Part 08. Selalu Merepotkan

2176 Kata
Sudah dua jam Langit pergi meninggalkan Dhealova sendirian di dalam unit apartemen miliknya. Gadis itu kini masih duduk di sofa, ia merasa kelaparan sekarang, perutnya sudah berdemo minta di isi. "Lapar sekali," gadis itu mengusap perutnya yang lapar. "Tuan galak itu kemana ya? Dasar tidak bertanggung jawab, mengurung orang tapi menyiksanya tidak mau memberi makan, di dapur juga tidak ada makanan untuk di masak. Sial sekali nasibku." ujar Dhealova, gadis itu bicara sendirian. Ia mengembuskan napas kasar, lalu membaringkan tubuhnya di atas sofa sembari memegang perutnya. Tiga puluh menit kemudian Langit datang. Laki-laki muda itu masuk ke dalam apartemen dengan membawa dua paper bag besar. Langit langsung saja menuju ke ruang tv, di sana ia melihat Dhealova sedang berbaring meringkuk sembari memegang perutnya. Ekspresi wajah Langit seketika berubah saat melihat Dhealova. Dengan cepat ia berjalan mendekat ke ruang tv, "Hei. Bangunlah, apa pekerjaan kamu sudah beres?" ucap Langit, ia meletakkan dua paper bag itu di depan Dhealova. Langit berdiri, kedua tangannya berada di pinggang. "Eh. T-tuan, maaf tuan saya lapar, di dapur tidak ada makanan sama sekali." ucap Dhealova lirih, gadis itu seakan tidak punya tenaga lagi. Langit diam saat mendengar ucapan gadis itu, laki-laki muda itu baru ingat kalau sejak kemarin ia lupa belanja keperluan dapur, laki-laki itu setiap hari makan di cafe, berangkat pagi pulang malam, kadang juga ia makan di rumah tuan Indrawan ayahnya. "Huh. Selalu Merepotkan, ini pakaian buat kamu, walau tidak banyak tapi bisa kamu pakai." Langit mendorong paper bag yang ada di atas meja ke depan Dhealova. "Terima kasih tuan," gadis itu mengambil paper bag itu dan membukanya, ia melihat ada beberapa pakaian, semuanya bagus, ada jeans, bluse dan juga ada beberapa dres mini. Tapi Dhealova masih juga mencari- cari sesuatu di dalam paper bag itu. "Maaf tuan, kenapa ini saja? Em ... Maksud aku, i-itu, pakaian dalam nya kenapa tidak ada?" ucap Dhealova malu kalau ia mau menyebutkan nama pakaian dalam. "Apa? Uhuk, uhuk. Kau! Kenapa selalu merepotkanku saja, bukannya menguntungkan malah merepotkan." Langit menggelengkan kepalanya, laki-laki itu benar-benar pusing sekarang, baru kali ini ada seorang gadis yang berani memakai pakaiannya dan sekarang meminta pakaian dalam padanya, mimpi apa Langit semalam bisa bertemu dengan gadis seperti ini. Langit menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia merasa sangat pusing, benar- benar pusing. Sejenak ia diam dan berpikir, lalu menatap Dhealova yang masih sibuk melihat baju baru nya. "Ayok." Langit menarik tangan gadis itu tanpa bicara sedikitpun. Dhealova yang tahu bagaimana sifat Langit, iq hanya bisa diam saat Langit menarik tangannya. Saat keluar dari apartemen baru gadis itu menyadari kalau dirinya keluar hanya memakai kemeja putih milik Langit yang panjang bawahnya di atas lutut. "T-tuan, sebenarnya kita mau kemana? Kenapa keluar dari apartemen?" Langit hanya diam tak menjawab pertanyaan Dhealova. Laki-laki muda itu terus berjalan dan menarik tangan Dhealova. "Tuan, saya malu keluar memakai pakaian ini saja, tuan kita mau kem..." tiba-tiba Langit berhenti dan melihat Dhealova yang selalu protes sedari tadi. Dengan cepat Langit melepas jaket yang di pakainya dan melemparnya pada Dhealova, lalu di tangkap oleh gadis itu. Tanpa banyak bicara lagi Dhealova segera memakainya. Langit hanya diam, karena kepala laki-laki itu benar-benar pusing dan ingin meledak sekarang. Setelah melihat Dhealova sudah memakai jaket miliknya baru Langit kembali berjalan keluar dari apartemen menuju halaman di mana mobil miliknya terparkir di sana. Setelah sampai di depan mobil, Langit segera masuk ke dalam, ia masih menunggu Dhealova yang berjalan dengan pelan karena gadis itu benar-benar kelaparan tidak ada tenaga untuk berjalan. Dengan susah payah ia menyusul Langit yang sudah berada di dalam mobil. Dhealova membuka pintu depan dan saat ingin duduk Langit segera menoleh ke arahnya. "Kau mau apa di sini?" tanya Langit dengan tatapan membunuh, mata laki-laki itu melotot saat melihat Dhealova duduk di sampingnya. "Siapa yang menyuruhmu duduk di sini? Tempatmu di belakang sana." "Oh, i-iya maaf tuan." Dhealova turun lalu masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang. Kemudian Langit mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, wajah laki-laki itu juga terlihat sangat marah sekarang, tapi mau bagaimana lagi ini semua sudah menjadi tanggung jawabnya, apalagi mereka berdua sudah sama-sama menandatangani surat kontrak yang tidak bisa di batalkan sebelum hutang gadis itu lunas. Mobil milik Langit kini melaju di tengah jalan raya kota ini, banyak kendaraan yang kini ia lewati, Dhealova hanya bisa diam saja karena gadis itu takut kalau Langit akan lebih marah lagi. Dua puluh menit kini sudah berlalu, mobil milik Langit kini kini berhenti di sebuah cafe miliknya. Langit memarkirkan mobilnya di halaman. "Cepat turun." Kata Langit, lalu ia keluar dari mobilnya dan di ikuti Dhealova. Saat melihat cafe ini gadis itu tidak tahu kalau cafe ini milik Langit. Dhealova hanya mengekori saat Langit berjalan masuk. Mata Dhealova sibuk melihat sekeliling cafe, Langit dengan cepat berjalan menuju dapur. "Selamat pagi mas Langit, ada yang bisa saya bantu?" tanya salah satu karyawan laki-laki yang bekerja di cafe milik Langit. "Pagi. Kamu tanya gadis yang ada di sana, dia mau makan apa, berikan makanan yang dia minta oke, gue mau ke atas dulu." perintah Langit. "Iya mas," Lalu karyawan laki-laki itu berjalan menghampiri Dhealova yang masih sibuk melihat cafe ini. "Selamat pagi kakak, ada yang bisa saya bantu? Tanya pemuda itu. Dhealova masih belum mengerti, ia ke sini di ajak oleh Langit dan ia tidak membawa uang sepeserpun. "Eh, em ... tidak pesan, aku kesini di ajak sama tuan galak tadi, aku tidak bawa uang," ucap Dhealova dengan ekspresi takut, karena memang gadis itu tidak membawa uang. "Maksudnya kakak mau pesan makanan apa gitu kak?" Lagi- lagi gadis itu tidak mau. "Maaf, aku tidak punya uang untuk membayar makanan." Kakak mau mau pesan makan apa? Cafe ini milik mas Langit, kakak mau makan apa biar nanti kami buatkan?" pemuda itu menjelaskan pada Dhealova sembari tersenyum. "Oh..." gadis itu mengangguk. Ia baru tahu kalau Langit adalah pemilik cafe ini, pantas saja laki-laki muda itu tidak pernah makan di rumah, karena kerjanya saja di tempat yang banyak makanan seperti ini. "Silahkan kakak duduk di sebelah sana dan melihat daftar menu." ajak pemuda itu, ia menunjukkan tempat duduk kosong untuk Dhealova. Gadis itu berjalan mengekori pemuda yang bekerja di cafe milik Langit, "Silahkan kak ini buku menunya," ucap pemuda itu saat melihat Dhealova duduk. "Iya, terima kasih," gadis itu membuka buku menu dan melihat- lihat daftar makanan yang ada di sana. Pemuda itu masih berdiri di samping Dhealova menunggui gadis itu memilih daftar menu. Setelah beberapa saat akhirnya gadis itu selesai memilih menu makanan untuk ia sarapan. "Aku mau makan ini, ini dan ini, minumnya ini ya," Kata Dhealova sembari menunjuk gambar menu yang ada di buku itu. "Iya kakak, mohon tunggu ya, kami akan menyiapkan makanan itu untuk kakak. Permisi." lalu pemuda itu berjalan pergi meninggalkan Dhealova. Gadis itu sedikit kagum pada Langit, seorang laki-laki muda yang sudah bekerja dan mempunyai usaha sendiri, berarti ia bukan laki-laki manja, tapi kenapa Nona itu bilang kalau laki-laki itu manja. 'Tuan Langit,' batin Dhealova. Gadis itu mengangguk pelan. "Hah. Apa? Bagaimana mungkin tadi aku memikirkan tuan galak itu? Ish enggak boleh Dhea, kamu enggak boleh memikirkan tuan galak itu lagi hish." gadis itu bicara sendiri sembari menggelengkan kepalanya dengan cepat. Kruk, kruk. Suara perut Dhealova kembali terdengar. "Lapar sekali aku, kenapa makanannya lama sekali ya?" Setelah beberapa saat menunggu akhirnya makanan yang Dhealova pilih sudah datang. Dua orang yang bekerja di cafe Langit mengantarkan makanan itu dan menaruhnya di atas meja yang ada di depan Dhealova. Ada fried chicken plus nasi, steak daging, omelet mie dan jus jeruk kesukaan Dhealova. Gadis itu sengaja memesan banyak makanan karena ia merasa sangat lapar, kapan lagi bisa makan makanan di cafe milik Langit, kalau mereka berada di apartemen tidak mungkin ia bisa lagi makan makanan seenak ini. "Hem ... Akhirnya datang juga makanannya," ujar Dhealova. Gadis itu mencium aroma makanan yang menggoda indera penciumannya. "Silahkan di nikmati makanannya kakak, kami permisi," Dhealova tak menjawab ia hanya menganggukkan kepalanya. Lalu kedua pemuda itu pergi meninggalkan Dhealova. Gadis itu kini mulai menikmati makanan yang ada di depannya. "Makan yang mana dulu ya, hem ... Semuanya kelihatan lezat sekali, ternyata tuan galak itu baik juga." gadis itu tersenyum sendiri saat mencicipi makanan di depannya. Dhealova makan dengan lahap, ia makan seperti orang yang kelaparan saja. "Ini enak juga, yang ini juga enak hem..." ia mulai memakan semuanya. Tak membutuhkan waktu lama gadis itu sudah menghabiskan makanan yang ada di depannya. "Akhirnya kenyang juga perut ini, hi hi." ucap Dhealova sambil mengusap perutnya yang sudah terisi banyak makanan. "Heik ... Ups." gadis itu menutup mulutnya saat bersendawa. "Aku sudah kenyang, di mana tuan galak itu berada ya?" Dhealova berdiri kemudian berjalan mencari keberadaan Langit. Ia berjalan menuju dapur, di sana ia melihat pemuda yang tadi memberinya makanan. "Di mana tuan Langit?" tanya Dhealova pada pemuda itu yang sibuk bekerja di bagian dapur. "Oh, mas Langit ada di ruangannya," jawab pemuda itu. "Kau sudah selesai makan?" tiba-tiba terdengar suara Langit, semua orang yang ada di dapur menatap ke arah laki-laki muda itu. "Bagaimana sudah kenyang?" lanjut Langit sambil berjalan ke dapur. "Sudah tuan, terima kasih makanannya enak." ucap Dhealova sembari tersenyum manis. "Hem. Ayo." Langit menarik tangan Dhealova laki-laki muda itu mengajaknya keluar dari cafe miliknya. Saat sudah melewati pintu depan. Langit mulai melepaskan tangan gadis itu dan dengan cepat Langit masuk ke dalam mobil miliknya yang di ikuti oleh Dhealova tentunya. Gadis itu langsung masuk ke dalam mobil duduk di belakang. Ia masih takut kalau berdua dengan Langit karena laki-laki itu sering marah padanya. Saat melihat Dhealova sudah duduk di belakang, kini Langit melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, seperti biasa laki-laki muda itu memang suka balapan. Sedangkan Dhealova ketakutan sendiri saat melihat mobil itu melaju melewati beberapa kendaraan yang ada di jalan raya. Di dalam mobil hanya ada keheningan. Gadis itu tidak berani bicara atau pun bertanya pada Langit kemana mereka akan pergi. Setelah beberapa saat kemudian, Langit menghentikan mobilnya di depan sebuah mall. Dhealova hanya bisa diam dan mengikuti perintah Langit. "Sekarang turunlah," ucap Langit. Kemudian laki-laki itu turun dan Dhealova juga ikut turun. Langit berjalan masuk ke dalam mall begitu pun Dhealova mengikuti Langit dari belakang. "Tuan, sebenarnya kita ke sini mau apa?" tanya Dhealova, gadis itu kesulitan saat mengikuti langkah kaki laki-laki muda itu. "Diamlah, nanti kau akan tahu sendiri." "Iya tuan. Maaf." Kini langkah kaki Langit memasuki sebuah butik yang ada mall itu. Dhealova sangat kagum dengan apa yang ia lihat, banyak pakaian mahal yang ada di tempat ini. "Carilah yang kau butuhkan tadi, aku akan menunggumu di sini. Cepat." perintah Langit. "Iya tuan." kemudian Dhealova berjalan melihat-lihat pakaian yang ada di tempat ini, "Ada yang bisa kami bantu?" tanya gadis yang bekerja di butik tersebut dengan ramah. "Eh. Iya, aku mau cari pakaian dalam." jawab Dhealova sembari tersenyum. "Silahkan kak, pakaian dalam ada di sebelah sana." menunjuk ke arah yang di maksud. Dhealova mengangguk pelan. Mata gadis itu masih sibuk melihat ke sana ke mari, "Ini kak, silahkan di pilih," "Iya," Gadis itu mulai memilih beberapa celana dalam dan beberapa bra untuk dirinya. "Ini kak, ada lingerie cantik warnanya juga cocok untuk kakak pakai, biar suaminya tambah senang." gadis itu menunjukkan sebuah lingerie berwarna merah muda pada Dhealova sambil tersenyum. "Ah tidak, aku tidak suka pakai itu, lagian tuan galak seperti dia bukan tipe suamiku, ih amit- amit." Dhealova mengedikkan bahunya berkali-kali. "Masak sih kak? Kalian serasi loh, yang satu cantik yang satu ganteng mirip artis siapa itu loh kak, aku lupa namanya, pokoknya yang sering muncul di tv itu yang lagi viral kak," ujar gadis yang bekerja di butik itu. "Masak sih? Tuan galak itu mirip artis, ha ha mungkin kamu pas lihat tv ngantuk kali, mana ada artis yang seperti dia." Dhealova menggelengkan kepalanya pelan. "Sudah ini," Dhealova memberikan beberapa pakaian dalam yang di pilihnya pada gadis itu. "Iya kak, silahkan kakak tunggu di sana, biar saya yang akan mengantarkan ke kasir.". "Baiklah." Dhealova meninggalkan tempat itu, ia kini berjalan menuju ke tempat di mana Langit menunggunya. "Tuan." ucap Dhealova lirih saat ia berdiri di samping Langit. "Bagaimana sudah dapat itu, em ... pakaian dalamnya?" tanya Langit lirih saat ia menyebut pakaian dalam. "Iya sudah tuan, sebentar lagi di antar ke sini." Dhealova menahan tersenyumnya melihat Langit yang risih saat mengucapkan pakai dalam. "Selamat siang, ini barang dan tagihannya," gadis itu memberikan paper bag pada Dhealova, dan memberikan tagihannya pada Langit. Kini Langit membayar tagihan tersebut. "Terima kasih sudah berkunjung di tempat kami, kalian berdua memang pasangan yang serasi, semoga hubungan kalian langgeng sampai anak cucu ya." ucap gadis yang bekerja di butik itu dengan ramah. Langit dan Dhealova kini saling berpandangan, Langit sedikit melotot pada Dhealova saat pandangan mata mereka bertemu. Lalu Langit berjalan meninggalkan butik itu dan di ikuti oleh Dhealova. "Memang apa yang tadi kau katakan padanya?" Langit bertanya pada Dhealova sambil berjalan. "Tidak ada." jawab Dhealova singkat. "Kalau tidak ada bagaimana mungkin dia bisa berpikir seperti itu?" Langit semakin melangkah dengan cepat. "Tidak tuan, benar aku tidak mengatakan apapun padanya," Dhealova sedikit berlari saat mengikuti langkah kaki laki-laki itu. "Kalau kau berbohong, akan ada hukuman untukmu, ingat itu." 'Huh. Dasar tuan Langit, kadang baik kadang marah, kadang galak juga, dasar.' *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN