiba di kantor. Tapi, gara-gara telepon dari Rizal, aku harus keluar kosan lebih siang dari biasanya. “Ratih!” Tiba-tiba langkahku terhenti. Tepat di pintu gerbang belakang kantorku berdiri wanita cantik tinggi semampai. Gerbang belakang kantorku hanya buka di pagi dan sore hari saat jam pegawai keluar masuk. Jika sudah jam kerja, biasanya akan segera ditutup. Tak banyak yang tahu jika kantorku ada pintu belakang, kecuali karyawan dan orang yang biasa bekerja di kantorku. Tapi, wanita itu bisa tahu kalau aku tiap pagi lewat pintu ini? Luar biasa! “Ada yang penting?” tanyaku berusaha sedatar mungkin. Aku berusaha agar punya nilai tawar lebih di mata Desti. Bukan sebagai wanita kalah. “Kamu tidak membalas chatku,” ujar Desti. Dia mensejajari langkahku yang terburu menuju lobi gedung. Langkah kian kupercepat saat memasuki Gedung yang udaranya cukup adem, di banding di luar sana. Setelah menyapa satpam dan resepsionis, aku segera menuju lift. Beruntung sebelum lift ada pintu khusus pegawai. Kami harus mengetap kartu pegawai untuk masuk. Sementara tamu harus menggunakan kartu pass yang harus diminta pada resepsionis. Sebenarnya, aku bisa saja membantu Desti dengan membuka akses dengan kartuku dan mengakuinya sebagai tamu di kantor kami. Tapi, aku malas. Tak kupedulikan Desti yang masih melambaikan tangannya minta diijinkan masuk. Maafkan aku, Desti. Aku pura-pura tak mengenalinya saat masuk lift bersama rombongan pegawai lainnya. Gedung kantorku ini terdiri dari beraneka kantor yang menyewa di gedung yang sama. Jadi, meski satu gedung, kalau tidak bekerja di kantor yang sama, kami juga tak saling mengenal. Rupanya, Desti bukan orang yang gampang putus asa. Baru sepuluh menit aku mendudukkan badan di kursi kerja, dia sudah menampakkan batang hidungnya. Bagaimana bisa satpam juga mengizinkan dia masuk? “Aku mau bicara padamu,” bisiknya. Aku melirik kanan kiri. Teman-temanku semua sibuk. Sementara Desti seenaknya sendiri masuk ke ruang kerjaku. Aku yakin, orang seperti Desti ini pasti bisa melakukan apa saja untuk mencapai tujuannya. Termasuk masuk ke dalam ruang kerjaku. “Aku sedang bekerja,” sahutku. Dalam hati aku berharap atasanku segera keluar dan menampakkan dirinya. Agar aku punya alasan untuk menghindari Desti. Tapi, di luar dugaan, Desti malah beranjak dari depan meja kerjaku. Dengan percaya diri, dia mengetuk pintu ruang atasanku dan masuk ke dalam ruangan itu. Entah apa yang dikatakan pada Pak Amir, buktinya, atasanku itu malah keluar dan berjalan menuju ke mejaku. “Ratih, tolong selesaikan urusannya dulu. Nanti pekerjaannya biar dihandel sama Cintya,” ujar Pak Amir terdengar bijak. Terlihat senyum licik penuh kemenangan tersungging di wajah Desti. Benar kata Rizal, aku tak boleh hanyut dengan sikap manisnya. Aku hanya bisa menarik nafas, sebelum kemudian mengangguk pada Pak Amir. Ada rasa tak enak pada atasanku ini. Ini jam kerja. Desti malah mengangguku untuk sesuatu yang bukan urusan kerja. Padahal selama ini aku berusaha keras untuk menjaga profesionalitas. Setelah Pak Amir berlalu, melirik sekilas pada Desti dengan tatapan yang entahlah. Mungkin terlihat kesal, aku tak peduli. Biar Desti juga paham, aku tak sebaik yang dia kira. Meski kata-kata Rizal tentang kebaikanku sempat membuatku melambung, aku tak peduli. "Bisa ngomong di tempat lain? Kantin misalnya?" usul Desti saat aku mengajaknya ke luar. Di luar ruang kerjaku ada sofa yang biasa untuk menunggu klien atau tamu yang akan rapat atau bertemu dengan atasan kami. Dengan ogah-ogahan, aku mengajaknya ke kantin. Dengan lift, kami turun ke basemen. Ada kantin di sana. Kalau pagi-pagi begini, yang ada hanya menu sarapan. “Ada apa, sih, Mbak?” tanyaku. Usai Desti memesan dua cangkir capucino. Satu buatku, dan satu lagi untuknya. “Aku sudah bilang. Aku akan memberitahumu siapa Rizal,” sahut Desti. Pandanganya mengedar ke sekeliling kantin. Karena hari masih pagi. Hanya ada yang jual bubur ayam dan lontong sayur serta kopi. Sedangkan stand lainnya masih tutup. Biasanya, para pedagang akan datang setelah jam 10 pagi. “Cepat beritahu. Aku banyak kerjaan,” sahutku tak sabar. Bukan tak sabar mendengarkan apa yang hendak dibicarakan padaku. Tapi, aku tak sabar kembali ke kantor dan meninggalkannya. Bisa saja, aku sudah terpengaruh dengan ucapan Rizal tentang Desti. Awalnya, aku menilai positif mama Sasti ini. Dia terlihat baik dan berkelas. Namun, gara-gara aku mengorek tentang alasan Rizal bercerai dengan mantannya ini, dan sepertinya Rizal berhasil mempengaruhiku, perasaanku pada Desti sontak menjadi subjektif. “Rizal itu orangnya pencemburu. Dia posesif. Dia akan membatasi ruang gerakmu jika kamu sudah menjadi istrinya,” tukas Desti. Aku menaikkan satu alis mataku. Nggak ada informasi yang membuatku wow. Kalau hanya ini saja, aku sudah tahu. Bahkan, sejak dia naksir Dewi saja, sudah kelihatan kalau dia itu posesif dan pencemburu. Sifat seperti itu, biasanya dibarengi dengan membatasi ruang gerak pasangan. “Oke. Ada lagi?” tanyaku. “Tak sesederhana yang kamu kira, Ratih. Dia akan mencecar kemana saja kamu pergi dan dengan siapa,” lanjutnya. Aku meraba-raba maksud ucapannya. Dia mencoba meyakinkanku dengan memberikan sudut pandang negatif tentang Rizal. Sepertinya Desti mencoba menakut-nakutiku agar aku mundur. Sayangnya aku bukanlah pribadi yang suka kebebasan. Aku pun tak suka keluar rumah dan pergi dengan laki-laki asing. Sehingga, alasan dicecarpun tak terlalu merisaukan bagiku. Apakah Rizal akan cemburu jika aku bertemu Nadia, tentu saja tidak. Apalagi temanku hanya itu-itu saja. “Sudah?” tanyaku. Secangkir capucino yang ada di hadapanku baru kusesap sedikit, karena masih panas. “Kamu jangan egois Ratih. Aku ingin kembali kepada Rizal demi Sasti. Apa kamu mau menjadi duri di antara kami?” Huff, aku menghela nafas. Ini sudah kuduga. Dia akan menjadikan Sasti sebagai alasan, agar aku iba padanya. Agak kontradiktif dengan alasan sebelumnya. Dia mengatakan kejelekan Rizal, tapi ingin kembali pada laki-laki itu. Lalu, alasannya berubah menjadi Sasti. Bukannya ini tampak mengada-ada? "Maaf, Mbak. Tentang Sasti, itu bukan urusanku. Itu urusan Mbak Desti dengan Rizal. Silahkan selesaikan baik-baik. Aku rasa, ini nggak ada hubungannya dengan rencana pernikahanku dengan Rizal. "Hei, apa maksudmu? Apa kamu akan menyingkirkan Sasti setelah kalian menikah?" "Dengar baik-baik kata-kata saya, Mbak. Mbak Desti tetap menjadi mama Sasti. Kalau pun saya menikah dengan Rizal, Sasti akan menjadi putri sambung saya. Dan saya nggak akan menghalangi hubungan seorang ibu dengan anak kandungnya. Jadi, nggak akan ada istilah duri dalam rumah tangga kami. Kecuali Mbak Desti yang akan menjadi duri itu, jika terus mengusik kami."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN