Aku terbangun pukul empat pagi kurang lima belas menit. Dari tadi tidurku tentram dan damai-damai aja, jangan-jangan ibu belum bangun kali ya? Aku duduk di kasurku lalu mengucek mataku dan bergegas keluar untuk menyiapkan makan sahur kalau-kalau ibu memang belum bangun. "Kamu bisa kan bangun sendiri?" Aku melihat ayah yang kini sedang menonton televisi di ruang tengah, apa aku jangan-jangan ditinggal sahur ya? "Iya, yah. Gayatri kan masih sendiri jadi bangunnya sendiri kalau bangunnya berdua tuh nanti sama suami, si Ibnu." Aduh, kenapa juga aku mesti nyebutin nama Ibnu. Biasanya juga aku nyebut nama Rendy Pandugo. Ayah tidak menjawab, ia hanya terkekeh sementara aku masih terus berjalan ke arah meja makan. "Allahuakabar." kataku dengan sedikit lantang, mataku yang tadi malu-malu unt

