Ilvira berpikir jika seharusnya delapan tahun lebih kepergiannya dari tempat ini, mampu membuat semua rasa yang pernah ia miliki tak lagi terasa. Rumah ini berubah. Ibu Seno merubah warna catnya, tata letak perabot, bahkan mengganti kasur yang ada di dua kamar hunian milik mendiang kedua orangtuanya.
Hunian yang delapan tahun lebih ia tinggalkan dan ditinggali orang lain ini, seharusnya mampu membuat atmosfir dan rasa hunian ini berubah. Ilvira tak lagi harus merasakan bagaimana kepedihan kala ayahnya tiada dan ia resmi menyandang yatim piyatu.
Taman kaktus yang dulu menjadi tempat kesukaan ayahnya, kini berubah menjadi deretan pot berisi aglonema dan sansivera. Ilvira yakin, itu semua juga pasti ibu Seno yang menata ulang taman depan terasnya. Secara tampilan, rumahnya sudah berubah banyak dari saat ia lulus SMA dan memutuskan untuk pindah ke Bandung demi menenangkan hatinya yang terasa pilu.
Sudah satu minggu lebih ia menempati kembali rumah ini, tetapi aroma kepedihan itu nyatanya masih terasa kental. Memori saat ia menerima kabar dari Seno jika ayahnya meninggal di rumah sakit, membuatnya kembali merasa jika hidup terlampau mencekokinya dengan takdir pahit. Ditambah, tiga bulan setelahnya ia harus mau menerima kalimat penolakan dari Seno yang mengabarkan jika pria itu akan menikahi seorang guru TK.
“Mas Seno harusnya tahu kan, kalau Ivy sayang sama Mas Seno. Kenapa Mas malah pilih bu guru itu? Kenapa gak pilih Ivy?”
Sembilan tahun lalu ia memberanikan diri mengutarakan kalimat itu di depan Seno, saat pria itu mengabarkan jika akan menikahi perempuan yang menjadi kekasih Seno beberapa bulan terakhir. Hati Ilvira seketika takut dan kalut. Ia merasa kembali ditinggalkan oleh orang yang ia sayang. Setelah ayahnya pergi menyusul ibunya ke surga, mengapa sekarang Seno yang akan pergi ke pelukan wanita lain?
“Ilvira mau jadi istrinya Mas Seno. Ivy sudah lulus SMA sebentar lagi dan bisa jadi istrinya Mas Seno.”
Entah apa yang ada di pikiran Ilvira versi gadis belia saat itu. Ia secara tegas dan yakin meminta Seno untuk memilih dan menikahinya, alih-alih sibuk mencari universitas dan memilih jurusan. Bukan sambutan hangat yang ia terima, Seno justru tertawa ringan seraya mengusap lembut kepalanya sambil mengucapkan penolakan telak yang membuat hatinya remuk redam hingga beberapa tahun kemudian.
Ilvira menghela napas panjang. Sembilan tahun lalu yang memalukan. Ia tak akan mengulangi sikap impulsifnya dan akan menjaga diri juga harga dirinya sebagai seorang wanita. Ia sebatang kara, seorang diri, meski sebenarnya masih memiliki keluarga. Keluarga jauh yang nyaris tak menganggapnya ada. Delapan tahun di Bandung untuk kuliah dan kerja, nyatanya tak membuat satu pun keluarga pihak ibunya menanyakan kabar atau datang mengunjunginya. Justru ibu Seno yang tiga kali datang ke Bandung untuk merawatnya saat ia sakit tipus dan wisuda.
“Kakak, jangan ke sana! Nanti Ayah marah.”
Ilvira menoleh pada asal suara. Dua anak yang sepertinya hendak masuk ke pekarangan rumahnya, tetapi ragu. Senyum Ilvira terukir geli. Mereka anak-anak Seno dengan mendiang istri pria itu.
“Tapi pesawat kertasnya nyangkut di rak pot itu, Dek. Kita harus ambil.”
Ilvira kini melirik pada rak pot teras rumahnya. Ada origami pesawat di salah satu pot aglonema dan sepertinya benda itu yang sedang dicari oleh cucu wanita yang mengasuh dan menyayanginya hingga kini.
Ilvira melangkah dari ambang pintu yang ia sandari sejak tadi. Ia mengambil origami itu, lantas membuka pagar dan tersenyum pada dua bocah yang menatapnya dengan malu dan takut. Senyum Ilvira terlengkung manis sambil menyodorkan origami pesawat yang diterima oleh salah satu dari mereka.
“Kalau mau main di rumah Tante, masuk saja.” Ilvira menyodorkan satu tangannya kepada mereka. “Kita belum kenalan, ya? Aku Ilvira. Panggil saja Ivy.”
Tak ada balasan jabat tangan. Kedua bocah itu hanya mengerjap pelan dengan gestur takut dan sungkan. Ilvira yang paham jika mungkin anak kecil seperti mereka diajakrkan oleh ayahnya untuk tidak mudah akrab dengan orang yang tidak dikenal.
“Rumah Tante boleh kalian pakai untuk main, kok.” Ilvira berdiri dari jongkoknya, lalu membuka lebar pagar rumahnya. “Masuk, yuk!”
“Tidak, Tante, terima kasih. Kata Ayah, kita tidak boleh ganggu tante yang menempati rumah ini.” Bocah sulung itu menjawab tawaran Ilvira dan berhasil membuat hati perempuan itu terkejut. Sebentar, jadi ... Mas Seno sudah pernah membahas dirinya bersama anak-anak ini?
“Ganggu? Tante gak merasa diganggu, kok,” kilah Ilvira masih dengan senyum manis dan wajah yang ceria.
Anak itu mengangguk. “Ayah bilang, kami tidak boleh lagi main di rumah ini. Tidak boleh mengganggu tante pemilik rumah ini. Tidak boleh lagi pakai teras untuk main masak-masakan lagi. Pokoknya tidak boleh ganggu dan dekat-dekat rumah ini.”
Ilvira mengerjap dengan wajah bingung. Apa maksud Seno dengan petuah-petuah konyol itu? Menganggu? Tidak ada tetangga yang merasa terganggu hanya karena anak-anak lucu ini bermain pesawat kertas atau masak-masakan. Lagipula, Seno itu menganggap Ilvira apa, siapa, hingga merasa jika anak-anaknya harus menjaga jarak dengannya. Bukankah ibu Seno sendiri yang berkata bahwa mereka itu keluarga? Bahwa Ilvira sudah dianggap anak sendiri oleh wanita itu? Kenapa Seno justru bersikap begini?
“Tante ... gak apa kalau kalian main di rumah ini. Rumah tante besar dan Tante hanya sendiri. Jadi, jika mau main, buka saja pagarnya dan masuk. Di kulkas Tante juga ada banyak minuman dan camilan. Jika ke sini, kalian boleh ambil apa saja. Jangan sungkan.”
Anak-anak itu tak lantas menjawab, tetapi hanya diam dengan wajah yang Ilvira yakin mulai tertarik dengan tawarannya. Seno harus tahu jika sembilan tahun lalu hanyalah masa lalu dan sekarang ia bukanlah Ilvira yang takut ditinggalkan pria yang ia sayang. Ia akan membuktikan bahwa Ilvira yang sekarang adalah sosok kuat dan mandiri, bukan lagi gadis manja yang selalu butuh Seno setiap hari.
“Masuk, yuk! Kita makan siomay buatan Tante, mau?”
Si bungsu mengangguk dan maju, tetapi si sulung menahan langkah adiknya. “Nanti kalau Ayah marah gimana?”
“Ayah tidak akan marah.”
Wajah anak-anak itu mulai ragu, tertarik datang, dan akhirnya melangkah mendekati pagar rumah Ilvira. Namun, belum sampai pagar itu Ilvira tutup, suara Seno terdengar tegas memanggil anak-anaknya, hingga dua bocah kecil itu berbalik serentak dan lari menuju rumah mereka.
Ilvira menatap Seno yang masih berada di atas motor matik pria itu. Merasa agak terganggu dengan sikap Seno, Ilvira memutuskan untuk melangkah mendekati pria yang masih mengenakan seragam khas guru. Seragam yang dulu membuat Ilvira bangga pada sosok Seno dan jatuh cinta kepadanya.
“Salah Ivy apa, Mas? Kenapa anak-anak tidak boleh main ke rumah Ivy?”
Seno membuka helmnya dan meletakkan benda itu. “Saya tidak mau mereka mengganggu kamu. Anak-anak saya itu ... aktif dan saya takut bisa saja merusak benda milik kamu.”
“Mereka bahkan belum sempat masuk. Bagaimana Ivy bisa tahu apa mereka seperti yang Mas katakan atau tidak? Di sini, yang Ivy tangkap justru Mas Seno yang meminta mereka untuk menjaga jarak dengan Ivy, tanpa Ivy tahu mengapa mereka tidak boleh mengenal tetangganya sendiri.” Mata Ilvira menatap Seno dengan tajam dan tegas. Peduli setan jika yang sedang bincangkan adalah anak Seno sendiri. Ivy hanya tidak terima jika Seno menjauhinya hingga seperti ini.
“Saya tidak bermaksud begitu,” elak Seno dengan nada lembut dan sopan. “Maaf jika kamu akhirnya menangkap kesan seperti itu. Saya sungguhan hanya mencegah anak-anak merusak apapun yang ada di rumah kamu.”
Seno tersenyum kepada Ilvira. Senyum lembut yang Ilvira yakin sebagai bentuk permohonan maaf, karena gestur yang pria itu tampakkan adalah canggung dan sungkan. Sialnya, semua itu membuat hati Ilvira berdesir dan jantungnya berdebar.
Enggan tampak salah tingkah, Ilvira mengangkat dagunya dan menatap Seno dengan ketus. “Tolong jangan ciptakan citra Ivy, seakan Ivy adalah perempuan yang jahat dan suka bersosial dengan siapapun.” Lalu ia berbalik dan kembali masuk rumah.
Ilvira menutup pintu rumahnya, lalu menyandarkan tubuhnya pada daun pintu itu. Ia mengambil napas panjang dan mengembuskannya pelan melalui mulut. Seno sudah tua, sudah banyak perubahan yang tergambar di wajahnya. Namun, entah mengapa Ilvira selalu tersihir oleh senyum dan tatapan mata pria itu. Tatapan mata tegas, tajam, namun penuh pengayoman yang selalu berhasil membuat Ilvira merasa nyaman.
Tidak. Ia tak boleh jatuh cinta pada Seno, meski hatinya memang masih menyimpan satu nama pria itu. Kali ini, ia harus cari cara untuk bisa bertahan dan menolak segala pesona yang Seno miliki.
*****