DL-19

1149 Kata
Pustin merasa beruntung dia mendapatkan petunjuk tersebut. Ketika itu Pustin hanya ingin membaca buku. Dan buku itu yang menarik perhatiannya. Sungguh beruntung nasibnya. “Ujian terakhir kemarin adalah ketika kalian bertiga menyantap makan malam. Shelby dan Morcant gagal. Namun Pustin berhasil memakan santapan yang sudah disediakan.” Kolonel Horton melanjutkan ceritanya, “ceritakan, Pustin.” Pustin kaget ketika Kolonel Horton memintanya untuk bercerita mengenai kisah mengerikan semalam. Namun dia tidak berani membantah perintah Kolonel Horton. “Semalam kita makan malam dengan hiasan kepala Brabham yang termutilasi,” cerita Pustin. Kisah tersebut membuat semua peserta bergidik ngeri. Mereka tidak bisa membayangkan bagaimana bisa menikmati makan malam dengan potongan kepala dari orang yang baru saja mati di meja tersebut. “Ujian ini dimaksudkan untuk melatih mental kalian. Setiap pekan, setiap hari, kemungkinan besar kalian akan melakukan eksekusi. Salah satunya adalah dengan memenggal kepala. Jika kalian muntah atau tidak selera makan, bagaimana kalian bisa melaksanakan tugas,” jelas Kolonel Horton membuat semua peserta terkejut. Kolonel Horton mengambil gulungan kertas dari tangan Letkol Herbert. Dia kemudian membukanya. Lalu menunjukkan kepada para peserta. “Hari ini, di aula Abodie In Hell nanti siang akan digelar eksekusi salah satu terpidana mati. Dia adalah penjahat yang nyaris melukai Perdana Menteri kita. Aku minta kalian semua pergi ke sana dan melihat proses eksekusi tersebut. Sekarang bubar. Siapkan diri kalian.” Kolonel Horton keluar dari ruangan. Sementara peserta lain mulai berbisik-bisik mengenai perintah Kolonel Horton yang meminta kepada mereka guna melihat proses eksekusi. Pustin sendiri hanya terdiam. Di sisi lain dia ingin melihat proses eksekusi dan berharap bisa melihat Mavra Scott di sana. Di penjara Abodie In Hell. Semua petugas meminta kepada para narapidana untuk sarapan di kantin. Sementara Finn dan Marco menuju ke ruang tahanan Mavra. Dilihatnya Mavra meringkuk dan menggigil. “Bangunkan dia. Waktunya sarapan,” perintah Finn kepada Marco. Marco segera masuk ke dalam ruangan tahanan Mavra, “Hei, Mavra. Cepat bangun. Ini waktunya sarapan.” Mavra dengan lemas mencoba untuk bangun. Akan tetapi kakinya cukup lemas untuk bangkit. Beberapa kali Mavra berusaha, dan beberapa kali itu pula dia terjatuh. “Marco, kau bawa dia ke kantin. Waktu kita semakin sempit. Nanti siang ada proses eksekusi,” perintah Finn yang mau tidak mau harus dilaksanakan Marco. Marco menggendong Mavra untuk dibawa ke ruang kantin. Semua narapidana melihat kondisi tubuh Mavra yang sangat lemas dan kurus. Kemudian Marco membawa sarapan penjara ke hadapannya. Dengan tangan gemetar Mavra menyendok dan memasukkan makanan penjara tersebut. Suapan pertama membuat Mavra meneteskan air matanya. Penyesalan, kekecewaan dan juga rasa lapar yang akhirnya terobati, bercampur menjadi satu. Para narapidana lain berbisik-bisik membicarakan Mavra yang telah membunuh Terios. Gosip ini sampai ke telinga Mavra. Akan tetapi Mavra tetap diam. Dia tiada daya dan upaya untuk melawan mereka. Mengangkat sendok saja, Mavra cukup kepayahan. Adalah satu orang narapidana yang berjalan menuju ke arah Mavra. Dengan mata yang tajam, dia berkata kepada Mavra, “Apa benar kau yang membunuh Terios?” Mavra hanya diam. Dia menoleh ke arah sumber suara. Namun kembali fokus untuk menghabiskan sarapannya. Narapidana ini sangat tersinggung Mavra tidak menjawabnya. Kemudian dia menarik baju Mavra dan hendak memukulnya. Tiba-tiba Finn melihatnya dan menembak kepala narapidana ini hingga dia tewas tepat di depan Mavra. Di sisi lain. Pustin dan peserta lainnya sudah bersiap untuk berangkat ke Abodie In Hell. Mereka sudah berada di omnibus untuk berangkat ke pelabuhan dan menggunakan kapal menyeberang ke Abodie In Hell. Kolonel Horton dan beberapa pasukan juga ikut ke dalam ekspedisi ini. Para peserta tidak bersuara sedikitpun. Ekspedisi yang harusnya menyenangkan namun tidak untuk ekspedisi ini. Karena ekspedisi ini adalah untuk melihat proses eksekusi narapidana yang terhukum mati. Para peserta yang terdiam tampak diperhatikan oleh Kolonel Horton, “Kalian gugup melihat proses eksekusi?” Tidak ada yang menjawab pertanyaan Kolonel Horton. Mereka ragu-ragu untuk menjawab. “Apa kalian sudah pernah melihat eksekusi terpidana mati sebelumnya?” tanya Kolonel Horton lagi. Pustin mengangkat tangan. Begitu juga Shelby. Hanya ada 4 orang yang pernah melihatnya. “Pustin, kau melihat eksekusi di mana?” tanya Kolonel Horton kepada Pustin. “Penjara Abodie In Hell, Kolonel,” jawabnya singkat. Kolonel Horton mengangguk pelan, “Jadi kau sudah tidak terlalu asing dengan eksekusi.” “Perlu kalian ketahui, pemerintah sedang membahas untuk menambah pilihan proses eksekusi. Ada beberapa usulan untuk mengeksekusi narapidana tergantung keputusan hakim,” lanjut Kolonel Horton. Mendengar penjelasan itu semua peserta heran. Melihat eksekusi dengan guillotine saja mereka sudah cukup ngeri dan mual. Apalagi jika ditambah dengan eksekusi lain. “Sekarang eksekusi hanya ada 2 pilihan. Dengan digantung atau dipenggal memakai guillotine,” lanjut Kolonel Horton. “Lalu proses apalagi yang akan ditambahkan, Kolonel?” tanya Pustin memberanikan diri. “Gas Chamber. Seperti yang kau rasakan kemarin,” lanjut Kolonel Horton. Pustin cukup kaget mendengarnya. Dia bisa merasakan bagaimana sakit dan perihnya ketika terkena gas tersebut. Para narapidana tentu akan tersiksa dengan pedih. “Gas Chamber yang akan digunakan ada di Kirkham. Dan sedang dilakukan penelitian serta pengembangan lebih lanjut. Pemerintah sudah setuju dengan proses itu.” Kolonel Horton menambahkan informasinya. “Ijin, Kolonel. Gas Chamber tidak bisa membunuh seketika. Berbeda dengan guillotine dan menggantungnya,” jelas Pustin. “Benar. Pemerintah ingin narapidana yang terbukti bersalah dan melawan pemerintah, akan merasakan perih dan pedih yang luar biasa sebelum akhirnya tewas,” jawab Kolonel Horton semakin membuat para peserta bergidik ngeri. “Dan Gas Chamber itu tidak akan diisi oleh 1 orang saja. Melainkan beberapa orang akan masuk dan dieksekusi bersamaan,” lanjut Kolonel Horton. “Pemerintah sedang membuat Gas Chamber berukuran kecil dan akan dibawa ke Abodie In Hell dalam waktu dekat,” timpal Letkol Hustings. “Hustings sudah pernah melihat proses uji coba kepada hewan,” tunjuk Kolonel Horton yang dibalas anggukan dari Letkol Hustings. Pustin terdiam. Dia merasakan bahwa pemerintah semakin sadis dalam mengeksekusi para penjahatnya. Semua peserta sudah sampai di lapangan aula Abodie In Hell. Terdapat banyak bangsawan dan juga para pejabat yang menyaksikan proses eksekusi ini. Peserta seleksi mendapatkan tempat duduk di barisan belakang. Sang algojo sudah berada di atas panggung. Sebagian penonton memberikan tepuk tangan untuk para algojo yang mengenakan topeng itu. Tidak lama kemudian dua narapidana terhukum mati naik ke atas panggung. Pria dengan rambut panjang sebahu tampak gagah dan tidak takut menghadapi eksekusi tersebut. Sementara pria dengan badan lebih besar dan tinggi terlihat raut wajah takut dan pucat. Salah satu sipir naik ke atas panggung dan siap membacakan hukuman dan dakwaan kepada narapidana tersebut. Pria pertama yang berambut panjang sebahu dibawa sipir untuk tidur di guillotine. Kemudian sipir membacakan dakwaannya. “Nicholas Louisette! Mendapatkan hukuman mati karena terdakwa membangkang dan memberontak kepada pemerintah yang sah. Nicholas Louisette memilih dihukum mati menggunakan guillotine,” ujar petugas sipir tersebut. “Apakah ada kata-kata terakhir yang ingin kau ucapkan, Louisette?” tanya sipir itu sebelum proses eksekusi. “Lenyaplah-kalian pejabat dan bangsawan pemakan uang rakyat-kalian tidak akan hidup tenang! Aku tidak memilih hukuman ini!” teriak Nicholas Louisette terus berteriak dan mengulangi perkataannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN