2. Bukan keluarga harmonis.

1249 Kata
Rara memasuki rumahnya dengan Haidar di gendongannya. Anak kecil berusia enam tahun itu belum juga mandiri. Tubuh Rara yang kecil sangat lelah, harus menggendong bayi besar mengesalkan. Ia kira Haidar masih menyayanginya, disaat yang lain tak menganggapnya. Tapi, khayalan tetaplah khayalan. Haidar sama seperti mereka. Tak ada perhatian sedikitpun untuk kakaknya itu. Malahan, Haidar yang selalu membuatnya kesal. Merundungnya dengan segala perintah aneh bocah itu. Bocah sebesar itu masih minta gendong, masih minta ngedot, masih ngompol dan tingkah aneh lainnya. Rara menjatuhkan Haidar di lantai depan kamar bocah itu. Kebetulan mamanya melihat kearah mereka. Dengan wajah sangarnya, Helda memarahi Rara yang membuat Haidar terjatuh. Rara memutar bola matanya jengah. Selalu seperti ini. Ia selalu dimarahi karena kesalahan yang tak seberapa. Rara tak menghiraukan omelan Helda. Ia melenggang pergi memasuki kamarnya. Sempat ia melirik sinis papanya yang menatapnya sendu. Rara punya orang tua lengkap, tapi tak pernah ada kehangatan sedikitpun di sana. Rara seperti hidup sendiri dalam keadaan bahaya yang mencekam. Mungkin ini yang dinamakan Neraka buatan. Neraka dunia yang sudah menyengsarakan hidupnya. Rara mengamuk di kamarnya. Rutinitas yang selalu ia lakukan kala ia kesal dengan tingkah keluarganya. Barang-barang di meja ia sapukan di lantai. Berteriak keras, memaki semua orang dengan hujatan kasar. Bahkan, nama penghuni kebun binatang pun, tak luput ia absen. Ia benar-benar muak dengan semuanya. Dia lahir dari orang tua berada, namun sedikitpun ia tak pernah menikmati fasilitas itu. Entah apa kesalahannya hingga ia dikucilkan semua orang. Dulu, ia tak begini. Kedua orang tuanya dan Tiara sangat menyayanginya. Sekarang itu hanya kenangan. Ia bagai orang hilang yang tersisihkan. Menangis pun, tak ada yang peduli. Bahagia pun, tak pernah datang menghampiri. Setiap hari, mamanya hanya memberi uang sepuluh ribu rupiah untuk berangkat sekolah. Ia juga tidak pernah sarapan. Hanya membawa dua botol air mineral. Uang sepuluh ribu ia gunakan membeli roti yang bisa mengganjal perutnya sampai siang. Ia selalu jalan kaki ketika sekolah. Jarak rumah dan sekolahnya sangat jauh. Rara harus bangun pagi agar tidak terlambat. Sekalipun, Rara tak pernah naik angkot ataupun kendaraan umum. Mengingat uangnya tidak ada. Pagi-pagi sekali, Rara sudah bangun. Sudah mandi dan berganti pakaian dengan seragam SMA. Seperti biasa, ia akan mengambil selembar uang sepuluh ribuan yang tergeletak di meja makan. Ia mengantongi di saku seragamnya. Dengan semangat, ia melangkahkan kakinya menuju ke sekolah. Jalanan masih sepi, karena masih jam setengah enam pagi. Jangan tanyakan seberapa lelahnya kaki Rara. Andai kaki Rara bisa bicara, pastinya sudah mengeluh sejak dulu. Rara memandangi kakinya yang sudah membengkak seperti kaki gajah. Untung saja kakinya tidak lepas dari tempatnya. Klakson mobil yang berbunyi nyaring di belakangnya, tak Rara pedulikan. Ia hanya fokus berjalan agar segera sampai ke sekolah. Tin! Tin! tin!. "Masuk!" teriak pemilik mobil itu menurunkan kaca jendelanya. Rara diam, memandang pun enggan. Ia tau siapa yang membunyikan klakson hingga memekakkan telinga. Sudah pasti itu manusia bernama Husein. Ia benci dengan Mahkluk bernama Husein Hanif. Mahkluk yang membuat hatinya terus bergetar tak karuan, hanya dengan menyebut namanya. Tapi, ketakutan pada laki-laki itu selalu mendominasi. Laki-laki itu selalu menyakitinya. Bukan fisik, tapi lewat kata-kata. Sudah Rara bilang bukan, kalau Husein pantas menjadi Admin lambe turah. Kesehariannya yang selalu menyinyiri hidup Rara, mungkin bisa jadi pertimbangan untuk diterima. "Kamu masuk atau aku seret?" ancam Husein. Untuk kesekian kalinya, Rara mengalah. Ia memasuki mobil Husein dengan lesu. "Kamu bodoh atau gimana sih? jalan kaki dari rumah sampai sekolah itu dua kilo! dan kamu lakukan setiap hari? benar-benar bodoh!" teriak Husen. 'Baru aja masuk mobil, tapi sudah kena semprot.' Batin Rara. Rara diam, tak ada niatan menyahut makian pria disampingnya. "Diam terus! diam!" teriak Husen tepat di telinga Rara. Rara mengusap pelan telinganya. "Kenapa sih kakak suka sekali teriak? pita suara putus baru nyaho!" sinis Rara. "Eh bahasa apaan itu? 'Nyaho? heh perempuan kalau bicara yang sopan, yang jelas!" tukas Husen. Rara mengelus dadanya. Kayaknya tidak ada kata aneh di kalimat Rara. Kenapa Husen sensitif amat?. Husein marah-marah terus seperti emak-emak rempong sedang nawar sayuran. Husen terus memaki Rara, kalau Rara itu gadis bodoh. Yang dengan bodohnya berjalan kaki sejauh dua kilo untuk ke sekolah. Walaupun Husen sendiri merasa salut dengan kegigihan Rara. "Cukup katain Rara bodoh! iya, Rara emang bodoh. Makanya Rara bela-belain ke sekolah jalan kaki. Kalau Rara gak jalan kaki, Rara gak bisa sekolah. Dan kalau Rara gak sekolah, Rara tambah makin bodoh." teriak Rara dengan air mata berlinangan. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia sudah tak kuat mendengar Husen yang mengatainya 'bodoh terus menerus. Perut Rara lapar karena belum makan roti. Ia malu meminta Husen mampir ke warung yang biasa ia membeli roti. Dan kalau beli di kantin, pasti harganya mahal. Mengingat Rara sekolah di sekolah ternama, yang pisang goreng saja bisa lima ribu rupiah. Padahal di warung rumah hanya lima ratus perak. Sepuluh menit kemudian, mereka sampai di gerbang sekolah Rara. Rara menghapus air matanya kasar, ia beranjak untuk turun dari mobil. Panggilan dari Husen membuatnya berhenti sejenak. "Ini, bekal makan buat kamu. Jangan lupa dimakan! biar badan kamu bisa tumbuh. Udah SMA badan kayak anak SD." ucap Husen menyerahkan kotak makan bewarna biru. Rara menunduk, ia mengambil kotak makan itu. Ia bersyukur Husein memberinya makanan, walau kalimat Husein juga melukai perasaannya. Husein merutuki kebodohan lidahnya, ia selalu tak bisa mengerem lidahnya untuk tidak mengolok gadis itu. Husein merasa kasihan melihat tubuh ringkih Rara. Rasa ingin melindungi gadis itu muncul. Walau rasa gengsi berada diatasnya. Emang Rara siapanya? itu belum jelas. Husein melajukan mobilnya ke kantor Papa nya. Papa yang juga sudah membuangnya. Husein tak lahir dari keluarga yang sempurna. Mama papanya bercerai karena adanya orang ketika. Pelakor yang ganjen, bertemu Papanya yang wellcome-an. Papa Husein, Stevano, menggugat cerai Erlinda karena demi menikahi wanita lain. Bahkan, dalam keadaan Erlinda masih mengandung Husein. Erlinda harus menjadi single parent dengan menghidupi dua anaknya di kehidupan yang keras ini. Kakak Husein, Regan yang dulu berumur empat tahun, harus merelakan papanya pergi. Penyesalan memang selalu di akhir. Saat ini, Stevano tengah meratapi penyesalannya terhadap anak-anaknya. Melihat Regan dan Husein yang sudah dewasa, membuat Stevano ingin mengulang waktu. Andai dia menemani setiap pertumbuhan putra-putranya yang saat ini tumbuh menjadi pria tampan. Apalagi, Regan sudah menikah dan punya anak yang menggemaskan. Husein melangkah di koridor perusahan papanya. Ia sudah sering keluar masuk di gedung itu. Karyawan papanya menyapanya dengan ramah. Walau tak ditemani Papanya sejak kecil. Husein tak pernah sungkan untuk meminta jatah uang dari Papanya. Bagaimanapun, kewajiban orang tua adalah menafkahi anaknya. "Pak, Papa saya ada?" tanya Husein dengan sopan kepada sekretaris Papanya. "Ada di ruangannya. Masuk saja!" ucap Sekretaris itu. Husein pergi ke ruangan papanya. Mengetuk pintu dan masuk setelah di persilahkan. "Pa, udah habis!" ucap Husein to the point. Ia membanting kartu Atm ke meja papanya. "Uang disitu gak sedikit, nak. Kok udah habis?" tanya Stevano bingung. "Kebutuhan Husein banyak, Pa. Apa Papa gak tau kalau sekolah Kedokteran itu biayanya mahal?" tanya Husein dengan sinis. "Baiklah, papa cuma becanda. Ayo kita ke kantin dulu. Papa ingin ngobrol-ngobrol denganmu." ajak Stevano mencoba meriah hati anaknya. Stevano sengaja memberi Atm biasa pada Husein tanpa mentransfer nya kalau habis. Itu semata mata agar Husein datang menghampirinya. Melihat wajah anaknya membuat Stevano sedikit bahagia. "Husein gak ada waktu. Papa transfer saja uangnya ke Atm pribadiku!" titah Husein. "Pakai Atm papa aja. Ini masih ada nominalnya." ucap Stevano mengambil satu kartu dan diserahkan pada anaknya. Husein tersenyum sinis. Papanya kira, ia tak tau apa maksud Papanya. Sebenarnya, Erlinda sudah mewanti-wanti Husein agar tidak jadi anak durhaka. Tapi, Husein sudah kelewat kesal dengan Papanya. Papanya sudah menelantarkan dirinya sejak masih dalam kandungan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN