Di rumah, Rani membuka jurnal tersebut dengan penuh rasa ingin tahu.Halaman demi halaman Ia balik dengan semangat dan penuh kegembiraan.Perasaan saat membaca buku luar biasa yang merefleksikan mimpi-mimpinya terasa bangun setelah tidur yang berkepanjangan. Halaman-halaman yang penuh dengan sketsa, peta, dan catatan kecil tentang berbagai tempat yang telah dikunjungi penulis. Dia terpesona oleh cara penulis menggambarkan petualangan-petualangan yang membuatnya merasa seolah-olah dia juga berada di sana."Penulis buku ini adalah orang yang hebat,aku juga ingin sepertinya,bahkan aku ingin melampauinya."
Tak terasa jam telah menunjukkan jam satu malam.Rani tersadar setelah selesai membaca buku itu."Ternyata sudah jam satu lebih,sebaiknya aku segera tidur agar tidak kesiangan."Rani bergegas ketempat tidur.Saat sudah siap di tempat tidur Rani mulai mengingat kembali mimpi-mimpi yang dulu pernah dia impikan. Ketika masih kecil dan penuh dengan rasa ingin tahu terhadap apa yang dilihatnya.Dia bercita-cita untuk menjadi penulis dan menjelajahi dunia. Namun, seiring bertambahnya usia, rutinitasnya menyita perhatian. Dia menulis di catatannya: “Mengapa aku tidak pernah berani bermimpi lagi? Apakah aku sudah terlalu tua untuk bermimpi?”
Rani mengeluarkan bukunya yang lain dan mulai menuliskan rencananya untuk menghidupkan kembali mimpinya. Dia merencanakan petualangan yang sederhana, menjelajahi tempat-tempat di sekitar kota, dan mencatat pengalamannya. “Setiap perjalanan dimulai dari satu langkah,” tulisnya, terinspirasi oleh ungkapan yang sering dia dengar."Sebainya darimana aku memulainya ya?"
Ranipun tertidur dengan wajah tersenyum.