8. Kau Akan Menghabisiku Jika Melakukannya

1086 Kata
Wajah Elektra begitu pucat, dia bahkan tidak bisa tidur selama beberapa hari mengingat kejadian di ruangan mengerikan itu. Pikiran mengenai apa yang dilihat tidak pernah hilang dari kepalanya. Bagaimana bisa seseorang tidak memiliki perasaan kasihan saat melihat dan mendengar jeritan dari orang yang disiksa, bahkan tertawa melakukan hal keji itu. Rambut yang sesekali diacak, serta berteriak histeris membuat maid yang berada di luar khawatir mengenai kondisi Elektra. “Dia tidak pernah menyentuh makanan yang kita berikan, ini sudah satu minggu,” keluh salah satu maid yang tengah berdiri di depan kamar Elektra sambil membawa nampan makanan yang tidak disentuh oleh Elektra sama sekali. Mata mereka melihat ke arah pintu kamar yang terkunci. “Tuan Ankara pasti tidak akan mengampuni kita jika terjadi sesuatu pada Nona Muda,” ucap salah seorang maid pada temannya. “Apa kita melaporkan hal ini pada Tuan?” tanyanya, hanya ada gelengan kepala dari temannya. “Huh. Sebenarnya, apa yang dilakukan Tuan Jason sampai Nona Elektra menjadi seperti itu.” “A-apa jangan-jangan Tuan Jason memperkosanya?” “I-itu bisa saja, mengingat bagaimana sifat Tuan Jason.” Semua membenarkan jika Elektra diperkosa oleh Jason karena pria itu sangat senang bermain wanita, bahkan tidak sedikit di antara mereka yang telah ditiduri Jason. Semua kembali melihat ke arah pintu, saat tidak mendengar suara Elektra. Salah seorang ingin membuka pintu untuk melihat ke arah di dalam ruangan tetapi tidak diizinkan oleh yang lain. “Jangan, bagaimana jika terjadi sesuatu padanya? Kau akan disalahkan, kau tahu ‘kan, bagaimana Tuan Ankara dia tidak akan pernah memberikan ampunan pada seseorang.” “Tapi—“ Gelengan kepala dari semua maid meminta temannya untuk tidak membuka pintu kamar Elektra, “aku akan menghubungi Tuan Ankara kalian tunggu di sini saja memperhatikannya,” seru maid paling senior. Ia turun ke lantai bawa dan menghubungi Ankara memberitahu kondisi Elektra saat ini. Saat mengantarkan Elektra seminggu yang lalu, Ankara belum kembali ke mansion karena harus mengurusi beberapa hal mengenai musuh yang telah melukainya saat di Amerika. “Tuan, maaf mengganggu. Saya ingin menyampai sesuatu mengenai wanita yang Tuan bawa seminggu yang lalu,” ucap maid dengan sedikit terbata-bata, suaranya terdengar bergetar takut akan membuat kesalahan. “Ada apa dengan dia? Apa terjadi sesuatu?” tanya Ankara mengangkat sebelah alis. “I-itu Tuan.” Maid berbicara terbata-bata, ia tidak tahu harus menyampaikan apa yang akan dikatakannya. “Itu apa? Katakan dengan jelas, jangan hanya itu-itu saja,” bentak Ankara membuat wanita di seberang telepon mengelus d**a karena terkejut. “W-wanita itu, dia tidak pernah keluar kamar selama seminggu. Tuan Jason mengantarkannya saat dia tidak sadarkan diri, dan saat ini dia masih di dalam kamar bahkan tidak menyentuh makanannya sama sekali,” jelas maid membuat raut wajah Ankara berubah. “Dia bahkan berteriak, kami takut untuk masuk ke dalam kamar,” tambahnya. “Apa ada lain? Aku yakin kau masih punya sesuatu untuk kau katakan.” “M-maaf Tuan, tapi kami curiga jika Tuan Jason memperkosanya karena—“ Ankara menghela napasnya dengan kasar kemudian menutup panggilan telepon, matanya melihat ke arah Jason yang saat ini berada bersamanya. Maid tersebut kembali naik ke lantai atas disambut pertanyaan oleh teman-temannya. “Bagaimana? Apa Tuan marah?” “Dia menutup telepon, sepertinya dia akan datang,” jelas maid senior itu. “Aku harap ini bukan sesuatu yang buruk,” seru salah satu dari mereka ikut nimbrung, dijawab anggukan oleh mereka semua. Di kantor, Ankara menatap Jason dingin. “Kau tidak melakukan sesuatu yang buruk padanya ‘kan?” tanya Ankara menatap tajam ke arah Jason, dia menuntut penjelasan mengenai kondisi Elektra yang saat ini tidak keluar kamar seminggu. “Aku tidak melakukan apapun padanya. Kau memintaku menunjukan seluruh hal yang ada di markas, aku melakukannya, termasuk ruang eksekusi.” Jason berkata dengan santai membuat raut wajah Ankara memperlihatkan ketidaksukaan atas hal yang disampaikan Jason. “Kenapa kau marah padaku, aku melakukan sesuai perintahmu. Ya, aku mana tahu jika dia tidak bisa melakukan hal mengerikan seperti itu,” komentar Jason. Tatapan Ankara yang dingin meminta penjelasan lebih dari pria itu. “Aku benar-benar, tidak melakukan apapun padanya.” “Kau tidak memperkosannya ‘kan? Para maid mengatakan jika—“ “Huh. Itu tidak mungkin melakukan hal itu padanya,” bantah Jason. “Kau bisa membunuhku jika aku melakukannya. Dia putrimu, aku masih waras melakukan hal gila itu padanya,” jelas Jason tetapi tetap saja Ankara menatapnya penuh curiga. “Tanyakan saja pada wanita itu jika aku melakukan hal itu padanya.” Ankara beranjak dari tempat duduk kemudian keluar dari kantor diikuti oleh Jason di belakang. Langkah kaki Ankara cepat karena dia ingin kembali ke mansion mengecek kondisi Elektra seperti yang dikatakan oleh maid padanya. Jason mengimbangi langkah Ankara yang tengah menuju lobby. “Huh. Perkosa? Bagaimana bisa aku melakukannya, tahu jika dia putrinya saja sudah membuatku shock. Apalagi memperkosanya, mungkin sudah putus kepalaku,” komentar Jason. Di depan perusahaan mobil telah menunggu Ankara. “Aku harap kau mengatakan jujur, Jason. Aku akan menghabisimu jika kau menyentuh putriku,” ucap Ankara kemudian masuk ke dalam mobil. Kalimat terakhir Ankara membuat Jason keringat dingin. Melihat Ankara seperti itu, sedikit menghilangkan keraguan di hatinya jika Elektra bukan putri Ankara. Dia telah mencaritahu masa lalu Ankara, hanya sedikit informasi yang dia dapat. Memang benar, Ankara selama ini memiliki seorang wanita ada di dalam hatinya. Di dalam mobil, Ankara melihat jam di arloji miliknya. “Aku ingin segera sampai,” seru Ankara membuat sang sopir menambah kecepatan mobil tidak membutuhkan banyak waktu agar segera sampai di mansion. Para maid dan pengawal menyambut dengan memberikan hormat padanya, langkah kakinya naik ke lantai atas menuju kamar Elektra. “El. Are you oke?” Ankara bertanya pada Elektra dengan suara berat miliknya. Cukup lama tidak ada jawaban dari dalam membuat Ankara ingin membuka pintu tetapi dari dalam terdengar pintu yang sedang dibuka. “Aku sudah memikirkannya berhari-hari. Kupikir aku takut dengan apa yang kulihat di ruang eksekusi, tapi aku salah. Aku hanya takut jika aku melukai orang yang salah. Aku telah bertanya banyak kali pada diriku sendiri. Kau bertanya, apakah aku bisa melakukannya? Ya, aku bisa,” seru Elektra saat dia baru membuka pintu. “Aku akan menjadi alpha woman seperti yang kau katakan, dengan begitu aku akan mewujudkan membalaskan dendam pada mereka,” tambahnya. Ankara tersenyum mendengar kalimat yang diucapkan oleh Elektra, dia melihat kembali api yang redup di mata Elektra. “Aku akan menjadi kuat hingga mereka tidak akan pernah meremehkanku. Tidak, aku akan membuat mereka menyesal telah membuatku kehilangan satu-satunya hal yang membuatku ingin hidup,” ucap Elektra tegas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN