11. Latihan Mematikan

1089 Kata
Elektra menghela napas kasar, ia menatap ke arah gedung di hadapannya. “Aku hanya perlu keluar hidup-hidup ‘kan?” tanya Elektra dengan suara lantang. “Jangan menganggap ini sebuah game karena apa yang kau lihat dan hadapi di dalam ada benar-benar nyata, kau tertembak maka luka,” ucap Jason memperingati. “Maksudmu, jika aku tertembak bisa mati?” Elektra bertanya dengan keterkejutan, ada sedikit nyalinya menciut. “Ya. Kau bisa mati di dalam, kau pikir apa fungsi dari senjata yang kuberikan padamu?” “K-kau—” “Nona Elektra, apa kau pikir dunia yang kami hadapi hanya sebuah game? Tertembak kami akan terluka, tidak sedikit akan mati,” tegas Jason membuat Elektra melihat ke arah Ankara. “Kau bisa menyerah jika tidak melanjutnya.” “Tidak. Aku akan masuk dan menuntaskan latihanku,” ucap Elektra tegas, membuat Jason mengangkat sebelah alisnya. Dia pikir Elektra akan menyerah karena latihan pertama kali yang dia berikan adalah pelatihan paling sulit, lebih tepatnya latihan yang diberikan pada Elektra adalah tahap akhir bagi seorang pemula. Walaupun ngeri, Elektra tidak mungkin mundur. Dia telah mengambil keputusan, dia pun tahu dunia hitam bukan sesuatu yang mudah, jika latihan seperti yang dikatakan oleh Jason dia tidak mampu bagaimana dia menghadapi lawan yang lebih dari dirinya. Sebelum masuk, Elektra melirik ke arah Ankara wajah pria itu terlihat begitu santai, sambil menganggukan kepala. Suasana ruangan yang begitu berantak, bahkan terlihat peluru yang tertanam di dinding gedung memperlihatkan tempat itu sering menjadi latihan menembak. Elektra melihat sekelilingnya, begitu tenang tetapi Jason memperingati agar dirinya keluar hidup-hidup. “Tidak ada apa-apa di sini,” seru Elektra melangkah hati-hati. Ankara yang berada di luar menatap gedung yang baru saja dimasuki Elektra. “Aku memilih anggota yang paling hebat pernah ku latih. Kau yakin dia akan keluar hidup-hidup?” tanya Jason yang meragukan Elektra. Tidak ada jawaban dari Ankara hanya tatapan melihat pintu, seakan ingin Elektra sesegera mungkin keluar dari sana. “Jangan pernah meremehkannya, Jason.” “Bagaimana kau bisa yakin pada wanita lemah seperti dia, sih?” “Karena aku tahu gen yang mengalir dalam darahnya,” jawab Ankara dengan santai membuat Jason melihat ke arah Ankara. Dia ingin bertanya tetapi saat mendengar suara senjata membuatnya segera masuk ke dalam gedung. “Apa maksudmu, Ankara?” tanya Jason, ia penasaran. Apa Ankara tahu siapa sebenarnya Elektra? Di dalam gedung, Elektra hanya bisa berlari menghindari beberapa orang yang tengah menyerang menggunakan senjata. Berlindung di balik tiang-tiang gedung adalah hal yang paling aman menurutnya, tetapi bukan berarti nyawanya tidak dalam bahaya. “Mereka memakai senjata asli? Yang benar saja dong, apa pria itu ingin aku mati saat latihan?” Elektra mengumpat atas apa yang terjadi. “Dia benar-benar menyebalkan.” Dia tidak tahu bagaimana cara menggunakan senjata. “Sial. Dia bahkan tidak mengajariku bagaimana memakai senjata,” umpat Elektra sekali lagi. Setelah beberapa kali berpikir keras mengingat adegan film yang pernah ditontonnya akhirnya Elektra bisa menarik pelatuk senjata dengan benar, walaupun meleset tetapi itu adalah kemajuan. “Nona… jangan hanya bersembunyi dan menghindar. Keluarlah dan hadapi kami, kau tidak akan terus bersembunyi dengan musuh,” seru seorang pria tengah memprovokasi Elektra. “Elektra. Apa kau akan terus seperti itu? Bersembunyi dan menghindar? Bagaimana kau akan menghadapi musuhmu nanti jika kau hanya berlindung dibalik tembok. Jangan pikir, musuhmu tidak benar-benar nyata.” Suara Jason membuat Elektra kesal, pria itu benar-benar bisa memprovokasinya. Dan benar, Elektra ikut terprovokasi tetapi saat keluar dan melihat senjata yang mengarah padanya, membuat Elektra kembali bersembunyi. Latihannya lebih rumit dari apa yang dia perkirakan, bisa-bisanya ada latihan yang seperti dia lakukan bahkan dia sendiri tidak tahu memakai senjata. “Aku tahu, tapi kau cukup b******k, Jason. Bisa-bisanya kau membawa mereka yang terlatih. Apa kau mau aku mati di sini?” Jason tidak menjawab perkataan Elektra, dia hanya terkekeh membuat Elektra kesal. “Shut up, Jason,” ucap Elektra kemudian keluar dari persembunyian. Bang! Beberapa kali, Elektra menembak hanya 1 kali dia mengenai lawannya. Namun, saat dia menembak tidak menyadari jika ada lawan dari arah berlawanan dan berakhir membuat peluru bersarang di bahu kiri. “Aaaarrgghh.” Suara teriakan Elektra terdengar menggema di ruangan itu. Jason hanya memandanginya dari kejauhan tanpa membantu dia yang terluka. Peluru yang masih tersisa membuat Elektra menembak asal dan mengenai lawannya. Hanya luka biasa yang dihasilkan dari tembakan Elektra pada lawannya tetapi berhasil membuat Elektra keluar dari gedung latihan dengan luka di bahu. Ankara melihat Elektra keluar dari pintu, menatap datar dengan sebelah alis terangkat. Jason dan beberapa pria yang melatihnya pun ikut keluar dari gedung latihan. Jason kesal karena Elektra tidak menyerah saat latihan, dia jadi tidak punya alasan agar Ankara tidak menjadikan Elektra sebagai pewaris organisasi. “Nyalimu banyak juga,” seru Jason tetapi Elektra tidak bisa mendengar hal itu. Dia tumbang saat itu juga. Rasa sakit akibat peluru serta darah yang cukup banyak keluar membuatnya pingsan. Elektra yang tidak sadarkan diri di gendong oleh Ankara. “Minta dokter Rion datang,” seru Ankara. Jason mengikuti Ankara dari belakang, sepanjang perjalanan menuju gedung kesehatan milik pribadi, keduanya tidak mengeluarkan satu kata pun. Beberapa dokter datang menghampiri Ankara, padahal dia baru meminta lima menit lalu. Elektra tengah terbaring di bed hospital, darah sudah ditangani Ankara agar berhenti. “Tuan …” “Tangani dia sebaik mungkin,” ucap Ankara membuat dua orang dokter yang datang itu saling berpandangan satu sama lain. “Apa yang kalian tunggu?” Mendengar suara Ankara yang meninggi membuat dua orang dokter itu, segera menangani Elektra. Ankara dan Jason masih berada di dalam ruang itu memperhatikan Elektra yang tengah mendapatkan penanganan. Jason, yang melihat pakaian Elektra terbuka membuatnya memilih keluar, dia tidak ingin melihat keadaan wanita itu. Di luar, Jason menggoda beberapa suster yang keluar masuk dari ruang perawatan Elektra, hingga Ankara datang dia pun berhenti menggoda. “Dia tidak cocok, Ankara. Dia hanya bisa menghindar dan terus bersembunyi. Dia—” “Aku tahu, apa yang kulihat, Jason. Dia selamat saja itu sudah lebih dari membuktikan jika bisa melakukannya. Bukankah itu adalah latihan terakhir paling susah di pelatihan dasar? Bahkan banyak yang tidak selamat.” “Ya, itu karena dia beruntung,” kilah Jason. Dia tidak bisa mengakui jika Elektra bisa keluar dari gedung pelatihan itu. “Aku tidak bisa melihatnya bisa melakukannya. Dia benar-benar tidak cocok dengan kita. Apalagi dia mengambil jurusan yang akan melawan kita,” tambah Jason. “Dia mungkin saja bukan putrimu atau dia hanya wanita--” Jason kembali menegaskan pertanyaannya. Jason terus saja mempertanyakan keputusan yang diambil oleh Ankara, dia tahu Ankara tidak akan begitu ceroboh. “Aku tahu dia bisa melakukannya.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN