27-Bab 27

1029 Kata
Dua orang manusia berbeda gender itu sedang berdebat di halaman rumah si lelaki. Si wanita yang cenderung tak terima karena lelaki yang dicintainya justru memilih wanita lain. Kebersamaan mereka tak ubahnya seperti tak ada gunanya. Wanita itu dengan air mata yang mengalir pun tertawa pelan. "Kamu anggap aku apa?" "Kita selama ini sahabat," ujar si lelaki. Dia merasa tak percaya dengan apa yang dia lihat. Wanita yang dia anggap sahabat itu menuntutnya lebih dari seorang sahabat. "Apa gak ada sekalipun artinya aku dihidupmu?" Wanita itu jatuh terduduk. "Kenapa hanya aku yang memiliki rasa? Sedangkan kamu tidak," katanya lagi. "Santi, bukankah selama ini kita bersahabat. Aku tak menyangka bahwa kamu menyukaiku," ujar lelaki bernama Haikal itu. Halaman rumah Haikal yang sepi itu membuat Santi bebas berekspresi. Jarak rumah tetangga juga cukup jaug karena bagian kanan dan kiri rumah Haikal adalah perkebunan belimbing. Sedangkan, depan rumah Haikal adalah rumah kosong yang penghuninya entah kemana. Cukup mengerikan jika tinggal di rumah semewah ini sendirian, belum lagi jarak rumah tetangga yang cukup jauh. Namun, Haikal adalah lelaki yang pemberani, seakan tak takut jika sewaktu-waktu penjahat mengincarnya untuk menguasai hartanya itu. "Tiga tahun, Haikal. Kamu memilih wanita itu yang tidak lebih 3 bulan menemanimu?" Santi mengusap kedua pipinya dengan kasar. "Santi, persahabatan kita .... " "Sahabat, sahabat terus. Apa tidak boleh sahabat jadi cinta? Siapa yang melarang?" Santi menggelengkan kepala pelan. Haikal pun masih belum percaya akan sikap Santi yang cenderung pemberontak ini. Dia lihat selama ini Santi adalah wanita yang lemah lembut, perhatian padanya, bahkan selalu membantunya. "Jika memang wanita itu yang kamu pilih. Ya sudah," ujar Santi dalam satu tarikan nafas. Kedua alisnya menukik. Haikal tersenyum tipis. "Kita tetap bersahabat bukan?" Santi menatap Haikal sekilas. "Maaf, Haikal. Aku rasa persahabatan kita sampai di sini. Ternyata memang benar, tidak ada persahabatan diantara lelaki dan perempuan. Pasti salah satunya terluka karena menyimpan rasa, dan itu hanya aku." "Santi." Suara Haikal tercekat. Dia tak mau persahabatannya dengan Santi rusak begitu saja karena cinta. Sungguh dia hanya nyaman dan menyayangi Santi, tidak lebih. Cintanya hanya untuk Ambar, adik ipar Arda. "Aku pergi." "Kamu mau kemana? Aku antar kamu pulang," ujar Haikal menawarkan diri. "Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri. Jaga dirimu dengan baik, karena setelah ini tidak akan ada yang membuatkanmu nasi goreng hampir setiap harinya." Santi terkekeh pelan. Walau air mata masih berjatuhan membasahi kedua pipinya. Dia bisa, cintanya mungkin tak terbalas. Entah bagaimana kenangan itu akan selalu melekat dihatinya, jika pada akhirnya dia dan Haikal tak akan bisa bersama. Keputusan yang tepat. Karena setelah ini dia memutuskan untuk pergi jauh "Hati-hati," ucap Haikal menatap punggung Santi yang sudah tak kelihatan. Dia menundukkan kepala, menarik nafas dengan kuat lalu menghembuskannya perlahan. Langkah kakinya menuju ruang tamu, dia seakan merasa hampa. Canda tawa yang biasanya ada saat dia bersama Santi kini sudah tak ada lagi. Saat dia memborbardir Santi dengan berbagai pertanyaan saat wanita itu tak memberinya kabar sama sekali. Saat wanita itu selalu memasakkan nasi goreng kepadanya, padahal wanita itu tahu dia memiliki restoran yang bisa memberinya makan. Perhatian wanita itu yang selalu membuatnya nyaman, disaat orang tuanya tak bisa memberikannya karena sibuk bekerja. Entah bagaimana respon kedua orang tuanya saat dia dan Santi tidaklah bisa bersama seperti dulu. Walaupun dalam bentuk persahabatan. Bagi Santi, Haikal adalah segalanya. Namun, bagi Haikal, Santi hanyalah sahabatnya. Cintanya hanya untuk Ambar. Dengan penolakan yang nyata, Santi memilih mengubur perasaannya mulai detik ini. Salah satunya merusak persahabatannya. Kini, tak ada lagi Santi dan Haikal. Tanpa disadari oleh Haikal, rupanya Galih dan Arda mendengarnya. Niatnya datang ke rumah Haikal untuk meminta Haikal memberi tahu letak rumah Ambar. Adiknya memutuskan meninggalkan rumah. Saat itu ayahnya langsung jatuh sakit. Walau Ambar bukan anak kandungnya, ayah benar-benar tulus menyayangi Ambar. Terlepas dari status keponakannya sendiri. Galih menatap Arda yang sedang di sampingnya itu. Keduanya bersembunyi dibalik tembok bagian timur. Dimana Haikal tak dapat melihatnya, apalagi Santi. Keduanya yang hendak masuk ke dalam rumah pun memutuskan bersembunyi setelah mendengar teriakan Santi. "Apa aku telah merusak persahabatan mereka?" tanya Arda. Dia pun merasa bersalah karena tanpa sadar ikut terlibat dengan menjodoh-jodohkan Haikal dengan Ambar. "Bukan, Sayang." Galih mengusap bahu Arda. "Kita masuk ke dalam mobil. Nanti kita ke sini lagi." "Kita 'kan mau tanya alamat rumah Ambar," ujar Arda menarik lengan suaminya. "Mas mengerti kondisi Haikal saat ini." "Gak papa, kita harus mendapatkannya sekarang, Mas." Galih mengangguk lalu merangkul bahu istrinya menuju rumah Haikal. Mengetuk pintu, hingga dipersilahkan masuk. Ini bukan pertama kalinya Galih dan Arda ke sini. Lagi-lagi hanya kesepian yang dirasakan. Jika beberapa orang lihat, pasti menganggap Haikal adalah lelaki kesepian. Hanya ada pembantu yang datang di pagi dan sore hari untuk membersihkan rumah mewah ini. "Ada apa Kak Arda ke sini?" tanya Haikal to the point. Wajah kusutnya sudah tak terlihat lagi di mata Arda. "Kamu pasti tahu dimana Ambar tinggal sekarang." Haikal menghela nafas panjang. Dia menyenderkan punggungnya di sofa. "Aku rasa hal ini tak perlu ditanyakan, Kak. Ambar sudah dewasa, dia sudah bisa menentukan pilihannya." Galih yang mendengarnya pun marah seketika. Namun, usapan lembut dari istrinya membuat Galih mengurungkan niatnya untuk mengajak Haikal duet. "Kakak tanya baik-baik, Haikal. Kamu tahu 'kan dimana Ambar tinggal?" Haikal mengangguk. "Haikal tak bisa memberi tahu Kak Arda. Ini keinginan dari Ambar sendiri." "Apa susahnya memberi tahu? Kami ini keluarganya," sentak Galih tak terima. "Keluarga?" Haikal berdecih pelan. Dia langsung menegakkan tubuhnya. "Keluarga mana yang menyembunyikan kebenaran. Keluarga mana yang membohongi salah satu anggota keluarganya. Ini rahasia yang besar, bukan main-main." "Haikal." Arda menggelengkan kepala. Dia meminta Haikal tidak mengajak Galih berdebat. "Coba kalian bayangkan bagaimana jadinya jika kalian adalah Ambar. Dibohongi dan dikhianati. Bisa kalian terima?" Arda dan Galih menundukkan kepala. Galih sangat tahu bagaimana kehidupan Ambar. Bagaimana perjuangan dan pengorbanan Ambar. Termasuk bagaimana sayangnya Ambar kepada keluarganya. "Coba terima keputusan Ambar. Beri waktu Ambar." "Ayah sedang sakit, Haikal." "Nanti aku sampaikan," jawab Haikal dengan anggukan kepala. "Terima kasih." Hanya itu yang bisa Arda katakan. Dia lalu mengajak suaminya untuk pergi. Karena perasaan Haikal yang sedang berantakan, hanya akan menimbulkan pertengkaran. Apalagi mereka tak akan mendapatkan alamat rumah Ambar. Karena Ambar sendiri yang memintanya. Sebuah janji supaya dirahasiakan. Bagaimana mungkin Arda membiarkan Haikal menkhianati janjinya kepada Ambar? Walaupun Arda benar-benar ingin tahu keberadaan Ambar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN