Mandul

1877 Kata

Bagian 25 Terdengar deru mesin mobil yang semakin lama semakin mendekat. Lalu mobil tersebut pun berhenti tepat di depan rumah. Aku menyingkap tirai jendela kaca untuk melihat siapa yang datang. Ternyata Mas Ilyas dan juga Nia yang datang. Sudah kuduga. Aku kembali duduk di atas sofa dengan santai untuk menyambut kedatangan dua sejoli itu. "Bersiaplah, Sandra," ucap Mas Rian. Aku pun menganggukkan kepala sambil mengacungkan jempol. Aku sudah benar-benar siap menghadapi mereka berdua. "Sandra, kenapa kamu menjual rumah itu tanpa sepengetahuanku, hah? Asal kamu tahu, kamu tidak berhak menjualnya!" Kalimat itulah yang diucapkan Mas Ilyas setibanya di rumah ini. Aku sudah menduga bahwa Mas Ilyas akan menanyakan hal itu, pasti ia tidak akan terima dengan apa yang telah aku lakukan. "S

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN