Elektra semakin panik saat suara ketukan pintu itu semakin kencang diiringi oleh suara pria yang sangat ia kenal. Ia memaksa otaknya agar berpikir keras untuk mencari tempat persembunyian untuk mereka dan berusaha menyembunyikan jasad-jasad yang telah ia bereskan. "Di mana aku harus menyembunyikan mereka?" "Ya Tuhan, tolong bantu aku." Elektra menggigit kukunya yang sedikit panjang. Mulutnya tak henti-hentinya bergumam dan bertanya kepada dirinya sendiri dengan nada pelan. Elektra mengedarkan pandangannya. Mencari tempat teraman agar Regan tidak pernah akan tahu semua yang telah ia lakukan. Ia tak akan yakin jika Regan tidak terkejut jika melihat mayat yang tergeletak tak bernyawa di atas lantai dingin itu. Mata Elektra berhenti menatap sekelilingnya saat melihat lemari besar yang

