DL-28

1424 Kata
Dia memilih untuk kembali ke ruangan Konstantin Field untuk berganti kostum. Pustin harus melakukan eksekusi 2 sesi hari ini. Sesi pertama pagi menjelang siang, sudah dilakukan. Sesi kedua akan dilakukan menjelang sore. Dan Pustin menjadi eksekutor pertama yang akan menggunakan gas chamber sebagai cara eksekusi. Pustin bersiap di ruangan Konstantin Field. Dari jendela, dia melihat melalui jendela samping ke-4 jasad dari narapidana tersebut dibawa ke area peternakan hewan Abodie In Hell. Ketika melihatnya, Pustin tiba-tiba mual dan hendak muntah. Ke-4 jasad narapidana tersebut di lemparkan ke peternakan tersebut. Dengan cepat semua jasad itu menjadi rebutan puluhan hewan liar di sana. Dalam sekejap, Pustin melihat bahwa jasad narapidana sudah tidak bersisa. Rasa mual menggelayutinya. Namun Pustin coba menahannya. Bahkan untuk minum saja, Pustin sedikit merasa trauma. Memang pekerjaan sebagai eksekutor ini menantang nyali. Banyak orang yang tidak sanggup menjalaninya dan keluar menjadi salah satu pasien rumah sakit jiwa. Pustin tidak mau kejadian itu menimpa dirinya. Aku harus kuat, harus! Beberapa saat kemudian. Marco mempersiapkan semua keperluan untuk eksekusi di gas chamber nanti sore. Semua perlengkapan dan juga peralatan sudah siap sedia. Tidak lama kemudian Pustin menghampiri Marco di ruang gas chamber. “Hei, Marco. Kau yang bertugas menyiapkannya?” tanya Pustin kepada Marco. “Hei, Pustin. Kau sudah selesai mengerjakan eksekusi sesi pagi?” tanya Marco. “Ya. Aku sudah melakukannya.” Pustin menghela nafas, “Marco, apakah semua jasad diletakkan di peternakan?” Marco menoleh ke arah Pustin, “Kau baru tahu? Semua jasad para pemberontak akan dilemparkan ke peternakan. Termasuk jasad Nicholas Louisette.” “Kenapa mereka tidak diberikan kepada keluarganya?” tanya Pustin. “Raja dan Perdana Menteri tidak mau jasad mereka menjadi simbol perlawanan bagi para pemberontak. Jadi lebih baik dimusnahkan saja. Dan nanti kepala mereka juga akan dilempar ke peternakan itu,” jawab Marco lagi. Pustin hanya terdiam. Dia berlalu dari ruang gas chamber tersebut. Perutnya terasa berputar dan akhirnya dia memuntahkan lahar yang sudah menggelora sejak tadi. Tidak ada yang tahu dan memang seharusnya sudah seperti itu. Pustin harus bersikap kuat dan juga bermental baja. Dia yakin semua ada prosesnya. Eksekusi sesi sore sudah akan dimulai. Ruangan gas Chamber ini berukuran cukup kecil. Hanya 1,5 meter x 1,5 meter. Sementara di seberang ruangan ini terdapat ruangan lebih besar yang banyak berisi tempat duduk. Pustin sudah siap berdiri di dekat ruangan yang berisi alat untuk melepaskan gas. Sementara di pintu seberang Pustin berdiri, tempat narapidana disiapkan. Tidak berapa lama para pejabat dan bangsawan serta Jenderal Arthur memasuki ruangan yang berisi tempat duduk. Rupanya itu adalah tempat para pejabat menyaksikan eksekusi. Ada beberapa wartawan yang datang. Sosok yang dikenal Pustin muncul, Carol Powell. Dia datang dan menjadi salah satu wanita yang hadir di sana bersama 3 wanita lainnya yang merupakan istri dari bangsawan yang ikut dalam proses eksekusi ini. Tidak lama kemudian, 8 narapidana masuk ke ruang tunggu. Mereka masuk sudah dalam keadaan tidak berbusana. Para sipir memaksa mereka masuk ke dalam ruangan tersebut. Terdengar teriakan dan penolakan dari para narapidana. Namun usaha mereka tidak berhasil. Ke-8 narapidana tersebut sangat kaget bahwa ada penonton yang menyaksikan eksekusi mereka. Lagi-lagi teriakan penipu dan juga menantang para bangsawan dan juga pejabat terdengar. Salah seorang pria berteriak dan menunjuk-nunjuk seorang bangsawan dari balik kaca, “Kau akan masuk neraka. Aku akan menghantuimu! Kau tidak akan tenang!” Pustin menunggu aba-aba dari petugas. Setelah semua pintu terkunci, Pustin membuka pipa penyalur gas itu masuk ke dalam ruangan. Mereka tidak sadar bahwa proses eksekusi sudah dimulai dan masih menghina dan mengancam para pejabat dan bangsawan yang dibalas dengan tawa licik dan tepuk tangan seolah mereka sedang menonton teater. Tidak lama kemudian para narapidana ini merasakan gas menyentuh kulit, mata, hidung dan indera lainnya. Sontak membuat mereka berteriak minta tolong. Mereka minta pintu ruangan dibuka. Meronta dan juga berteriak hanya bisa mereka lakukan. Namun upaya itu sia-sia karena ruangan yang kecil membuat mereka tidak bisa bergerak dan sesak. Proses eksekusi gas chamber ini sangat lama. Para narapidana tidak langsung tewas. Namun justru para bangsawan dan pejabat menyukai hal tersebut, penyiksaan kepada narapidana dan rakyat kecil menjadi hiburan mereka. Sementara Pustin dan Carol hanya memandang proses eksekusi tersebut dengan rasa tidak nyaman. Beberapa saat kemudian. Pustin, Carol dan Eddie duduk di restoran yang sama seperti terakhir mereka bertemu. Di tempat duduk yang sama. Namun kali ini raut muka mereka jelas tidak sama seperti terakhir bertemu. Wajah-wajah depresi dan juga terkejut terlihat dari Pustin dan Carol. “Kau tidak bisa membayangkan bagaimana sakitnya mereka, Eddie,” kata Carol menunduk memegang kepalanya. Terlihat dari sudut matanya mengeluarkan air mata. Pustin hanya terdiam. Dia masih terngiang-ngiang bagaimana sekaratnya para narapidana itu sebelum akhirnya tewas secara mengenaskan. Mereka mengetuk kaca jendela ruang penonton. Mereka yang semua mengumpat ingin membunuh para pejabat dan bangsawan, sedetik kemudian berubah memohon ampunan dan belas kasihan mereka. Menyedihkan. “Kita harus segera mencetak ini, Eddie. Segera!” teriak Carol yang tampak depresi. “Tenang, Carol. Tenangkan dirimu,” jawab Eddie, “apakah se-mengerikan itu, Pustin?” Pustin terdiam sesaat. Dia mencoba merangkum kata untuk menggambarkan pemandangan mengerikan di depannya tadi, “Apa kau pernah menangkap tikus di dalam sebuah piring besi dan membakarnya?” Eddie cukup kaget mendengarnya, “Ya. Aku pernah mencobanya.” Pustin terdiam lagi lalu berkata, “Mereka seperti tikus-tikus itu.” Eddie terbelalak kaget. Dia mulai mengerti kenapa Carol begitu histeris. Dia yang datang ke Abodie In Hell untuk melihat langsung bagaimana proses eksekusi, pasti sangat histeris. “Mereka harus segera dihentikan, Eddie. Sudah tidak manusiawi,” ucap Carol masih terngiang-ngiang bayangan tadi. Sebuah penghukuman tidak manusiawi. “Pustin, ada informasi terbaru apa dari Abodie In Hell?” tanya Eddie sudah menyiapkan kertas untuk mencatat semua informasi dari Pustin. “Vito adalah rajanya,” ujar Pustin. “Maksudnya?” tanya Carol dan Eddie berbarengan. “Semua keputusan dan juga penunjukkan hukuman di tangan Vito. Bukan hakim.” Pustin menghisap cerutunya. Untuk pertama kali dia menghisap cerutu kembali setelah berhenti cukup lama. Kehidupan di Abodie In Hell yang menguras pikirannya, membuat Pustin cukup stress. Dan di sinilah dia bisa menghisap cerutu yang didapat dari Abodie In Hell. “Vito Maggio? Sekuat itukah kekuasannya?” tanya Carol yang tidak percaya cerita Pustin. “Ya. Sekuat itu. Bahkan Perdana Menteri Patton tunduk kepada dia. Termasuk raja,” jawab Pustin. “Vito memegang kepala mereka. Semuanya. Tidak ada yang terlewat di negeri ini. Dia adalah raja sebenarnya,” lanjut Pustin. “Vito memang tidak tersentuh. Kasusnya yang membuat detektif kepolisian yang mengusut kasusnya dan jaksa yang menuntutnya bernasib mengenaskan,” balas Eddie. “Bukankah detektif itu dimutasi?” tanya Pustin lagi. “Ya. Dan terakhir aku dengar dia tewas mengenaskan,” jawab Eddie yang membuat Pustin kaget. “Dan jaksa itu masih dalam keadaan koma,” timpal Carol berbicara mengenai nasib jaksa penuntut kasus Vito. “Ternyata bukan hanya itu saja kekuatan Vito,” gumam Eddie. “Abodie In Hell penuh dengan kepalsuan. Finn Lewis, salah satu sipir di sana, dia adalah kepala sipir sesungguhnya.” Pustin melanjutkan ceritanya. “Berhenti, Pustin! Kepala sipir? Tidak mungkin. Jones Wesley adalah kepala sipir di Abodie In Hell. Aku pernah mewawancarainya sewaktu masih di media Daily Routine,” sanggah Carol. “Percaya atau tidak itu terserah kalian. Tapi itu kenyataannya di Abodie In Hell. Finn Lewis yang mengatur semuanya. Jones Wesley hanya corong Finn dan Vito untuk berbicara kepada publik apa yang terjadi di Abodie In Hell sesuai karangan mereka,” lanjut Pustin. Carol dan Eddie menatap Pustin. Mereka tidak mau percaya dengan apa yang terjadi. Tapi Pustin cukup meyakinkan mereka tentang hal ini. “Gedung belakang itu tempat para pejabat dan bangsawan b*****h yang hidup enak. Di situ Finn yang mengatur. Sementara di gedung depan, yang selama ini kita lihat dari kejauhan, adalah penjara bagi narapidana kelas menengah,” jelas Pustin. “Kehidupan yang jauh berbeda,” balas Eddie menyandarkan punggungnya di kursi. “Gedung depan, tidak ada air panas, makanan penuh dengan pasir, kecoa dan tikus, dinding dan lantai yang dingin ketika musim dingin tiba. Dan masih banyak keburukan lainnya.” Pustin mengeluarkan sebuah kertas, “ini list apa saja fasilitas dan kejadian yang terjadi di gedung depan Abodie In Hell.” Eddie mengambil list tersebut yang bisa dibilang mirip buku. Dia membukanya dan matanya terbelalak dengan isinya, “Ini luar biasa Pustin. Cukup untuk membuat 1 koran berisi Abodie In Hell.” Eddie menyerahkan buku itu ke Carol yang tidak kalah terkejut. “Dan ini adalah list untuk gedung eksklusif Abodie In Hell. Aku rasa ini sudah cukup untuk membuat masyarakat mengetahui apa yang terjadi di negeri ini,” jawab Pustin yang dibalas senyuman Eddie dan Carol.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN