BAB 14

1202 Kata
            Kakek mengajak Lanna, Elsha dan Ramon ke teras belakang rumah. Kakek  menjepit kanvas pada easel yang menghadap ke arah Lanna yang sedang duduk bersama Elsha di pangkuannya. Elsha sepertinya paham bahwa dirinya akan menjadi objek lukisan Kakek. Ia bergelut manja pada Lanna dan Lanna menyukai itu.             “Kek, mending Lanna ganti pakai gaunnya mamah, deh.” Seru Ramon seraya menggigit kue brownies lalu menawarkan kue brownies bekas gigitannya pada Lanna secara asal-asalan.             “Kamu itu, menawarkan kue tapi bekas gigitan.” Protes kakek sebal pada tingkah cucunya itu. Yang diprotes hanya tertawa.             “Coba kamu ambilkan kue untuk dipakai Lanna.”             “Kue?” dahi Ramon mengerut heran. Kue untuk dipakai Lanna?             “Maksudnya gaun. Gaunnya mamah kamu. Cepat ambil, Kakek sudah siap nih buat lukis Lanna.”             “Siap bos!” Ramon langsung lenyap.             Meskipun agak tidak percaya dengan keahlian Kakek melukis dirinya, tapi Lanna mencoba berusaha baik-baik saja dan setuju menjadi objek lukisan Kakek bersama Elsha.             Elsha mengeong berkali-kali. Dia tampak kesal dan sesekali menjilat tangan mungilnya.             Selang beberapa menit, Ramon muncul dengan membawa gaun vintage motif bunga cherryblossom milik mamah. Dia menyuruh Lanna mengganti bajunya dengan gaun vintage di kamar David.             “Seharusnya Elsha juga pakai gaun. Elsha punya gaun enggak?” tanya Kakek pada Ramon.             Ramon berpikir sejenak. “Kayaknya enggak deh, Kek. David nggak pernah beli gaun buat Elsha adanya juga baju bissboll.”             Kakek tidak protes. Lebih baik Elsha telanjang daripada dia harus mengenakan pakaian bissboll.             Lanna datang dengan gaun vintage yang membalut tubuhnya. Untuk beberapa saat Ramon terkesiap. Hanya untuk beberapa saat sebagai kekaguman terhadap calon adik iparnya, meski tak menampik kalau lama kelamaan bersama Lanna bisa membuatnya jatuh...             “Ayo duduk, Lanna. Kakek sudah siap melukis kalian berdua.” Ujar Kakek. Elsha kembali ke pangkuan Lanna, dia menatap beberapa saat pada Lanna. Seperti tatapan Ramon. Hanya saja Elsha adalah kucing betina sehingga dia tidak mungkin mempunyai kekaguman yang sama seperti kekaguman Ramon pada Lanna.             Lanna menunduk membelai lembut bulu Elsha yang menikmati sentuhan tangan Lanna. Ramon menghabiskan kue browniesnya dengan sekali lahap. Ponselnya berdering tertera nama di layar, David.             “Halo,” suara di sana.             “Iyaaa.” Balas Ramon.             “Lanna ada di sana ya? Lagi ngapain dia?”             “Lagi dilukis kakek nih sama Elsha.”             “Aduh! Kakek apa-apaan sih lukis Lanna segala. Lukisan Kakek kan jelek.”             Ramon tertawa sesaat. “Ya namanya juga keinginan Kakek. Mungkin dia ingin melukis calon istri cucunya. Lagian Lanna nggak keberatan kok dilukis Kakek.”             “Yah, Lanna sih nggak bakal nolak ya dia kan penurut. Yasudah. Titip Lanna ya. Anterin dia pulang nanti.”             “Ya ampun tanpa kamu suruh juga aku udah jadi ojeknya Lanna.”             Kali ini David yang tertawa.             Telepon terputus.             Ramon menunggu selama tiga puluh menit dan Kakek belum juga selesai melukis Lanna. Elsha tampak sudah tidak nyaman berada terlalu lama di atas terik matahari. Lanna berusaha untuk tetap membuat Elsha nyaman meskipun dia sendiri kepanasan karena sinar matahari tepat berada di bagian atasnya dengan gaun vintage motif cherryblossom yang agak tipis.             “Kek, cepetan dong! Lanna sama Elsha kepanasan tuh.” Seru Ramon yang merasa kasian. Akhirnya Ramon berinisiatif membawa payung. Satu payung untuk Kakek yang dipegangi asisten rumah tangga dan satu payung lagi untuk Lanna dan Elsha yang dipeganginya. Awalnya Kakek marah dan sebal tapi ide Ramon cemerlang juga. Setidaknya Kakek tidak kepanasan.             “Awas saja kalau aku tidak ikut dilukis Kakek.” Gumam Leon pada Lanna. Lanna tersenyum, memandang sekilas Ramon yang berada di belakangnya dengan sebelah tangan memagang payung dan tangan satunya yang disembunyikan di belakang punggungnya. Mirip seperti seorang ajudan. Ajudan pribadi Lanna.             Enak juga ya punya kakak kaya Ramon.             “Lann, sebenarnya kakek itu nggak jago lukis lho. Kamu jangan kaget kalau lukisannya parah.” Kata Ramon dengan volume nada rendah.             “Aku sudah pasrah, Kak. Yang penting Kakek seneng, aku ikut seneng.”             Ramon terbahak.             “Tapi walaupun lukisan Kakek itu dibawah standar, dia selalu melukis dengan hati. Kamu beruntung dilukis Kakek. Biasanya yang Kakek lukis itu buku, tanaman liar, tikus, burung terbang dan seorang pemadam kebakaran. Aku dan David tidak pernah sekali[un dilukis Kakek.”             Lanna menggigit bibir bawah untuk menahan tawa. Elsha mengeong resah.             “Elsha sabar ya. Kamu juga baru pertama kalinya jadi objek lukisan Kakek kan?” tanya Ramon. Elsha kembali mengeong.             “Tema lukisan Kakek hari ini adalah melukis Lanna dan Elsha. Oh iya, tadi David menelpon katanya titip Lanna. Emangnya kamu barang apa harus dititipin segala.”             Lanna merasa sudut hatinya menghangat mendengar David menelpon Ramon dan menitipkan dirinya pada Ramon.             “Lukisan selesai!” seru Kakek girang.             Elsha berlari ke arah Kakek. Ramon dan Lanna bernapas lega. Mereka menyusul Elsha.             “Yeaaah! Ada aku!” seru Ramon bahagia.             Lukisan itu tidak cukup bagus. Semuanya persis. Cuma ya ada Ramon juga di situ. Ramon ikut dilukis. Ramon berdiri di belakang Lanna sembari memayungi Lanna. Kalau dilihat-lihat lukisan ini seperti bertema keromantiasan.             “Romantis.” komentar asisten rumah tangga yang masih memayungi Kakek.             Ramon dan Lanna saling menatap. Mata mereka bertemu. ***             Sarah tersenyum pada kliennya. Mereka berjabat tangan dan kliennya—seorang wanita muda nan cantik bekerja sebagai seorang akuntan di sebuah perusahaan keuangan dari Jepang. Dia memesan gaun pesta pernikahan berkonsep pantai. Si klien pergi dan Sarah dengan jumpsuit warna putih kembali memasang wajah muram.             Akhir-akhir ini dia mendapat klien yang baik dan ramah. Tidak seperti tahun-tahun lalu yang kliennya bawel dan banyak protes. Sarah bersyukur. Tapi entah dari sampai kapan dia merasa hatinya pilu. Dia terus mengingat soal pernikahan David dan Lanna. Bagaimana caranya meredam kesakitan yang tidak terlihat ini?             Setelah pernyataan bahwa dirinya menginginkan David, Sarah masih ingat ekspresi David sebelum Ron datang. Ekspresi datar namun ada keterkejutan di sana. Di mata David. David belum sempat mengatakan apa pun. Ron datang dan mengajak David pulang. Sarah agak menyesali karena dia mengatakan sesuatu tentang hatinya di saat yang tidak tepat. Mungkinkah David mau menemuinya kalau Sarah meminta bertemu sebentar di sebuah tempat semacam—hotel? Apakah David mau menemuinya?             Sarah menggeleng. Dia berusaha untuk tidak melakukan hal bodoh.                          Sadarlah Sarah, David akan menikah dengan wanita lain.             Sialnya, semakin Sarah mengingat soal pernikahan David semakin dia menginginkan David. Sarah mengambil ponselnya dan menelpon David. Perasaan rindunya tak terbendung lagi. Jangan berharap lebih, Sarah.             “Iya,” sahut David di sana.             Sarah memejamkan mata sesaat.             “Sarah?” suara David lagi.                   “Iya, David. Apa aku ganggu?”             “Enggak. Kebetulan lagi nggak ada kerjaan sih. Ada apa?”             Hening sesaat.             “Aku Cuma mau bilang aku kangen.”             Hening.             David tidak menyahut beberapa lamanya hingga Sarah memilih kembali bersuara untuk memecahkan keheningan yang kikuk.             “Ma’af. Aku tahu seharusnya aku nggak gitu. Aku Cuma mau dengar suara kamu aja.”             “Ya, nggak papa kok. Kamu lagi apa?”             Pertanyaan itu menciptakan cerah di wajah Sarah. Dia teramat suka pertanyaan sepela yang ditanyakan David. Sudut-sudut bibirnya tertarik ke atas.             “Aku lagi duduk aja. Emmm, kamu bisa makan siang denganku?”             Belum ada sahutan dari David untuk beberapa detik lamanya hingga Sarah kembali berkata. “Aku nggak maksa. Kalau nggak bisa, ya nggak papa.”             “Bisa.”             Sarah kembali tersenyum. Setidaknya dia bisa bertemu David hari ini untuk menghilangkan rasa rindunya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN