karena yang sempurna pun masih punya cacat. Ini sudah sekian kalinya Ibnu mengajakku jalan sejak pertemuan pertama kita. Dan debaran jantungku masih juga seperti awal, bergemuruh setiap kali aku melihat wajahnya atau bahkan hanya mendengar namanya saja. Cinta tuh ternyata seperti ini yhaa, baru tahu aku. Ibnu tetaplah Ibnu, laki-laki datar, irit bicara dan menyebalkan tapi aku tetaplah aku, wanita yang tak bisa mengontrol perasaan yang aku miliki pada laki-laki di hadapanku ini sekarang. "Kamu ngeliatin saya sampai segitunya banget?" katanya yang sadar dengan tatapan mataku yang dari tadi tak lepas menatapnya. Aku tersenyum saat mendengar ucapan Ibnu sambil menopang daguku dengan kedua tangan. Memerhatikan Ibnu yang sedang mengunyah sushi sebagai menu buka puasa kami kali ini. "Emang

