Sienna sadar. Kebaikan apapun yang dilakukan Galen untuknya, bukanlah berasal dari hati dan inisiatif pria itu. Segala yang ia lakukan pasti dilandasi keterpaksaan.
Seperti saat ini di mana Galen mengantarnya pulang setelah semalam mereka menginap di rumah sakit. Selama di dalam mobil, jangankan bicara, bahkan menoleh ke arah Sienna saja lelaki itu enggan. Dan setibanya di rumah, Galen juga langsung keluar menuju kamarnya yang ada di lantai dua, tanpa mau berbasa-basi bertanya apakah Sienna sanggup ke kamarnya sendiri atau tidak.
Sienna menghela napas lega ketika ia berhasil mendudukkan dirinya di atas ranjang. Tubuhnya masih terasa tidak nyaman, mungkin karena efek bau rumah sakit yang memang ia tidak sukai. Ia pun berniat untuk langsung tidur. Namun, kemudian ia ingat jika ia belum masak, dan Galen juga belum sarapan.
“Aku harus masak dulu,” ucap Sienna, lalu beralih ke dapur.
Karena kondisinya, tak mungkin Sienna sanggup memasak menu lengkap seperti biasanya. Ia memutuskan untuk membuat omurice. Sienna menggores dengan hati-hati telur yang ia gulung, untuk membuat bentuk yang sempurna dari omurice. Melihat telur itu merekah sesuai harapan, Sienna pun tersenyum puas.
Suara langkah kaki membuat Sienna otomatis menolehkan kepalanya. Ia tersenyum melihat sang suami yang berjalan cepat menuruni tangga.
“Pasti Kak Galen suka. Anggap saja ini ucapan terima kasihku karena dia udah jagain aku semalam dan bawa aku pulang hari ini,” batin Sienna.
Namun, melihat Galen justru berjalan ke arah lain begitu tiba di ujung tangga, senyum Sienna pun perlahan luntur. Ia segera mengejar Galen, memberi tahu pria itu jika ia sudah menyiapkan sarapan untuknya.
“Kak, aku udah bikin sarapan buat Kakak kok. Ayo dimakan dulu!” kata Sienna.
Galen menghentikan langkahnya. Kemudian ia menoleh dengan malas. “Kamu nggak lihat aku udah buru-buru?”
Sienna menolehkan kepalanya ke arah jam dinding terdekat. Pantas saja Galen buru-buru. Sekarang sudah hampir jam delapan, dan biasanya lelaki itu berangkat tiga puluh menit lebih awal.
“Tapi aku udah masak itu. Atau mau aku masukin ke lunch box aja biar Kakak bsia makan di kan-”
“Nggak perlu. Aku bisa minta sekretarisku buat pesan makanan nanti,” potong Galen. “Lain kali kalau tahu aku kesiangan, nggak usah ngide buat sarapan segala. Percuma, nggak akan aku makan. Lagian kamu juga tahu, kan, gara-gara siapa aku kesiangan hari ini?”
Napas Sienna tercekat. Memang, semua itu karena Sienna. Namun, apakah Sienna dapat disalahkan atas kejadian yang ia sendiri pun tidak menghendakinya? Kalau saja boleh memilih, ia juga tidak mau jatuh sakit.
Sienna akhirnya mengangguk. Ia juga memaksakan senyumnya, lalu memasang raut wajah tenang seperti biasa. “Oke kalau begitu. Terima kasih karena Kakak udah jagain aku semalam, dan maaf kalau hal itu bikin Kakak jadi kesiangan hari ini.”
Tanpa membalas ucapan Sienna, Galen pun kembali berbalik, kemudian melanjutkan langkahnya keluar dari bangunan tempat tinggalnya bersama Sienna tersebut.
Sienna hanya bisa menghela napas panjang. Meski hatinya terasa perih, tetapi hal ini bukan sesuatu yang baru untuknya. Ia sudah sangat akrab dengan penolakan dari pria itu. Sehingga rasa sakit yang diakibatkannya pun tidak sebesar ketika awal Sienna merasakannya.
Karena Galen yang menolak makanan yang telah ia buat, akhirnya Sienna pun memilih memakannya. Lagi pula, ia memang hanya baru sempat membuat seporsi makanan pagi ini. Ia juga terburu-buru saat membuatnya, sehingga ia tak sempat untuk membuat untuk dirinya sendiri.
Usai sarapan, Sienna memilih untuk bersantai sebentar. Ia harus mengembalikan energinya terlebih dahulu sebelum mulai melakukan rutinitasnya membersihkan rumah. Namun, di tengah kegiatan bersantai itu, perhatian Sienna teralihkan dengan dua buah pesan yang masuk ke ponselnya. Pupil mata gadis itu melebar, ia begitu tidak sabar untuk membaca dua pesan baru tersebut.
Vina
[Sienna, are you oke? Maaf banget aku belum bisa jawab pertanyaan-pertanyaan kamu sekarang. Tapi aku percaya, suatu saat kamu pasti akan tetap bisa mengingatnya kok, kalau memang itu adalah sesuatu yang harus kamu ingat.]
[Kita masih bisa berteman, kan?]
Sienna menghela napas membaca dua pesan tersebut. Meski pesan pertama berisi sesuatu yang tidak ia inginkan, tetapi setidaknya ia merasa lega, karena setelah ini dirinya tak akan merasa sendirian lagi. Ia akan memiliki teman. Seseorang yang peduli dengannya selain Galen dan keluarganya.
Sienna
[Kemarin sempat drop, tapi aku udah oke kok.]
[Bisa. Justru aku senang kalau kamu masih mau komunikasi dan ketemu sama aku. Makasih ya, Vin.]
[Aku nggak bisa ingat banyak hal di hidupku. Aku juga nggak ingat dulunya aku pernah terteman akrab sama siapa aja. Jadi, aku senang kalau pada akhirnya aku bisa memiliki teman buat ngobrol lagi.]
Vina
[Aku cukup syok tahu kamu nikah sama Kak Galen. Tapi aku nggak akan tanya banyak soal itu. Yang penting, kalau kamu mau ketemu sama aku, tolong izin Kak Galen dulu, ya! Aku nggak mau dia sampai salah paham.]
Sienna mengernyitkan keningnya. Ia pikir, kenapa juga Galen harus salah paham? Bahkan, mungkin lelaki itu tidak akan peduli ke mana pun dan dengan siapa pun Sienna pergi. Namun, Sienna memilih untuk meng-iya-kan permintaan sahabatnya itu. Kalau memang Vina tidak tahu bagaimana hubungan rumah tangganya dengan Galen, Sienna pikir akan lebih baik jika sahabatnya itu tidak akan pernah tahu.
“Apa dulu Vina tahu ya soal perasaanku dengan Kak Galen? Tapi, kok dia kayak nggak menyangka gitu aku menikah sama Kak Galen. Memang seperti apa hubungan kami dulu? Apa hubungan kami pernah tidak baik?” gumam Sienna.
Setelah beristirahat tidur siang, akhrinnya Sienna merasakan tenaganya sudah pulih kembali. Ia pun mulai mengerjakan pekerjaan rumah yang sejak kemarin tak tersentuh olehnya. Tak lupa, ia juga mengeluarkan pakaian kotor yang ia gunakan ketika di rumah sakit untuk ia cuci. Dan ia baru menyelesaikan semua pekerjaan rumah itu menjelang petang.
“Astaga! Aku belum masak!” seru Sienna yang akhirnya sadar jika sebentar lagi adalah jam pulang suaminya, sedangkan dirinya belum menyiapkan makan malam untuk mereka.
“Aduh, masih sempat nggak ya? Kak Galen bakal lembur nggak ya? Apa sebaiknya aku pesan makanan aja biar cepet?”
Sienna menoleh terkejut ketika melihat pintu utamanya terbuka. Padahal, harusnya Galen baru sampai rumah setengah jam lagi. Namun, nyatanya kini pria itu sudah sampai.
“K- Kak?” kaget Sienna. “Kok aku nggak dengar suara mobilnya?” Sienna berusaha mengalihkan fokusnya, mencari topik pembicaraan untuk menyambut sang suami.
“Lagi ada perbaikan jalan di depan. Jadi mobilnya aku tinggal di depan komplek, sama mobil tetangga lain juga,” jawab Galen.
Ah… Sienna sampai belum mengecek kembali ponselnya dan tak melihat grup chat kompleknya. Pasti sudah ada pemberitahuan di sana.
“Kakak mau langsung mandi aja atau mau aku siapkan sesuatu?” tawar Sienna. Ia harap, lelaki itu akan langsung mandi, sehingga Sienna bisa memiliki waktu untuk segera memesan makanan.
Galen menatap Sienna dengan aneh. Ia menangkap gelagat yang tak biasa dari gadis itu. “Apa yang sedang kamu sembunyikan?”
“Hah?” Sienna mengejap. Lidahnya terasa kelu seketika. Namun, ia rasa ia tak akan bisa membohongi Galen. “Itu… aku lupa belum masak. Soalnya tadi habis beres-beres rumah sama nyuci.”
Galen tampak menghela napas jengah. Sienna meremat tangannya sendiri, khawatir dirinya akan menerima semburan kemarahan dari suaminya. Meski Galen sering kali bersikap menyenbalkan dan Sienna sudah terbiasa dengan itu, tetapi, selama ini Sienna selalu menjaga suasana hati Galen ketika di rumah.
Ia tak peduli seberapa sering Galen menolak masakannya, atau berkomentar tajam tentang sesuatu yang Sienna lakukan. Ia tetap terus melakukan kewajibannya dan memberikan yang terbaik untuk Galen, termasuk melayani pria itu selepas pulang kerja.
Namun, hari ini ia teledor. Ia bisa melupakan hal yang begitu penting seperti menyediakan makanan di atas meja sebelum Galen pulang. Dan di luar dugaan, bahkan pria itu ternyata pulang lebih cepat dibanding biasanya.
“Aku akan mencoba bikin-”
“Nggak perlu. Aku akan cari makan di luar sama Joana,” potong Galen dengan nada dingin.
Joana? Sienna seperti pernah mendengar nama itu. Namun, mengingat Galen yang mengatakannya, maka kemungkinan besar wanita itu adalah salah satu kekasih Galen.
Ya. Galen memang memiliki beberapa kekasih di luaran sana, dan Joana adalah salah satunya. Beberapa dari mereka pernah juga dibawa pulang oleh Galen, tetapi Sienna tetap berusaha untuk tidak mempermasalahkan hal itu, karena ia tidak mau mendebat dan memiliki masalah dengan Galen.
“Aku benar-benar minta maaf. Atau kalau Kakak mau, aku bisa pesankan makanan kok. Nanti biar aku minta pengantaran yang expres. Kakak mau pesan apa?” Hingga detik-detik terakhir pun Sienna masih berusaha untuk menahan suaminya agar tak menghabiskan lebih banyak waktu bersama wanita lain. Namun…
“Nggak perlu. Pesen aja apa yang kamu mau! Kamu juga bisa makan dulu, nggak perlu nunggu aku karena aku pasti akan pulang larut.” Selepas berkata demikian, dengan raut wajah datarnya, Galen berjalan melewati Sienna. Ia berjalan menaiki tangga, menuju ke kamarnya yang berada di lantai atas.
Sementara itu, Sienna hanya bisa menghela napas putus asa. Kali ini, ia bahkan tak bisa sedikit pun menyalahkan Galen atas luka di hatinya. Karena ia merasa, jika dirinya sendiri lah yang bersalah dan mengakibatkan Galen memiliki alasan untuk pergi bersama wanita liarnya.