PART 6

2149 Kata
Melihatmu murung adalah pemandangan yang jarang sekali terjadi. Meski aku melihatnya sekali, beberapa detik kemudian, murung itu sudah kembali berubah menjadi tawa yang menyayat hati.  *** Deeka dibangunkan paksa oleh seseorang. Deeka menutup telinganya dengan bantal ketika mendengar jam alarmnya berbunyi sangat keras. Seingat Deeka, ia tidak menyetel alarm untuk hari ini. Namun, kenapa alarmnya bisa berbunyi sepagi ini? Deeka kira, setelah salat subuh, ia bisa kembali tidur dengan tenang. Ini kan masih hari libur, astaga!                 Deeka masih berusaha memejamkan mata, dengan bantal yang menutupi kedua telinganya. Namun,tak berapa lama, ia merasa bantalnya ditarik paksa oleh seseorang. Deeka langsung mendelik kesal, bersiap memarahi siapa pun yang mengganggu tidur cantiknya. “Ngapain, sih, bangunin—eh, Bang Indra?”                  Indra membuang bantal yang ia pegang ke lantai, memandang adik bungsunya yang terlihat berantakan karena baru bangun tidur. “Cepat mandi, gue tunggu di meja makan.”                 Kalimat Indra benar-benar terdengar seperti perintah yang sama sekali tidak bisa dibantah. Namun, bukan Deeka namanya kalau langsung menurut patuh. “Astaga, ini masih pukul sembilan. Biarkan Hamba tidur lima menit lagi, Tuan.”                 Ketika Deeka baru mau mengempaskan tubuhnya lagi ke tempat tidur yang empuk, Indra menarik tangan adiknya itu hingga turun dari tempat tidur. “Nggak ada lima menit, Dee! Cepat mandi, kita mau ke rumah sakit!”                 Deeka masih terlihat begitu lemas, matanya bahkan belum terbuka sempurna. “Ngapain, sih? Gue sehat banget, Bang.”                 Indra meragukan ucapan Deeka. Sudah hampir setahun sejak insiden tragis itu, Deeka sudah berkali-kali jatuh.Indra bahkan tahu adiknya sering pingsan setiap upacara bendera. Guru Deeka yang melapor ketika Indra datang ke sekolah. Sejujurnya, Indra sangat khawatir karena Deeka yang dulu tidak seceroboh sekarang. Diam-diam, Indra selalu memperhatikan kondisi Deeka sehingga ia jelas merasakan perubahan kondisi fisik adiknya itu. Indra yakin, Deeka tidak baik-baik saja. Tidak peduli berapa kali adiknya itu berbohong dan berkata ‘baik-baik saja’, Indra tetap tidak akan percaya, sebelum membuktikannya sendiri.                 “Cepat mandi, atau motor lo gue sita,” ancam Indra yang membuat Deeka membuka mulut cukup lebar. Indra memang mempuyai hak untuk menyita motor Deekakarena dulumotor itu memang miliknya. Setelah Indra mampu membeli mobil dengan gajinya sebagai penyiar radio—yang tentu saja ia tabung cukup lama—motornya jadi jatuh ke tangan Deeka. Memang sangat berbeda dengan Deeka yang tidak peduli dengan kulitnya yang akan menjadi lebih gelap. Baginya, cowok berkulit gelap itu keren. Meskipun sampai sekarang kulit Deeka tidak begitu gelap. Masih tahap kuning langsat. Ancaman Indra ternyata berhasil. Deeka menyerah, ia langsung memasuki kamar mandi setelah mengambil pakaian dan handuk. Tidak lupa, membanting pintu kamar mandi agar abangnya yang sok mengatur itu tahu bahwa Deeka kesal. Beberapa menit berlalu, Deeka sengaja berlama-lama di kamar mandi dan melakukan konser dadakan untuk menghilangkan rasa kesalnya. Deeka tidak peduli dengan suaranya yang tidak bagus, yang penting, ia mau bernyanyi. Indra masih menunggu Deeka di tepi tempat tidur, wajahnya meringis ketika mendengar nyanyian adiknya yang seperti orang kumur-kumur. “Woy, cepetan! Malah konser!” “Nggak denger, Bang! Gue lagi gosok gigi!” sahut Deeka, yang terdengar sangat jelas,tidak seperti orang yang sedang menggosok gigi. Deeka memang rada-rada. Emosi Indra selalu diuji setiap hari dengan tingkah dan ucapan Deeka yang tidak jelas. Untung satu darah.                  Setelah hampir setengah jam persiapan, Deeka akhirnya siap diajak Indra pergi ke rumah sakit. Ia memilih celana jins, kaus putih, dan jaket hitam. Mama terus memuji betapa gantengnya Deeka hari ini, sedangkan Andra mendengus geli karena merasa dirinyalah yang lebih ganteng. Memang narsistik, mungkin menurun dari Papa yang memang dulu saat muda terkenal playboy.                 “Indra, yakin Mama nggak perlu ikut?” tanya Mama terlihat sedih. “Mama bisa izin, kok.”                 Indra menggeleng, tersenyum tipis menenangkan. “Mama nggak perlu khawatir. Deeka biar Indra aja yang urus.”                 Mama akhirnya mengangguk pasrah. Setelah kedua putranya pergi, iamemandang Andra yang makan sambil bermain ponsel. “An, kamu kok nggak ikut mereka?”                 “Ngapain? Andra yakin kok Deeka sehat-sehat aja. Bang Indra aja yang berlebihan, Ma. Mending Andra di rumah nemenin Mama,” jawab Andra tersenyum manis.                 “Alah, bilang aja kamu malas keluar rumah karena panas.” Andra kemudian tertawa, kagum sekali dengan kemampuan Mama yang selalu bisa membaca pikirannya. Andra curiga, Mama punya bakat untuk menjadi cenayang atau semacamnya.                 Di sisi lain, Indra menyetir dengan begitu tenang menuju rumah sakit. Sesekali ia melirik Deeka yang heboh memainkan ponselnya. Pasti sedang main game balap motor. Entah mengapa, Indra merasa lumayan gugup. Indra sangat berharap, hasilnya menyatakan Deeka sehat tanpa penyakit apa pun. Meski ia sering memarahi Deeka, tapi sebenarnya ia sangat peduli pada adiknya yang nakal itu. Namun, Deeka tidak sadar hal itu bahkanDeeka malah memberikan berbagai macam julukan untuk Indra, karena sifat Indra yang suka marah-marah. Mulai dari Ibu tiri Cinderella, ganteng-ganteng galak, sampai dengan cowoktanpa hati. Indra terima semua julukan itu karena ia tahu Deeka pasti berpikir keras saat menciptakan semua julukan aneh tersebut.                 “Bang Indra, pemeriksaannya nanti kayak gimana? Disuntik, nggak?” tanya Deeka setelah beberapa lama tidak bersuara.                 “Gue juga sebenarnya nggak tahu. Kita lihat nanti aja.”                 “Jawaban Bang Indra malah bikin gue bayangin yang nggak-nggak, Bang.”                 Indra mendengus. “Dasar payah.”                 Sesampainya di rumah sakit, Indra menceritakan kondisi Deeka pada Dokter ahli syaraf—setelah mendapat saran dari Dokter yang menjahit dagu Deeka.  Deeka sedikit menambahkan, pandangan matanya kadang-kadang suka buram. Indra semakin mengernyit, heran karena Deeka baru memberitahunya waktu di depan dokter.                 Dokter mengusap dagu, mendengar semua gejala yang Indra dan Deeka jelaskan. “Semoga dugaan saya salah. Tapi, ada satu nama penyakit yang sekarang terlintas di kepala saya. Jadi, saya mau mencoba memastikan dengan beberapa tes. Bagaimana? Siap?”                 Deeka memandang abangnya sedikit takut. “Harus sekarang, ya, Bang?”                 Indra mengangguk. “Jangan takut. Lo pasti sehat.”                 Deeka mengembuskan napas. “Oke, Dok. Saya siap.”                 Kemudian, Dokter menyuruh Deeka berjalan bolak-balik di ruang pemeriksaan. Awalnya, Deeka berjalan begitu lancar, rasanya bahkan ia ingin berlari agar Dokter percaya dirinya sangat sehat. Namun, lama-lama langkahnya terasa limbung. Beberapa kali ia terhuyung, bahkan hampir jatuh jika tidak ditahan oleh Indra. Lalu tes berikutnya, Deeka disuruh lompat-lompat dengan satu kaki. Astaga, tesnya sangat aneh, tapi ia tetap mengikuti arahan Dokter. Berjalan dengan satu kaki ternyata tidak semudah yang Deeka kira, ia hampir jatuh beberapa kali. Merentangkan tangan pun tetap percuma.                 “Selanjutnya, sentuh hidung kamu, lalu sentuh jari tulunjuk saya. Berhentilah saat saya bilang cukup,” ujar Dokter duduk di hadapan Deeka yang jaraknya cukup dekat. Dokter mengangkat telunjuknya, sejajar dengan hidung Deeka.                 Deeka memiringkan kepala, mengernyit karena merasa tesnya semakin aneh saja. “Oke, Dok. Ini yang terakhir?”                 Ketika Dokter mengangguk, Deeka mulai melakukan arahan Dokter. Ia menyentuh hidung, lalu jari telunjuk Dokter. Terus begitu berkali-kali hingga Deeka merasa lelah. Dokter kira, Deeka melakukannya dengan lancar, ia sudah tersenyum lega, tapi detik berikutnya, jari Deeka memeleset. Ia tidak menyentuh jari telunjuk Dokter dengan sempurna seperti sebelumnya, jarinya juga memeleset saat menyentuh hidung. Deeka sendiri tidak mengerti. Mungkin, ia kurang berkonsentrasi.                 “Baiklah, cukup. Tapi, ada satu tes tambahan lagi. Deeka harus menjalani CT scan kepala untuk pemeriksaan lebih lanjut.”                 Otak? Deeka menoleh ke abangnya dengan raut takut. Mengapa? Mengapa otaknya harus diperiksa? Deeka menelan ludah, mengangguk patuh saat Dokter mengantarnya untuk melakukan pemeriksaan pada otaknya. Ya Tuhan, Deeka benar-benar sehat, kan?   ***   Sejak pulang dari rumah sakit, wajah Deeka benar-benar terlihat banyak pikiran. Ia bahkan tidak nafsu makan dan memilih pergi mencari angin dengan motornya. Tentu butuh perjuangan dan taktik agar Indra tidak tahu kalau Deeka pergi menggunakan motor. Kalau tahu, mungkin Indra akan menceramahi Deeka sampai malam. Tenang saja, Deeka mengendarai motor sangat hati-hati. Jika ia mulai merasa pusing atau kehilangan keseimbangan, ia akan cepat berhenti di pinggir jalan.                 Setelah menghentikan motornya di dekat taman, ia duduk di ayunan taman dengan kepala menunduk. Ingatan dirinya saat melakukan pemeriksaan beberapa jam yang lalu terus terbayang di benaknya. Entah, Deeka merasa sangat takut. Hasil pemeriksaan baru akan keluar minggu depan, karena tadi dokter harus buru-buru pergi ke bandara, katanya ada seminar di Singapura. Deeka sangat ingin tahu, sebenarnya ia sakit apa? Seserius apa penyakitnya? Apa separah demam berdarah? Atau, apa menular seperti cacar air? Pikiran Deeka dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa ia jawab.                 Deeka menyisir rambutnya ke belakang, memijat tengkuknya yang terasa begitu berat. Namun, tiba-tiba pipinya terasa sangat dingin. Ia menoleh, mendapati sebungkus es krim yang belum dibuka. Lebih mengejutkan lagi, ketika Deeka melihat siapa pemilik tangan yang menempelkan es krim itu ke pipinya.Ternyata itu Nara. “Lah? Kok lo di sini juga, Ra?”                 “Gue habis ke toko kue tempat nyokap gue kerja, dekat sini. Terus pas gue beli es krim di supermarket dekat taman, gue nggak sengaja ngeliat lo.”                 Deeka mengangguk, tersenyum kecil sambil membuka bungkus es krim yang Nara berikan. “Terima kasihes krimnya.”                 Nara meneliti wajah Deeka yang kini terlihat senang menjilat es krim pemberiannya. Benar-benar aneh. Padahal beberapa menit yang lalu, wajah Deeka terlihat sangat murung. Namun sekarang, wajah murung cowok itu seketika menghilang.                 Merasa diperhatikan, Deeka menoleh sambil menaikkan satu alisnya. “Kenapa? Nggak pernah lihat orang ganteng makan es krim, ya?”                 Nara langsung berlagak mau muntah, kemudian tertawa pelan bersama Deeka. “Lo narsistik banget, ya.”                 Deeka tidak membalas Nara. Ia malah menggerakkan ayunannya cukup pelan sambil memandang langit, lalu melirik Nara sambil tersenyum tidak jelas. Melihat wajah seseorang yang disuka memang sangat menyenangkan. Perasaan Deeka menjadi lebih baik dengan melihat wajah Nara yang manis. Ditambah memakan es krim saat siang hari yang panas pemberian Nara. Deeka merasa sangat beruntung.                 “Ra, kenapa gue merasa lo jaga jarak banget sama gue di sekolah?” tanya Deeka sedikit pelan. “Apa segitu bencinya lo sama gue?”                 Nara menggeleng cukup panik. “Apa, sih? Perasaan gue biasa aja, deh.”                 “Lo nggak benci sama gue?”                 Ketika Deeka bertanya, menoleh dan menatap Nara tepat di manik matanya, Nara merasa sempat membeku beberapa detik. “Hah? Nggak, lah.”                 “Astaga, leganya.” Deeka tersenyum, kembali memandang langit. Matanya terpejam karena merasa silau, tapi ia suka dengan hangat sinar matahari. “Nara, kenapa nama lo Nara?”                 Nara mendengus pelan. “Lo udah nanya hal itu sebelumnya. Lo lupa?”                 “Nama lo aneh. Gue suka.” Deg.                 “Nama lo lebih aneh,” ketus Nara kembali kesal. Namun, detak jantungnya kembali berdebar tidak normal seperti waktu itu.                 “Nama gue itu pemberian Nenek gue—” gumam Deeka, “gue nggak tahu arti nama gue, tapi, Nenek bilang, nama gue udah beliau pikirin sejak lama. Bahkan, sebelum gue lahir. Jadi, walaupun nama gue nggak ada artinya, yang penting bagi Nenek gue… nama gue keren.”                 Deeka terdengar begitu baik dan lembut saat membahas neneknya. Nara merasa sedikit tersentuh. “Nama gue artinya negara, kalau menurut bahasa Korea. Tapi, kayaknya mama gue nggak bermaksud memberi nama gue dari bahasa Korea. Mama gue mana ngerti bahasa Korea? Jadi… gue juga nggak tahu kenapa nama gue Nara.”                 Senyum Deeka semakin mengembang setelah mendengar jawaban Nara. Ternyata, mereka berdua memiliki satu persamaan. Nama mereka tidak memiliki arti khusus. Namun, nama mereka diberikan oleh orang yang sangat istimewa. “Nara, sebentar lagi libur panjang berakhir. Gue harap, di kelas 11, hubungan kita bisa jadi lebih baik,” ucap Deeka lembut.                 Nara tiba-tiba merasa gugup. Baru kali ini, ia mengobrol dengan Deeka sedekat dan dalam suasana yang tenang. Ternyata Deeka cukup menyenangkan dan Nara tidak mungkin bisa menolak tawaran pertemanan dari Deeka. Apalagi, cowok itu mengucapkannya dengan sangat lembut. “Ah, iya. Semoga.”                 Deeka tertawa, bangkit berdiri lalu berjalan menuju motornya yang terparkir tidak jauh. “Hei, ayo, gue antar pulang!” seru Deeka cukup keras hingga semua orang di taman menoleh ke arahnya.                 Nara menutupi wajahnya dengan telapak tangan, berjalan menghampiri Deeka. Setelah berada di hadapan cowok itu, Nara tidak segan-segan mencubit lengan Deeka dengan gemas hingga cowok itu meringis. Sekali lagi, Nara sangat benci menjadi pusat perhatian. Namun, sepertinya Deeka adalah tipe orang yang senang mencari perhatian. Semoga keputusan Nara untuk berteman dengan Deeka bukan sebuah kesalahan. “Jangan teriak-teriak. Lo pikir ini hutan?”                 “Sorry, gue lupa ini taman, bukan hutan.” Deeka menyengir jail, kemudian naik ke motornya. “Ayo, naik. Kita satu arah, ‘kan?”                 Nara naik ke atas motor dengan sedikit ragu. Ia tidak pernah naik motor dengan cowok seusianya. Memang terdengar menyedihkan, Nara sadar hal itu. Ia biasanya naik motor hanya bersama Papa atau tukang ojek. Kira-kira, apa naik motor bersama Deeka akan terasa sama seperti naik ojek? Nara tidak yakin, karena saat ini, ia merasa sangat gugup. Ia berpegangan pada ujung jaket Deeka, berusaha mengabaikan betapa wangi Deeka hari ini. Wangi yang begitu menenangkan. Nara bahkan lumayan kecewa ketika motor Deeka berhenti di depan rumahnya. Rasanya sebentar sekali. Akhirnya Nara turun, mengangguk sopan sambil mengucapkan terima kasih.                 “Sampai ketemu lusa, ya.” Deeka tersenyum, mengusap tengkuk dengan canggung. “Ingat, jangan jutek-jutek lagi sama gue.”                 Nara terkekeh pelan, membuka pagar rumahnya. “Nggak janji, ya.”                 Ketika Nara sudah masuk ke dalam rumah, Deeka langsung mengembuskan napas lega. Ia senang sekali. Rasanya, ia sudah satu langkah lebih dekat dengan cewekpujaannya. Bagi Deeka, ini adalah awal yang bagus. Ah, Deeka jadi tidak sabar untuk masuk ke sekolah. Waktu, tolonglah berlalu lebih cepat….
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN