Aku ingat semua

1139 Kata
Di sebuah kereta yang sedang melaju kencang, Asih tak kuasa menahan air matanya setelah mendengar berita bahwa Ayahnya sudah tiada. Sepanjang jalan dia membanjiri pipinya dengan air mata. Furqon yang menemaninya hanya bisa menenangkannya, dia bingung untuk melakukan apa, apa lagi mereka baru berkenalan kemarin. Namun duka Asiih tak mereda, Furqon mengira bahwa Asih sangat mencintai Ayahnya, namun apa yang dirasakan Asih justru perasaan bersalah yang amat besar. Dia tak bisa menjadi anak yang Ayahnya itu harapkan, bahkan Asih pernah mengusir ayahnya karena dia mabuk. Mereka sampai di stasiun kampung halaman Asih, dia berusaha bangkit dan meneguhkan hati untuk menerima semua kenyataan ini. Dia tak tahu apa yang akan dia lakukan setelah ini, yang pasti usahanya untuk membawa lelaki soleh untuk dijadikan suaminya itu menjadi sia-sia. “Kenapa? padahal aku ngerasa waktuku masih lama karena berhasil mendapatkan calon suami dengan waktu yang singkat.” Asih tidak menyesali usahanya, yang dia sesali adalah perbuatan nya kepada Ayahnya. Furqon membantu Asih untuk melangkah keluar dari kereta. “Ka Furqon, Sepertinya pernikahan kita batal, maaf udah jauh-jauh bawa kaka kesini. Sekarang kaka bisa kembali ke Jakarta. Nanti aku beliin Tiketnya.” dengan mata yang sembab, dan pipi yang basah Asih melakukan perpisahan pada Furqon. “Tidak, Aku akan menemanimu ke rumah.” Furqon bukanlah lelaki yang setega itu, apalagi dia baru melihat perempuan yang menangis dengan rasa kehilangan yang sangat dalam, Hatinya tergugah, dia tidak bisa meninggalkan wanita dengan kondisi seperti itu sendirian. Ditambah, kampung Asih ini mengingatkan akan ingatan masa kecilnya yang hilang akibat trauma. Walaupun ingatan itu muncul dengan samar-samar. Dia Pun mengantarkan Asih kerumahnya, walau sepanjang jalan kepalanya mengalami sakit kepala yang dahsyat namun singkat. Rasanya seperti Ada kilatan listrik di kepalanya namun dengan cepat kembali hilang. Dia merasakan bahwa semakin dia pergi ke kampung Asih semakin ingatan yang hilang itu terbuka. Sampailah Asih di rumahnya, namun tak ada seorangpun disana. Seseorang memberitahu Asih bahwa Ayahnya sekarang dalam proses penguburan. Asih bergegas ke pemakaman walaupun dengan rasa kesal. “Kenapa mereka tidak menunggu kepulanganku, padahal cuman dua jam mereka memberi tahuku sebelum Abah meninggal.” Asih terus menggerutu sepanjang perjalanan ke makam, dengan langkahnya yang lebar dan cepat membuat Furqon tertinggal. Benar saja, proses penguburan telah selesai tanpa menunggu kehadiran Asih. Tertancap sebuah nisan yang terbuat dari kayu yang bertuliskan nama Ayahnya Asih. Dia pun memeluk nisan itu dan menangis dengan kencang. Furqon menepuk pundaknya dan meminta Asih untuk meridhoinya. Orang-orang di makam keheranan melihat ada orang yang mereka tidak kenali, Furqon merasa canggung dengan kejadian itu. Lalu dia membuka tangan nya dengan posisi berdoa, Dia memimpin doa untuk Abahnya dan diikuti oleh orang-orang disana. Asih terheran dengan apa yang dilakukan oleh Furqon, padahal dia bisa pulang sekarang juga, tapi dia mendampingi Asih seolah dia suaminya Asih. Sungguh calon suami yang mengagumkan, idaman semua wanita. berbeda sekali dengan lelaki yang dulu dipacari oleh Asih. Walau sesaat tapi Asih menginginkan Furqon tetap berada di sisinya. Doanya pun terkabul, Furqon terus berada di sisinya. Dia bahkan menginap dan membantu keluarga Asih untuk tahlilan, mulai dari mempersiapkan Makanan sampai memimpin doa untuk mendiang, Furqon lakukan tanpa meminta imbalan apapun. Satu minggu sudah Furqon berada di Rumahnya Asih.Selain membantu keluarga Asih untuk tahlilan, dia juga memakmurkan masjid yang berada di kampungnya. Sehingga kegiatan shalat berjamaah yang biasanya dipimpin oleh Abahnya Asih tidak terputus dan sekarang digantikan oleh lelaki yang Asih dibawa dari kota. Dalam sepekan Furqon menjadi bahan obrolan warga disana, tentu saja obrolan yang positif dimana Asih telah mendapatkan Calon suami yang diidam-idamkan dan digadang-gadang bisa menjadi pengganti Ayahnya Asih. Dia bahkan dipuji karena dia bisa menaklukkan Asih yang dahulu tomboy menjadi seorang muslimah yang selalu memakai kerudung dimanapun dia berada. Dalam satu minggu itu furqon sempat mengelilingi kampung itu, perasaan familiar yang ada di benaknya membuat dia mengalami sakit kepala. Mungkin itu respon dari memori yang muncul dan bertabrakan dengan memori trauma. Dia terus berjalan menahan rasa sakit di kepalanya, hingga tibalah dia di sebuah tebing dan tiba-tiba sakit kepalanya pun menghilang. *** Di suatu pagi, ketika Furqon membereskan rumah, Asih menghampirinya dan memulai percakapan. “Ka, makasih banyak ya, sudah melakukan semua ini demi Aku. Padahal aku memaksa kakak untuk kesini namun apa yang Kakak lakukan tak bisa aku balas dengan apapun.” “Sama-sama, ga usah dipikirin. I.Allah saya ridho melakukan semua ini.” Jawab Furqon dengan senyumnya yang ramah. “Sekarang sudah seminggu setelah kepergian Abah, Jika kakak ingin kembali ke Jakarta, sekarang sudah tak ada lagi yang kaka khawatirkan.” “Kamu tahu wanita yang aku sukai sejak dulu?” “Kenapa ka? apa hubungan kaka jadi hancur gara-gara ngebantu Aku?” “Engga, Saya pernah bilangkan bahwa ingatan masa kecil saya hilang.” “Iya ka, karena kakak trauma kan?” “Iya, namun sejak saat itu Saya hanya mengingat sosok wanita yang saya sukai semenjak saya berusia sepuluh tahun. Tapi semenjak itu saya tak pernah bertemu kembali dengan dia. karena ingatan yang lain hilang, saya bahkan tak bisa mengingat namanya.” “Jadi belum ketemu ka sampai sekarang? untung saja aku ga nyari dia waktu maksa kakak buat kesini.” “Iya haha, bahkan dulu saya pernah mengira bahwa sosok gadis itu hanyalah ilusi karena trauma saya. Namun saat kita berkenalan aku melihat sosok gadis itu di dalam diri kamu, Apalagi setelah sampai disini, ingatan Saya semakin terbuka.” “Apa mungkin kaka adalah orang yang aku pikirkan?” tanya Asih. “Kemarin saya ke tebing yang ada di atas perkebunan Abah. Disana Saya mengingat dengan jelas kejadian yang hampir merenggut nyawa Saya. Saya teringat seorang lelaki tua berbadan tinggi besar menyelamatkan Saya dan memeluk saya.” “Ka.. ga mungkin….! “Iya Asih, Pria tua itu memeluk kamu dan menyebut namamu dengan nama Asih.” Asih meneteskan air mata, ternyata Furqon adalah anak kota yang dulu pernah melakukan uji keberanian dengan Asih. Dia tak menyangka pahlawan masa kecilnya itu ada dihadapannya. Air matanya mengair deras karena terharu, mungkin kah ini takdir yang Allah gariskan kepada Asih. “Aku gak nyangka bisa ketemu lagi sama kamu.” Ucap Asih dengan air mata di pipinya. “Aku juga gak nyangka.” dia mengusap air mata dipipi asih dengan selembar tisu. “Makasih yah sudah menolong aku waktu itu, Aku sungguh ingin berterima kasih sama kamu. Sejak dulu aku menunggu kehadiranmu untuk berterima kasih. Akhirnya kesampaian juga setelah lima belas tahun lamanya.” “Asih, aku senang berada di sini. namun sekarang aku harus pulang.” “Iya ka, justru Asih minta maaf karena keseharian kaka pasti terganggu dengan membantu aku di sini.” “Maaf ya Allah, Aku harus pulang untuk mempersiapkan semuanya.” “Mempersiapkan apa?” “Maafin aku Asih," bukan aku tak menghargai dukamu, Bulan depan aku akan kembali kesini, membawa keluarga ku untuk melamar kamu.” “Me.. me.. me… melamar?” “Iya Asih, Aku ingin menikah dengan kamu.” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN