Sienna berusaha menghubungi Vina untuk melanjutkan percakapan mereka yang sempat terpotong kemarin. Namun, Vina tidak langsung menjawab panggilannya. Pesan yang Sienna kirim pun tak juga mendapat balasan dari gadis itu.
“Stella siapa?” gumam Sienna bingung. Semakin ia tidak bisa mengingatnya, semakin Sienna yakin jika pemilik nama itu adalah salah satu bagian penting yang hilang dari ingatannya.
“Ssshhh…” Sienna meringis merasakan pening di kepalanya. Bersamaan dengan itu, bel rumahnya berbunyi. Sienna hendak bangkit untuk membukakan pintu. Namun, baru dua langkah ia beranjak, ia kehilangan keseimbangannya dan berakhir jatuh di atas lantai.
“Sienna! Astaga!”
Sienna dapat mengenali suara itu. Tak lama, pemilik suara itu sudah berada di hadapan Sienna. Ia memapah Sienna untuk bangkit, lalu membantunya untuk duduk kembali di sofa.
“Kamu kenapa?”
“Pusing, Ma,” lirih Sienna.
Wanita itu akhirnya mengerti apa yang terjadi pada Sienna. “Di mana obatnya?”
Sienna menggeleng. Ia bahkan tidak ingat di mana terakhir kali ia meletakkan obatnya.
“Tunggu sebentar, ya! Biar Mama carikan dulu obatnya. Kamu di sini aja!” ucap wanita paruh baya yang menolong Sienna. Setelah itu, Beliau beralih ke kamar Sienna untuk mencari obat yang biasa Sienna minum.
Beliau sempat mengelus d**a begitu masuk ke kamar berukuran tiga kali tiga setengah meter itu. Suasananya masih hangat, layaknya kamar huni biasanya. Kamar itu tampak rapi dan nyaman. Namun, justru itulah yang membuat d**a wanita itu terasa sesak.
“Mereka masih tidur secara terpisah,” batinnya nelangsa.
Kemudian, Beliau kembali mencari obat milik Sienna. Dan kembali ke ruang tamu setelah mendapatkan benda yang ia butuhkan tersebut. Hanya saja, saat Beliau kembali, tubuhnya terasa lemah seketika ketika melihat Sienna yang sudah tidak sadarkan diri.
***
“Mama sudah bawa Sienna ke Rumah Sakit Pelita. Dan dia belum sadar. Mama nggak mau tahu, pokoknya kamu harus pulang cepat dan langsung ke sini buat jagain Sienna!”
“Kerjaanku banyak, Ma. Lagian sebenarnya nggak perlu dibawa ke rumah sakit juga dia nanti akan sadar sendiri. Biasa, kan, dia sering memaksakan diri buat mengingat sesuatu?”
“Mama nggak mau tahu, Galen. Yang Mama mau, pokoknya kamu harus ada waktu Sienna siuman. Dia butuh kamu, Nak. Biar bagaimana pun kamu suaminya sekarang. Mama berharap banyak sama kamu.”
Di seberang sana, Galen menghela napas panjang. Ia tidak pernah bisa membantah ucapan ibunya. Apalagi, ketika sang mama sudah mulai menggunakan nada memohon seperti ini.
“Akan Galen usahakan,” putus Galen, sebelum mengakhiri panggilan suara tersebut.
***
Sienna merasa tubuhnya seperti diputar. Tubuhnya terasa lemas dan sedikit gemetar. Namun, kesadarannya mulai pulih, membuat ia mau tidak mau segera membuka matanya.
“Sayang, kamu sudah sadar?” Wanita yang ia panggil ‘Mama’ itu segera mendekat. Beliau menggenggam jemari Sienna dengan erat. “Apa yang kamu rasain sekarang? Perlu Mama panggilin dokter?”
Beliau lah Mama Ilona -- ibunda dari Galen, sekaligus mertua dari Sienna. Bagi Sienna, Mama Ilona bukan hanya sekadar mertua. Beliau adalah orang yang sangat baik dan pengasih. Sienna bisa merasakan bagaimana kasih sayang Mama Ilona terhadapnya. Bahkan, bisa dikatakan Beliau lah orang yang paling peduli pada Sienna setelah Sienna bangun dari komanya beberapa waktu yang lalu.
Sienna menahan lengan Mama Ilona, kemudian menggeleng lemah. “Mama di sini aja, temani Sienna. Sienna udah nggak papa kok, Ma.”
Mama Ilona membelai kepala Sienna. Wajah gadis itu masih tampak pucat. “Apa yang sebenarnya terjadi? Ada yang memancing kamu buat berusaha mengingat sesuatu lagi?”
Sienna terdiam. Matanya terpejam sesaat ketika ia berusaha untuk mengingatnya.
“Sayang, Mama kan udah bilang. Jangan terlalu memaksakan diri! Kalau kamu belum bisa ingat, nggak papa. Itu artinya memang belum waktunya buat kamu mengingat semuanya. Semakin kamu memaksakan diri untuk mengingatnya, yang ada kamu malah akan semakin tersiksa. Kamu akan terus merasa kesakitan,” ucap Mama Ilona lembut. Tatapannya tampak sendu. Sienna bisa melihat ketulusan dari sorot mata itu.
“Maaf. Maafin Sienna yang bikin Mama khawatir terus ya, Ma. Maaf juga karena Sienna cuma bisa ngerepotin Mama,” ungkap Sienna. “Bahkan orang tua Sienna nggak peduli sama Sienna. Mereka benci Sienna. Tapi Mama sayang banget sama Sienna,” lanjutnya.
“Sssttt… kamu bicara apa, sih? Mama kan mama kamu juga. Kamu itu anak Mama juga, sayang. Sudah sepantasnya Mama sayang sama kamu.”
“Saat anak Mama memutuskan untuk menjadikan kamu sebagai istrinya, saat itu juga kamu menjadi bagian dalam diri Mama. Saat itu juga kamu menjadi salah satu anak Mama,” imbuh Mama Ilona.
“Jangan bicara seperti itu lagi, ya! Hati Mama sakit. Mama nggak mau anak Mama merasa dirinya tidak berharga. Kamu berharga, sayang. Mama sayang banget sama kamu.”
Air mata Sienna menetes begitu saja, begitu deras hingga dadanya tak kuasa menahan sesak. Namun, Mama Ilona langsung menenangkannya.
Tak lama, pintu kamar rawat Sienna terbuka. Galen masuk dengan raut wajah dinginnya. Ia menatap Sienna dengan raut wajah datar, seolah tak peduli jika perempuan yang sah menjadi istrinya itu kini sedang terbaring tak berdaya di atas brangkar.
“Bagus kamu sudah datang. Sini duduk! Mama mau carikan makanan dan camilan buat Sienna. Kata dokter, Sienna harus menginap malam ini untuk observasi lebih lanjut,” kata Mama Ilona.
Perhatian Galen teralihkan pada sang ibunda. Galen menyentuh lengan ibunya dengan lembut. “Ma, Mama di sini aja. Biar Galen yang-”
“Mama udah di sini dari siang tadi. Sekarang gantian kamu yang jaga Sienna!” potong Mama Ilona dengan nada tegas.
Galen tak bisa melawan. Akhirnya, lelaki itu pun membiarkan mamanya pergi. Lalu, ia kembali menoleh ke arah perempuan dengan mata memerah yang terbaring di atas tempat tidur. Tanpa mengatakan apapun, Galen berbalik. Ia memilih duduk di sofa panjang yang berada di dekat pintu, cukup jauh dari tempat tidur pasien.
Sienna tahu, Galen sedang menghindarinya. Jelas sekali jika kedatangan pria itu hanya dilandasi keterpaksaan.
“Mama ya yang ngabarin Kakak kalau aku masuk rumah sakit?” tanya Sienna, sekadar untuk basa-basi, agar suasana di dalam ruang rawatnya tidak terlalu sepi.
“Hm.” Galen menjawab singkat.
“Mama juga yang minta Kakak buat ke sini? Pasti Mama mintanya dengan sedikit memaksa,” tebak Sienna. “Maaf ya, Kak. Aku benar-benar nggak tahu. Mungkin saat Mama ngabarin Kakak, aku masih belum sadar. Jadi aku juga nggak bisa menghentikan Mama-”
Tawa Galen membuat Sienna menghentikan ucapannya. “Kamu pikir kamu bisa menghentikan Mama? Kamu pikir kamu siapa sampai bisa mengatur Mama? Mentang-mentang Mama simpati ke kamu, kamu jadi makin besar kepala, ya?”
Ucapan Galen berhasil menggores hati Sienna. Memang siapa yang tidak akan sakit hati saat mendengar kalimat demikian?
“Maksud aku bukan begitu. Aku cuma-”
“Sudah. Kamu diam saja! Kalau kamu maksain banyak omong dan sakit lagi, yang ada aku yang akan kena marah Mama,” potong Galen dengan nada kesal. Lalu, pria itu memilih untuk menyibukkan diri dengan ponselnya.
Galen juga sempat beranjak sebentar, pergi keluar ketika ponselnya bergetar.
Dan Sienna hanya bisa tersenyum miris. Ia bisa menebak, jika yang menghubungi suaminya itu pasti adalah salah satu wanita milik Galen. Mereka pasti mencari-cari keberadaan Galen yang tidak bisa menemui mereka malam ini.
“Apa yang harus aku lakukan? Apa aku salah jika aku menginginkan perhatian dari suamiku sendiri? Aku bahkan tidak tahu alasan kenapa dia bersikap seperti ini padaku. Aku hanya ingin memiliki kehidupan rumah tangga yang normal seperti orang-orang lainnya. Apa keinginanku itu terlalu berlebihan?” batin Sienna pilu.