Sarah Anderson adalah wanita berusia 24 tahun. Seorang keturunan Finlandia. Ayahnya orang Indonesia dan Ibunya orang Finlandia. Kedua orang tua Sarah meninggal ketika dia masih berusia 12 tahun. Sejak saat itu dia diasuh tantenya—adik dari ayahnya. Dia memiliki minat di bidang fashion sejak berusia 8 tahun. Saat itu dia sedang menonton sebuah acara yang memperlihatkan panggung catwalk dengan puluhan model berkaki jenjang yang mengenakan gaun-gaun indah. Tepat saat itu dia membatin untuk bisa menciptakan gaun-gaun yang lebih indah dari gaun-gaun yang dilihatnya.
Dia kuliah di salah satu universitas di Perancis mengambil jurusan fashion designer. Setelah lulus dia membuka bisnis hasil rancangan gaun-gaunnya. Awalnya hanya melalui internet lalu seorang selebriti papan atas menyukai salah satu rancangannya. Selebriti itu membeli rancangan gaun Sarah dan diikuiti selebriti lainnya hingga Sarah sekarang dikenal di kalangan selebritas Indonesia sebagai perancang gaun yang elegan dan menawan.
Setiap kali ada klien yang meminta dia merancangkan gaun Sarah melakukannya dengan totalitas. Dia akan selalu berkomunikasi dengan kliennya agar gaun yang akan dikenakan kliennya sesuai dengan ekspektasi si klien.
Sekarang Sarah sudah memiliki kantor sendiri. Di mana kantor ini juga memiliki ruangan khusus untuk karyawannya yang bekerja. Sarah memiliki karyawan lebih dari 15 orang. Gaun-gaun pengantin yang indah membungkus tubuh mannequin yang berada di depan etalase untuk menarik perhatian pelanggan. Dia tentu saja bangga dengan hasil pencapaiannya saat ini.
Sarah adalah tipikal wanita cuek. Dia tidak terlalu berambisi untuk memiliki pasangan. Dia trauma karena pernah disakiti seorang pria yang dulu—pernah sangat-sangat dicintainya hingga saat ini dia sudah menolak banyak pria yang mencoba mendekatinya termasuk David. Parasnya yang cantik dengan mata hazel dan kulit putih khas wanita campuran Asia dan Eropa membuatnya digilai banyak pria. Salah satu pria yang sampai saat ini masih menggilainya adalah David. Sarah awalnya hanya ingin menjalin hubungan tanpa komitmen dengan David, tapi dia takut jatuh terlalu dalam dengan David dan memutuskan untuk menjauhi pria itu. Namun berita soal pernikahan David membuatnya entah bagaimana merasa sakit. Dadanya nyeri. Dia kurang percaya dengan kabar pernikahan David yang mendadak hingga dia menghubungi David dan David mengiyakan soal itu. Bahkan David meminta Sarah untuk merancang gaun pernikahan calon istrinya.
Sarah ingin menolak karena dia tidak rela pria yang mencintainya menikahi wanita lain. Tapi akankah menjadi boomerang bagi dirinya jika dia menolak permintaan David? Dengan setengah hati dia mengiyakan. David bercerita bahwa dulunya Lanna adalah seorang sekretarisnya dan Lanna berhasil membuatnya jatuh cinta dalam waktu singkat. Karena penasaran Sarah mencari tahu sosok Lanna lewat media sosial. Di i********: dia menemukan foto-foto wanita itu. Dia berhidung mancung dan rambut panjang hitam legam. Memiliki tinggi sekitar 165-an. Sarah lebih banyak menemukan foto buku, ice cream dan quote berbahasa inggris di feed i********: Lanna. Foto selfie dengan gaya duck face membuat Sarah sedikit geli.
“Manis,” pujinya mengakui.
David meminta waktu Sarah untuk bertemu dengan calon istrinya. Sarah meluangkan waktu besok untuk bisa bertemu Lanna. David bilang Lanna akan datang sendirian karena dirinya ada kepentingan ke luar kota.
Sarah meletakkan ponselnya di atas meja. Dia memilih menyesap teh hijau, menenangkan diri dan merileksasikan diri. Barangkali jika dulu dia tidak mengabaikan David dan menerima David sepenuhnya sebagai kekasihnya, mungkin yang menjadi calon istri David sekarang adalah dirinya.
Kini hanya tinggal penyesalan. Sarah menyesal karena dia tahu David selalu menjalin hubungan dengan serius. Dia tahu kalau David berbeda dengan mantan kekasihnya yang berengsek. Kalau David mungkin tipe pria yang memilih memutuskan kekasihnya dibandingkan harus menyakiti kekasihnya.
“Aku mulai merindukannya dan menginginkannya...” gumamnya.
Besok adalah pertemuannya dengan Lanna. Dia mungkin bingung harus bersikap bagaimana pada Lanna. Dia tidak akan pernah menyukai Lanna karena Lanna adalah calon istri pria yang diinginkannya sekarang.
Ponselnya berdering. Nomor asing. Dahi Sarah mengerut.
“Halo,” jawab suara ceria di seberang sana.
“Ya, Sarah Anderson di sini.” sahut Sarah formal.
“Halo, Sarah. Aku Lanna Devina calon istri David. David memberiku nomormu agar aku dapat menghubungimu. Oh ya, untuk besok kita bertemu jam berapa ya?”
“Jam 10 pagi. Aku ada di kantor jam 10 pagi.”
“Oke. Terima kasih.”
“Ya sama-sama.”
Ponsel mati.
***
“Dia nggak terlalu ramah.” Celetuk Kirana saat Lanna membicarakan soal Sarah.
“Nggak terlalu ramah gimana?” Lanna mengambil keripik kentang di toples dan menggigitnya.
“Iya. Aku pernah denger soal dia yang nggak murah senyum. Siap-siap sakit hati aja ya kalau ngobrol dengan si Sarah.”
“Emang kamu pernah ngobrol sama Sarah.”
“Hehe, enggak.”
“Jangan percaya omongan oranglah.” Lanna mengingatkan.
Kirana melepas kacamatanya. “Bukannya gitu, kamu lihat aja raut wajah Sarah kaya gimana?”
“Emang karakter seseorang ditentukan bentuk wajahnya?”
“Ya, bentuk wajah juga mempengaruhilah.”
Lanna terdiam. Dia hanya agak heran kenapa David memilih gaun untuk pernikahannya dirancang oleh wanita yang dicintainya; Sarah Anderson. Kenapa harus si Sarah. Desainer terkenal kan banyak. Apa David ingin melihat Sarah dalam dirinya dari gaun yang dipakainya nanti?
“Tapi ya, menurutku kalau kamu sudah menikah dengan David, Sarah bisa jadi pihak ketiga, lho.”
Dahi Lanna mengerut. “Maksudnya?”
“Ya, secara David masih mencintai Sarah.”
“Lagian aku menikah dengan David kan bukan karena cinta. Itu hak David untuk masih atau tetap berhubungan dengan siapa pun.” ujar Lanna sembari berusaha keras menjaga nada suaranya agar tetap terdengar ringan.
“Kamu rela kalau Sarah jadi mistressnya David?” tanya Kirana dengan mulut penuh keripik kentang.
Lanna memilih diam. “Nggak semua mistress bisa happy ending.”
“Hahaha,” Kirana terkekeh.
“Marylin Monroe yang cantik, populer dan hot aja bisa tragis gitu kematiannya.”
“Kamu udah jatuh cinta sama David?” tanya Kirana memandang antusias Lanna. Dia tersenyum menggoda.
“Apaan sih?” seketika wajah Lanna bersemu merah.
“Nah, lho, ketauan.” Kirana kembali terkekeh.
“Stop, please! Aku dan David nggak saling cinta.”
“Masa?” Kirana mengedip-ngedip.
Lanna melempar bantal sofa ke wajah Kirana yang terus menggodanya. Yang dilemparin bantal hanya terbahak. “Ciye, jatuh cinta sama bos.”
“Berisik!”
***
Lanna mengenakan celana jeans dan blouse bahan balotelly bermotif bunga lilly. Sebelum pergi dengan ojek online Lanna menyempatkan diri untuk membaca buku thriller yang menceritakan pembunuhan yang dilakukan oleh wanita simpanan. Dia begidik ngeri saat si wanita itu membunuh istri sah si pria dengan cara menusuknya dengan pisau berkali-kali dan memutilasi semua bagian tubuhnya.
“Uh,” Lanna meletakkan buku itu di atas meja bulat dengan perasaan ngeri. “Sadis amat sih, penjabarannya jelas lagi.” Komentarnya.
Kirana sudah berangkat kerja 15 menit lalu. Dia sudah mengurusi urusan resign Lanna. Kirana berpesan agar Lanna bisa jaga image terhadap Sarah. Setidaknya, Lanna bersikap anggun dan tidak terlalu bodoh berbicara panjang lebar. Tadi malam Kirana juga memberikan gambaran soal bentuk gaun pernikahan yang bisa dijadikan referensi. Gaun Kate Middleton yang anggun dan elegan dan gaun pernikahan Meghan Markle.
Yang paling membuat Lanna penasaran pada Sarah adalah soal perasaan Sarah pada David. Apakah dia mencintai David atau tidak? Tapi mungkinkah pria setampan David tidak bisa menjatuhkan hati Sarah? Apa kurangnya David? Di mata Lanna, David nyaris sempurna secara fisik kecuali satu, dia suka menyuruh-nyuruh orang sembarangan. Memang sih dia bos tapi kan bukan berarti seenaknya saja menyuruh-nyuruh Lanna membersihkan ruangannya. Itu kan tugas office boy.
Sesampainya di kantor Sarah, Lanna bertemu salah satu karyawan yang mempersilakannya untuk duduk di kursi minimalis berwarna putih dengan meja persegi kecil. Ada dua kursi di situ. Mungkin di sinilah tempat Sarah biasa mengobrol dengan kliennya.
Ketika Sarah menghampiri Lanna, Lanna cukup terpukau dengan kecantikan Sarah yang apa adanya. Desainer muda itu mengenakan kemeja berwarna putih bahan linen. Rambutnya diikat menyerupai kucir kuda.
“Saya Sarah,” dia mengulurkan tangan di depan Lanna. Sarah hanya tersenyum tipis tapi Lanna membalasnya dengan senyum super lebar. Senyum ramah, teramat ramah.
“Lanna.” Sahutnya.
Sarah duduk dihadapan Lanna. Dia membawa sebuah katalog yang diberikannya pada Lanna. “Kamu bisa lihat-lihat dulu hasil rancangan saya.” Katanya tanpa banyak basa-basi.
“Saya ke belakang dulu sebentar ya.” Sarah bangkit, tersenyum tipis.
“Ya,” sahut Lanna, lalu dia melihat-lihat hasil rancangan Sarah di katalog. Tetapi pikirannya terpusat pada Sarah. Pada kecantikan wanita itu. Kulit putih bersih alami, hidung mancung yang jauh lebih cantik dibandingkan hidungnya. Iris hazelnya yang indah. Stylenya yang anggun. Pria mana yang tak tertarik pada wanita secantik dan seberbakat Sarah.
“Pasti David masih menginginkan Sarah.” Gumam Lanna, yang entah bagaimana seakan ada api kecil di dalam gumamannya.
***