RUMAH BORDIL MARIA BINTI FATIMAH
Haji Faisal pun membungkukkan ke badannya tanda penghormatan dan membawa uang itu. Setelah memastikan haji Faisal pergi dan pintu ruangan tertutup, Maria tersenyum getir. Dia berbicara pada dirinya sendiri.
"Entahlah surga mana yang dimaksud tua bangka itu! Apakah pantas orang sepertiku masuk surga?" gumam Maria.
"Sebenarnya siapa yang gila? Aku atau tua bangka itu? Sebenarnya Mereka ini sadar atau tidak? Mereka tak sudah tahu atau kah berpura- pura tak tahu bahwa rumah ini adalah rumah bordil VIP. Rumah bordil Maria Binti Fatimah," gerutu Maria sendiri.
Rumah pellacuran atau bordil adalah tempat yang digunakan untuk pellacuran atau prostitusi. Di sini pellacur dapat bertemu dan berhubungan seks dengan pelanggan mereka. Di beberapa tempat, rumah pelacuran dapat beroperasi secara legal. Selain itu di beberapa negara, panti pijat dapat digunakan sebagai bordil. Rumah pellacuran tempat para pellacur dipaksa bekerja tanpa diperbolehkan untuk keluar, hanya memperoleh sebagian kecil uang dari mucikari. Hal ini biasanya berlangsung dengan perdagangan manusia di negara-negara yang melarang pellacuran.
Memang banyak jenis rumah bordil, namun rumah bordil Maria ini beda. Ada jenis rumah pelacuran tempat pellacur adalah pegawai, menerima gaji tetap dan sebagian uang dari pelanggan. Rumah pellacuran tempat pellacur membayar sewa untuk fasilitas, dan mucikari tidak terlibat dalam transaksi antara pellacur dan pelanggan. Beberapa negara yang memperbolehkan pellacuran adalah Belanda, Jerman, dan Selandia Baru. Karena rumah pelacuran dapat beroperasi dengan legal, mereka dapat diatur (misalnya diberi syarat uji kesehatan), dibatasi (misalnya tidak boleh dekat sekolah), dan ditarik pajak.
"Aku ikhlas- ikhlas saja tapi apakah tak masalah? Entahlah. Biar Tuhan saja yang menilainya, dia meminta sumbangan dan mendoakan ku untuk masuk surga, rupanya dia ingin bermain-main dengan Tuhan. Apakah dia anggap Tuhan itu sebagai lelucon? Entahlah bagaimana bisa ada manusia seperti itu. Wanita yang memiliki jalan pikirannya tak bisa diduga dan tak bisa disangka," sambungnya.
Maria melihat ke arah jam di sudut ruangan, jam besar yang kokoh terbuat dari kayu jati. Jam itu masih menunjukkan pukul tiga sore. Dia berjalan ke kamarnya yang terhubung dengan pintu rahasia di ruang kerjanya. Tak sengaja saat berjalan dia melihat tanggalan atau kalender yang menggantung. Beberapa hari lagi waktunya dia pulang untuk menemui neneknya yang tinggal berlainan kota.
Jangan tanya apakah sang nenek mengetahui pekerjaannya ini atau tidak. Jelas jawabannya tidak, yang dia tahu Maria cucunya adalah wanita baik-baik, bekerja di kota besar dengan penghasilannya mengagumkan. Maria juga di kenal sebagai wanita yang dermawan, rendah hati, dan tidak sombong. Begitupun dengan warga sekitar, Maria menyimpan semua rahasianya ini sendiri. Besok adalah jam besuk Maria ke rumah sakit Menur yang memang tak jauh dari rumah bordilnya.
'Ting' satu pesan masuk di HP pribadinya. Maria segera mengambil hp miliknya, satu pesan masuk dari seorang lelaki, salah satu petinggi perusahaan yang bergerak di bidang minyak. Satu-satunya orang yang bisa menyentuhnya.
"Apakah hari ini adalah hari sial ku? Mengapa para bajiingan itu menghubungiku di saat bersamaan. Ck! Para tua bangka ini yang menggangguku," keluh Maria.
Dia segera menghela napasnya panjang untuk mengontrol emosinya. Jari jemarinya yang lentik lalu memencet nomor telepon yang baru saja mengirimkan pesan untuknya. 'Tut' langsung tersambung.
"Ada apa?" tanya Maria langsung sesaat setelah telpon di angkat.
"Aku merindukanmu sayang, bisakah kita bertemu besok? Kebetulan aku ada beberapa project di Surabaya. Bukankah itu artinya kita bisa menghabiskan beberapa hari di sana? Kita bisa bersenang-senang berdua. Aku memiliki koleksi wine terbaru yang pasti kau suka, khusus aku belikan dari luar negeri untukmu," jawab nya.
"Besok," sahut Maria.
"Baiklah kalau begitu. Aku akan menunggumu di tempat biasa, Baby binal ku. Aku suka cara bermain mu," puji lelaki itu dari seberang.
'Tut' tanpa menjawab Maria langsung mematikan telponnya. Dia menuju ke lemari kaca, tempatnya menyimpan semua koleksi wine nya. Dia mengambil sebotol red wine dan gelas sloki kecil, Maria menuangkan isi botol itu dan meminum sampai tegukan terakhir dari sloki mungilnya. Dia menghabiskan sisa red wine terakhir. Mari melangkahkan kakinya ke ruang kerja kembali sambil membawa Hp nya.
Saat membuka pintu ruangan, dua body guard siap berjaga di luar. Sayup- sayup terdengar suara bising lagu dan suara karaokean yang masih jelas terdengar dari ruang tamu lantai satu. Dia berjalan melangkahkan kakinya keluar, melihat semua dari lantai duanya.
"Mereka sampai jam berapa?" tanya Maria pada dua body guard nya.
"Sampai jam lima sore, Mami," jawab Sumarno.
"Setelah itu kau bersihkan semua! Kosongkan. Malam ini akan ada tamu spesial, siapkan lima botol black label dan jack D," perintah Maria.
"Kentang goreng? Nugget?" tanya Sumarno.
"Lengkap! VVIP Luxury," sahutnya.
Maria kembali memandangi dua lelaki paruh baya yang sedang terlena dengan keindahan dunia. Mereka merasakan gelora muda dengan di temani kedua wanita penghibur yang nampak kontras sekali umurnya. Ya, mereka biasa bersenang- senang dahulu sebelum 'membungkus' mereka. Biarlah Maria tak ingin turun karena mereka bukanlah pelanggan VIP nya. Biasanya dia akan keluar untuk sekedar memastikan para tamunya mendapatkan pelayanan VIP terbaik dari tempatnya. Maria tak segan melayani tamu nya sendiri untuk sekedar menuangkan atau mengambilkan minuman jika kurang.
Dia sangat menjamu tamunya dengan baik, karena itu room VIP miliknya masih menjadi primadona di kota Surabaya. Tamunya rela antri untuk reservasi jauh- jauh hari agar bisa menikmati bernyanyi di room miliknya. Maria mematok dengan harga lumayan mahal dan hanya membuka dua kali layanan dalam sehari sejak pukul 13.00 WIB- 17.00 WIB, lalu sesi kedua di mulai pada jam 22.00 WIB – 03.00 WIB dengan tarif Rp. 10.000.000 per paket. Mahalnya harga yang di patok Maria sangat sebanding dengan fasilitas yang di berikan.
"Apakah mereka menambah layanan bungkus?" tanya Maria.
"Sepertinya tidak, Mami," jawab Sumarno.
"Kosongkan kamar bawah satu saja. Aku akan membujuk barang baru dari Cindy untuk Om Burhan. Bagaimana menurutmu?" usul Maria.
"Rasanya itu bukanlah ide buruk, Mami," kata Sumarno.
"Carikan aku kartu AS wanita itu!" perintah Maria.
"Siap," ucap Sumarno lantang.
Maria melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan kerja lagi sambil tersenyum sinis. Wajah cantik itu menampakkan senyum licik. Sedangkan Sumarno menghela nafasnya panjang. Dia memandang nanar ke arah punggung Maria.
"Anak baik yang salah jalan, sungguh kasihan melihatnya berusaha tegar sendiri di tengah tekanan yang menggila. Semoga Gusti Allah akan menuntun dia ke jalan yang benar," gumamnya lirih.
APA YANG TERJADI SEBENARNYA? SIAPA SEJATINYA SUMARNO?
BERSAMBUNG