Sepuluh abad telah berlalu, namun manusia terus menjadi tawanan para makhluk durjana. Ribuan nyawa telah mencekik nafas terakhirnya akibat ancaman para iblis. Iblis yang haus akan daging manusia, hajat akan kuasa yang tak terperi.
Roh jahat selalu haus akan darah manusia. Mereka tak jauh berbeda dengan manusia, namun khususnya warna matanya serta tubuhnya dapat berubah menjadi asap putih kapan saja.
"Ramiel Alastair"
Semua orang berdiri dari tempat duduk mereka setelah mendengar panggilan dari pimpinan De Viarka, Lark Benjamin
Lokasi menunjukan di sebuah aula dalam gedung pelatihan milik organisasi De Viarka di kota Veii tepat nya pada saat upacara mempersembahkan tingkat pangkat untuk salah seorang anggota De Viarka.
"Ramiel Alastair, berkatmu, banyak manusia yang berhasil berpelunjur dari kesulitan yang ditimbulkan oleh iblis dan roh jahat. Maka, menjadi hakmu untuk menghadapi tantangan yang jauh lebih besar. Gunakanlah kekuatanmu untuk membantu melindungi umat manusia".
Para Hadirin bersatu semangat dengan menempelkan kedua tangan mereka dan memejamkan mata dengan harapan yang terbaik bagi Ramiel. Semoga dengan seluruh usaha yang disiapkan dapat membawa keselamatan bagi umat manusia dari bahaya iblis dan roh jahat.
.
.
.
"De viarka," suaranya lembut dan candu.
Seiring terdengarnya suara lantunan teriakan manusia yang perlahan terbakar hidup hidup, kedua kakinya mulai menyusun bentuk dengan gerakan yang perlahan dan halus. Lengan panjang miliknya ikut bergerak, melengkung ke atas seperti sayap burung yang ingin terbang. Tubuhnya ikut bergerak mengikuti irama yang dilantunkan para manusia yang menjadi mangsa api.
"De Viarka benar benar luar biasa," ucapan ramah keluar dari bibirnya disertai beberapa irama gerakan bibir yang dibentuk menjadi senyuman tipis.
De Viarka organisasi yang luar biasa dan terdengar sangat pantas menerima pujiannya. Selanjutnya tidak hanya itu saja, mereka akan menerima keberuntungan yang sangat luar biasa di masa yang datang nanti dan seterusnya.
Angin kencang menyerbu, memunculkan helai-helai panjang rambut miliknya untuk terbang. Rambut tersebut berkibar bagai mutiara yang bersinar saat terkena sinar rembulan yang menerobos menerangi seisi hutan itu. Matanya terbuka, memperlihatkan 2 warna pigmen bola mata yang berbeda dengan satu sama lain. Kedua bola mata tersebut tampak bersinar cerah saat ditimpa cahaya bulan.
Warna biru yang menghiasi bola mata itu seperti pedalaman jaladri yang amat dalam.
Bahkan juga dapat memberikan kesan yang sangat sejuk seperti langit pada awal hari ketika fajar mulai merah menyala dan cahaya matahari mulai menerobos ke permukaan bumi.
Laut selain menjadi simbol kedamaian, dapat menimbulkan kekacauan saat ukuran ombak yang jauh lebih besar dibanding biasanya. Perubahan dari kondisi langit yang cerah menjadi gelap dan ditunjukkan dengan rintik-rintik air yang deras serta disertai suara guruh dapat membawa pengganggu pada beberapa aktivitas manusia.
Suara jeritan manusia yang begitu keras pada awalnya secara perlahan mulai meredup, menunjukkan perubahan suasana setelah tarian indah Liszynia veron berhenti. Aroma daging yang tengah dibakar saat itu sangat menyengat hidung menjadi sangat tajam dengan menyebar dan menjalar ke setiap sudut hutan tersebut. Daging yang tengah dibakar memang memakan waktu yang terlalu lama sehingga menjadi bahan makanan yang kurang lezat untuk disantap.
"Sebetulnya aku sendiri ikut menjadi penyebab kenapa makan malamku sendiri hancur," Liszynia terlihat mengelap gaun putih panjang miliknya yang meluncur sampai ke tulang keringat dari lututnya. Melepas semua daging yang sudah hangus, ia membereskan diri dan kemudian berjalan menyusuri pohon-pohon yang tinggi dan panjang menuntunnya ke hutan yang sangat jarang terlihat manusia, apalagi saat perutnya sudah sangat lapar.
Di sepanjang jalan di dalam hutan yang jarang saja terlihat manusia, ada beberapa hewan-hewan liar yang tengah berkeliaran sekitar tempat itu. Liszynia tidak akan mungkin mau menyantap hewan liar begitu saja. Apabila ia memakan hewan ber-akal seperti manusia maka akan ada penambahan kecerdasan pada iblis karena kepintaran di otak manusi. Jadi, hewan-hewan liar yang tidak ada akal pikiran tidak pantas menjadi makanan bagi Liszynia.
Liszynia kemudian dengan cepat memutuskan untuk kembali ke istananya. Lagi pula, ia tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga untuk mencari makanan tersendiri karena setiap hari pasti akan menerima kiriman makanan dari yang terbaik, Tuan Manía. Mungkin itu juga alasan yang tepat untuk membunuh beliau.
Makan malamnya sudah terakhiri. Kemudian, ia akan mandi dengan air yang sudah hangat, sembari beristirahat dibawah cahaya bulan yang memberikan sedikit penerangan dibanding kegelapan ruangan. Ini menjadi kebiasaan yang selalu dijalani Liszynia sebelum terlelap pada sarang tempat tidur yang nyaman miliknya.
Ruangan khusus untuk aktivitas sebelumnya tertata dengan sangat indah. Setengah terbuka dengan tidak adanya atap, cahaya bulan yang begitu indah tersebut ikut berfungsi sebagai sumber pencahayaan untuk ruangan tersebut. Liszynia tidak lagi memerlukan sumber cahaya lainnya selain cahaya bulan yang begitu indah.
Kolam dengan bentuk seperti koin emas yang begitu besar tersebut berada tepat dibawah cahaya bulan. Bentuannya juga sangat elegan dengan warna hitam pada atapnya serta warna putih untuk dinding serta ada di seluruh bagian istana.
Liszynia membawa dirinya menjadi tenggelam dalam kolam tersebut sembari terus bersenandung dengan suara yang begitu merdu yang selalu ada saat menarik napas untuk bernapas.
.
.
.
"Kakak, mohon agar diperbolehkan kepada saya untuk menikmati suara yang sangat indah milikmu sekali lagi. Aku mohon untuk anda bersenandung lagi".
Senyuman polos dan manis yang diciptakan oleh para gadis kecil di saat mereka merasa sangat bahagia menjadi senyuman terindah di dunia.
Saat itu Liszynia baru saja berusia tujuh tahun ketika terlihat senyuman manis dan polos di wajahnya.
Dia membuka kedua mata miliknya dengan sangat lebar sampai terlihat benang merah yang begitu jelas pada bola mata miliknya. Kedua mata miliknya itu kemudian tertuju pada bulan yang berada di atas langit. Kemudian, ia berkata dengan nada suara yang sangat lembut, seperti merdu yang sangat menenangkan,"Ah, rupanya saya tertidur lagi."
to be continue...