ASMARA TERULANG PART 45 Darah Lebih Kental dari Air * “Saya ayahnya. Ambil darah saya, Suster.” Rafa menawarkan darahnya pada suster yang menangani Gibran. Bagaimana pun anak itu harus selamat, dan Rafa akan melakukan apa pun agar ia tak menyesal di kemudian hari. “Baiklah.” Seorang perawat mengangguk, lalu bersiap melakukan tugasnya. Rafa dituntun oleh perawat ke sebuah ruangan untuk diambil darahnya. Tinggallah Azkia dan Elisa yang menunggu dengan resah. Keduanya duduk di kursi memanjang, yang diletakkan di depan ruang. “Kakak ganti baju dulu. Bisa-bisa masuk angin kalau terus pakai baju basah.” Elisa masih memakai baju basah. Daster semata kaki dengan lengan pendek yang setengahnya sudah kering seiring perjalanan mereka. Bahkan perempuan itu menggigil akibat dingin yang menguas

