110. Sang CEO yang Murung

1081 Kata

. . . Di bawah langit yang tampak gelap, Mu Shenan menatap ke atas dengan hampa. Sudah satu jam sejak rapat berakhir, dia terlihat tidak mau beristirahat dan lebih memilih untuk berdiri mematung di balkon hotel itu. Asisten Bai yang menyaksikannya sedikit merasa khawatir. Bos besarnya benar-benar terlihat berbeda sekali. Dahulu, bosnya itu selalu menghabiskan waktunya bekerja bagai mesin. Tetapi sekarang, bosnya itu bisa melamun layaknya seorang bujang yang merindukan bulan! Entah apa yang dipikirkan oleh bosnya itu. Yang pasti itu bukanlah tentang pekerjaan. Menyaksikan itu, asisten Bai menggaruk-garuk kepalanya. Ini sudah pukul 24.00 malam. Ia sangat ingin tidur, sama seperti karyawan yang lainnya. Tapi, bos besar malah sibuk mengamati bintang-bintang yang sama sekali tidak terlihat

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN