Sienna bangkit dari duduknya. Ia melangkah lebar ke arah pintu kamar mereka. Namun, Galen menghalanginya. “Mama pasti akan mencari cara lain lagi jika tahu kamu pergi,” ucap Galen. Sienna menelan salivanya dengan kasar. Perlahan, ia menoleh, menatap Galen yang tampak menahan deritanya sendirian. Hati Sienna pun terenyuh. Bisa-bisanya ia masih memikirkan pria itu, merasa tidak tega melihat kesakitannya kini. Sienna melangkah ke arah Galen. Pria itu menyadarinya, lalu menatap Sienna dengan siaga. Napas Galen tampak berengah. Berkali-kali ia menelan salivanya dengan kasar. “Kak-” “Jangan mendekat!” Galen memberi peringatan. “Tapi Kakak kesakitan,” cicit Sienna. Galen mendudukkan dirinya di sofa. Napasnya semakin memburu. Matanya terpejam, berusaha melupakan jika ada seorang perempuan d

