9. Tangkapan Pertama

710 Kata
Well, kalian mesti tahu seberapa ribetnya aku saat mau bertemu dengan Ibnu. Aku bahkan sampai harus mematut diri di cermin berkali-kali lalu memoleskan kembali lipstikku yang mulai pudar, merapikan kembali rambutku dan memakai parfum kembali. Kalau bisa mandi dan berganti pakaian juga pasti akan aku lakukan. "Gai, buset dah lama banget lu. Ngapain sih? Bikin candi ya lu di dalam?" Berisik! Aku langsung membuka pintu toilet lalu memukul pelan lengan Kafka. "Yaelah Gai, mau pulang bareng sama gue aja sampai kaya gini wanginya. Ngga bakalan bikin gue tertarik, kan gue udah punya Eyas." kata Kafka sambil tertawa kencang dan semakin membuat pukulanku di lengannya semakin kencang. "Gede rasa lo, orang gue mau ketemu pria tampan berkalung sarung gue~" kataku sambil mengibaskan rambutku. "Siapa Gai? Siapa?" tanya Kafka penasaran. Aku langsung berjalan melewati Kafka dengan rambut yang aku kibas-kibaskan. Si Kafka yang memang penasaran langsung mengejar dan menyamai langkahku. "Yang dijodohin sama lu itu ya?" tanyanya lagi. Aku menatap Kafka, tersenyum lalu kembali berjalan. "Gai, yaelah Gai. Pakai rahasia-rahasian segala. Gue kan udah tahu segala-galanya lu, daleman lu aja gue tahu warnanya apa." Emang nih ya, mulut orang yang di sekolahin sama ngga tuh emang beda. Nih kayak Kafka, sekolah cuma nyampe pager atau ngga nyasar ke kantin doang mulutnya jadi kayak gini nih. "Tuh, pangeran gue udah dateng." kataku sambil menunjuk Ibnu yang kini sedang berdiri di samping mobil camry hitamnya. "Anjirlah, mainan lu Gai. Kelas berat~" kata Kafka. Tuh, Kafka aja yang cowok tulen sampai minder gara-gara lihat Ibnu. Jadi, kalian bisa bayanginkan seberapa sempurnanya Ibnu? "Yaudah, gue duluan ya, Kaf." kataku sambil berpamitan pada Kafka. Kafka tersenyum. "Okay, hati-hati Gai." katanya. Aku melambaikan tangan pada Kafka yang kini sedang berjalan menuju arah mobilnya dan aku yang sedang berjalan menuju Ibnu. "Kamu udah lama?" kataku. "Lumayan." Ya ampun~ "Yaudah yuk, keburu malam." katanya yang meninggalkanku, Ibnu berjalan menuju pintu mobilnya, bukan untuk membukakan aku pintu. Aku masuk ke dalam, menggunakan seat belt sementara Ibnu mulai menyetir dengan mawas. Karena keadaan lalu lintas Jakarta malam ini cukup ramai—ralat memang lalu lintas Jakarta tak pernah sepi. "Kamu jemput aku, karena disuruh ibu ya?" aku bertanya dengan hati-hati, takut menyinggung perasaannya. "Ngga." "Terus. Apa alasannya?" tanyaku penasaran. "Emang kalau pengin aja, mesti banget ada alasannya?" Seriously? Apakah ini sebuah tanda jika Ibnu Dharmastriya sudah mulai tertarik dengan Gayatri Hutami? "Saya suka." kataku. "Kenapa?" tanyanya. "Emangnya kalau suka harus ada kenapanya, gitu?" Ibnu langsung menatapku saat lampu merah menyala, bodo amat dia mau bilang aku apa kek setelah ini. Masa bodoh. "Kamu sudah makan?" Yes. Respons yang diluar dugaanku. Ini mah aku udah yakin banget kalau dia udah mulai tertarik sama aku. "Saya lapar, mau makan." Lanjutnya. Bangcut! Aku kira dia memang benar-benar perhatian ternyata dia hanya lapar........ seperti itu;( "Makan bakso ya? Saya lagi pengin itu." kataku pada Ibnu. Ya, ini semua salah Kafka yang dengan teganya tidak menyisakkan aku baksonya. Sekarang kan aku jadi kepengin. Ibnu tidak menjawab namun perlahan ia mulai membelokkan mobilnya ke arah kanan, dan di pinggir jalan sana ada kedai bakso yang lumayan besar dan terenak menurut survei teman-teman kantorku karena jaraknya pun masih tak terlalu jauh dari kantor. •HH• "Saya boleh tanya ngga?" tanyaku tiba-tiba. Ibnu menata sendoknya di mangkuk, meminum es jeruknya perlahan dan mulai memfokuskan pandangannya ke arahku. Sejujurnya, hal inilah yang aku suka dari Ibnu. Dia selalu menatap wajah orang yang sedang bicara dengannya. Ibnu mengangguk. "Kamu kenapa belum menikah?" tanyaku mantab padanya. "Boleh pertanyaannya saya balikkan? Kamu kenapa belum menikah?" "Sa..... Saya..... Eumph---" ucapku terbata-bata. Ah! Kenapa aku mesti gugup, kenapa juga Ibnu mesti bertanya balik. "Saya belum menikah ya mungkin karena memang belum waktunya aja." lanjutku santai sambil meminum es jeruk milikku. "Kalau gitu saya sama kayak kamu." Katanya yang hampir membuatku tersedak karena mendengar jawabannya. Bangcut! Ini lelaki kenapa sih? Pengin banget ngomong di depan mukanya sambil teriak kencang-kencang 'ENTE SEHAT?' Aku diam seribu bahasa. "Gayatri?" Aku masih diam. "Kenapa kamu harus dipanggil Gai? Kenapa ngga Tri atau Aya atau apa gitu?" Aku tertawa, kencang bahkan sampai membuat Ibnu bingung. Ini bukan pertama kalinya dan Ibnu juga bukan orang pertama yang mempermasalahkan nama panggilanku.... Hanya saja ini terlalu lucu gitu kalau Ibnu yang menanyakannya padaku. "Sejujurnya saya sih lebih senang kalau dipanggil 'sayang' sama kamu, coba deh." Ucapku menggoda.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN