Senyumnya merekah. Indah. Kedua tangannya melambai, diiringi langkah kaki jenjang itu, mendekatiku yang sedang memakai jaket. Selalu begini. Aku tak bisa menolak untuk tidak mengimitasi senyuman yang sama. Tara memang sepersuasif itu dalam segala hal. "Berangkat bareng?" Mendengar tawaran asing itu, aku mengangkat alis, sangsi. Membuatnya tertawa, lantas menyentil hidungku. "Ada angin apaan mau berangkat bareng pagi banget gini? Tumbenan lo udah siap." "Karena sahabat gue lagi patah hatinya. Jadi, biarkan laki-laki gentle ini mengantarnya sampai kantor." Aku tertawa, dalam hati menahan nyeri. Tara tahu. Dia tahu kalau aku sedang tak baik-baik saja. "Gue emang nggak sepenuhnya paham sama apa yang terjadi, Kay. Tapi, gue nggak bodoh-bodoh banget liat gelagat lo apalagi semenjak Scoop

