2.Mata elang

3451 Kata
“Terlihat cantik ibu”, ucap Naya kecil. Ia menyukai rangkaian mahkota bunga yang di buat ibunya. Mahkota itu terbuat dari bunga ilalang putih kecil, yang tumbuh di sekitar taman. Wanita yang dipanggil ibu pun tersenyum, “Apakah Naya suka?”, tanyanya lembut. “Eem, bolehkah aku memakainya setelah ini?” “Tentu sayang, ibu memang membuatnya untuk mu”. Ia mulai mempercepat rangkaian nya, setelah satu ikatan selesai, ia tersenyum puas. “Nah sudah selesai sayang, kau ingin memakainya?”, lanjutnya. “Ya ibu” teriak Naya senang. Ibunya pun meletak kan mahkota itu di atas kepalanya. “Wah anak ibu terlihat cantik”, pujinya. Membuat Naya tersenyum lebar. “Tentu saja cantik, dia kan putri ayah”, seorang pria mendekat. Ia mengecup pipi istrinya sekilas, lalu memeluk putrinya penuh sayang. “Kenapa ayah datang sekarang? Aku masih ingin ada di sini, ayah jemputnya nanti saja”, rengek Naya sambil mencebik kan bibir. Ia terlalu betah bermain dengan ibunya di taman. “Ayo pulang sayang, kau sudah cukup lama bermain”, ucap ayah sambil menahan tawa. Putri nya terlihat menggemaskan ketika protes. “Tidak mau” Ayahnya menghela nafas,”Ayolah sayang, ayah punya kejutan untukmu di rumah” Mendengar ucapan ayah nya, ibunya terkejut, “Apakah mereka sudah datang?” “Ya, mereka menunggu kalian di rumah. Karena itu aku menjemput kalian kemari” Ibunya mulai mendekati Naya, “Sayang? Apakah kau tak penasaran dengan kejutan ayah? Aku yakin kau akan menyukainya sayang”, ucap nya dengan raut memelas. Melihat ibunya memohon seperti itu, Naya pun akhirnya menganggukkan kepalanya. Mereka bertiga pun mulai memberesi barang, berjalan menuju tempat parkir taman. Ruang keluarga itu terlihat nyaman, ada tiga buah sofa besar nyaman menghadap TV. Dan sebuah meja kecil dengan vas bunga cantik di atasnya. Naya masih memakai mahkota buatan ibunya, ia berdiri dengan menggandeng tangan ibunya. Menatap polos empat orang yang lebih tua darinya, mereka menyebut mereka keluarga Dharmendra. Ayahnya telah memperkenalkan pasangan yang lebih dewasa sebelumnya, mereka adalah Arga dan Shinta Dharmendra. Arga adalah sahabat SMA ayahnya, mereka berada disini karena usaha property yang mereka bangun bangkrut, bank menyita rumah dan aset lainnya. Ayahnya menawarkan bantuan, mereka di ijin kan tinggal di rumahnya, ia pun menjanjikan posisi yang cukup bagus di perusahaan, agar Arga mampu menghidupi keluarganya dan menabung membeli rumah baru. “Hai Naya, aku Adam Malik Dharmendra, umur ku 13 tahun, anak sulung ayah Arga, kau bisa memanggilku Adam”, sebuah suara sopan dan lembut menyadarkan nya. Ia pun menatap anak laki laki yang terlihat lebih tua darinya. Anak itu lebih tinggi sepuluh senti darinya, meskipun masih muda ia memiliki bahu lebar. Naya hanya mengangguk tersenyum menanggapi perkenalan nya, “Aku Aynaya Adhitama, umurku 7 tahun, aku anak ayah Andika”, lanjut Naya dengan nada riang dan senyum menggemaskan, Adam pun tersenyum dengan tingkah Naya. Begitu juga dengan semua orang dewasa di ruangan itu, mereka senang melihat interaksi keduanya. “Baiklah sayang sekarang giliran mu”, perintah Shinta pada anak nya yang lain. Anak itu lebih pendek lima senti, memiliki tubuh lebih gemuk daripada kakaknya. “Hai, aku Abimana Dharmendra, 10 tahun”, ucapnya singkat dengan raut datar. Arga pun menghela nafas melihat sikap Abimana, “Maafkan sikap anak kedua ku Dika, ia memang sedikit cuek terhadap orang baru” “Tidak apa-apa, menurut ku ia manis”, ucap Dika, ayah Naya. “Lalu, anak kalian yang satu lagi mana? Kenapa ia tidak sini?”, ibu Naya bertanya pada kedua pasangan itu. Arga dan Shinta langsung kebingungan, raut wajah mereka yang semula tersenyum berubah, Shinta yang berubah sedikit marah dan Arga yang menjadi canggung. “Ada, tapi dia sedikit pemalu, tu, tunggu sebentar”, ucap nya gugup. “Atha, cepat kemari!!”, ucap Arga sedikit keras, semua orang menoleh ke arah pintu. Terlihat anak kecil lain setinggi Abimana, hanya ia lebih kurus. Ia menunduk dan bersembunyi di balik pintu. Ibu Naya hanya bisa tersenyum, ia pun melepas tangan Naya dan mendekati anak itu, Naya pun beralih menggandeng tangan ayahnya. “Halo anak manis, siapa namamu?”, ucap ibu Naya setelah sampai di depan nya. Anak itu tetap menunduk dan diam. “Bolehkah tante menjadi teman mu? Nama tante Adila, kau boleh memanggilku tante Dila”, lanjutnya dengan tersenyum. “Maukah kau ikut tante? suami dan anak tante juga ingin menjadi teman mu”, pinta Adila lembut, ia menawarkan tangannya untuk menggandeng anak itu. Yang ditanya tidak langsung menjawab, ia berfikir sejenak sebelum mengangguk dan membalas tangan Adila. Melihat respon itu, Adila pun senang ia membawa anak itu bergabung dengan yang lain di ruang keluarga. “Nah sekarang perkenalkan diri mu”, pinta Adila lembut. “Halo namaku Atharya Dharmendra, aku berumur sembilan tahun, aku anak terakhir ayah Arga”, ucapnya pelan dan masih tetap menunduk. Naya yang melihat itu tidak senang, ia ingat ibunya pernah berkata jika berbicara dengan orang lain kita harus menatap orang tersebut, karena itu berarti kita menghargai mereka. “Tidak sopan kau harus menatap orang yang kau ajak bicara”, ucap Naya lantang.”Naya, tidak boleh begitu, mungkin dia malu”, ucap Dika. “Tapi itu tidak baik ayah”, balas Naya. Ia pun menghampiri Atharya. “Ayo angkat kepalamu dan minta maaf”,lanjutnya. Meski sedikit ragu, Atharya pun akhirnya menuruti, ia mengangkat kepala nya. Atharya kecil berwajah bulat walaupun bertubuh kurus, ia memiliki tiga t**i lalat, yang paling menonjol ada di ujung bawah hidung. Dan satu yang paling Naya ingat, mata tajam seperti elang namun terlihat sendu. “Maaf” “Aaahhhh”, teriak Naya. Ia terbangun tiba-tiba dari tidurnya. Ia berkeringat dan nafas nya sedikit tersengal-sengal, tak lama setelah itu kepalanya sakit. Ia pun merebahkan kembali tubuhnya untuk mengurangi rasa sakit. Ia terkejut, ia meragukan apa yang baru saja terjadi, ingatan masa lalu yang menjelma menjadi mimpinya, mengingatkannya tentang sosok Atharya, ia baru menyadari ayah angkat nya memiliki 3 anak laki-laki. Tapi Naya bingung, selama ini sikap keluarga nya aneh, mereka seolah-olah tidak menganggap Atharya ada, sikap mereka seperti hanya ada Adam dan Abi, mereka bahkan tidak pernah menyinggung Atharya. Apakah keluarga Dharmendra malu dengan kondisi Atharya? Dan yang paling membuat bingung mengapa menjadi kesalahan jika mereka bertemu. Lama tak menemukan jawaban, ia memutuskan turun ke dapur untuk mengambil air minum. Suasana dapur gelap dan sepi, dengan hati-hati berusaha tidak menimbulkan suara ia pergi menuju ke lemari pendingin. Seharusnya ia menyalakan lampu, suasana gelap membuatnya tak menyadari genangan air yang berasal dari lemari pendingin. Ia terpeleset dan mungkin saja bisa jatuh jika saja tangan nya tidak bertumpu pada kursi terdekat. Ia menghela nafas, bersyukur masih bisa menjaga keseimbangannya, walaupun ia merasakan sedikit nyeri di kakinya akibat terpeleset. “Lah sayang sekali, seharusnya kau jatuh saja” Naya terkejut, ia menoleh ke sumber suara. Seorang pria mendekat, walaupun gelap Naya tahu itu Abi, sepertinya ia baru saja pulang dari acara berkumpul dengan teman-temannya. Berandal memang, tengah malam baru pulang. Naya mengabaikannya, ia lanjut membuka lemari pendingin dan mengambil satu botol air minum. Cahaya yang berasal dari lemari pendingin membuat wajah Abi terlihat jelas, raut wajahnya terlihat angkuh menatap Naya. “Harusnya aku menghancurkan kursi itu atau bahkan membuangnya, jadi kursi itu tidak menghalangi mu jatuh” Naya menghela nafas, ia tak mengerti kenapa kakaknya begitu membencinya. “Kenapa kau tidak membunuhku saja, daripada berharap aku celaka setiap hari?”, ucap Naya ketus. Mendengar jawaban Naya, Abi mulai menyeringai. “Wow, kau menantang ku?”, ancam Abi. Ia mulai maju mendekati Naya, sedangkan Naya mundur merasa terancam. “Kau fikir aku takut? Itu yang selalu ingin aku lakukan, tapi aku tak bisa”, lanjut Abi. “Tapi karena kau sudah berkata seperti itu, mungkin sebaiknya aku lakukan sekarang”, ucap Abi. Ia mulai mengangkat tangannya, entah akan menampar atau mencekik. Naya menggenggam erat botol di tangannya, bersiap memukul jika sesuatu terjadi padanya. “STOP” Sebuah tangan menahan tangan Abi, mereka berdua pun menoleh ke arah pemilik tangan. Terlihat Adam menatap tajam Abi, rahangnya mengeras pertanda ia marah. Abi hanya memutar matanya malas, ia pun menarik tangannya dari cengkeraman tangan Adam, melihat kearah lain tak berani membalas tatapan kakaknya. “Kalau sudah pulang, cepat masuk kamar, mandi, lalu tidur!”, perintah Adam nada suaranya terkesan menahan amarah. Abi menghela nafas, ”Iya okey, aku paham” jawabnya malas. Ia pun berlalu pergi menuju kamarnya setelah memberikan tatapan meremehkan pada Naya. Adam menuntun Naya duduk di kursi terdekat, menyalakan lampu, lalu menghampiri Naya kembali. Ia pun berlutut menyentuh kaki Naya. “Biarkan kakak memeriksa kaki mu” “Tidak perlu kak, aku tidak apa-apa, aaakh”, Naya berteriak ketika Adam menekan kakinya yang memar. “Kau bilang tidak apa-apa?”, ucap Adam. Ia berdiri mengambil minyak urut. Setelah itu kembali berjongkok mengurut kaki Naya. Ia mengurut kaki Naya perlahan dan berhati-hati berusaha tidak menyakiti kaki Naya. Naya tersenyum dengan perhatian kakak nya, sebuah pertanyaan terlintas di fikiran nya. “Kak, apakah kak Abi benar adik mu?” Adam terkejut, ia cepat mendongak menatap Naya. “Kenapa kau bertanya seperti itu?” Naya kaget dengan respon Adam, ekspresi terkejutnya sedikit berlebihan menurutnya, sepertinya topik adik sangat sensitif untuk Adam, ia langsung terfikir Atharya, apakah pertanyaannya membuatnya mengingatnya. Tapi Naya langsung membuat alasan lain, ia ingin melihat respon lainnya. “Yaah, kalian bersaudara, tapi sifat kalian berbeda, kau baik tapi kak Abi sangat jahat padaku” Adam tertawa kecil, “Jangan pedulikan dia, dia hanya iri padamu, seharusnya ia menjadi yang paling muda dan paling di manjakan. Tapi semua itu hilang, karena posisinya di gantikan dirimu”, jawab Adam sambil tetap memijit kaki Naya. Naya terkejut, secara tidak langsung Adam tidak mengakui Atharya, Naya tidak menyerah ia memberikan pertanyaan menjebak lainnya. “Apakah kau tidak ingin adik lain?” Adam kembali terkejut namun kali ini lebih tenang. “Kenapa harus begitu?”, tanya Adam lembut. “Kupikir akan lebih baik jika kau memiliki adik yang lebih penurut dan lebih baik daripada kak Abi”, jawab Naya penuh hati-hati. “Tidak, aku lebih suka Abi menjadi adik ku daripada orang lain, walaupun dia seperti itu tapi aku akan tetap memilihnya” Naya terkejut dengan jawaban Adam, keadaan menjadi sedikit canggung, Naya berusaha mencairkan suasana, “Apakah kak Abi lebih baik daripada aku? Aku juga adik mu loh, walaupun cuma adik angkat”, keluh Naya lucu. Adam terkekeh mendengar celoteh Naya, ia berdiri dan menutup botol minyak urut yang ia bawa, “Sepertinya kaki mu sudah tidak apa-apa, masuk lah ke kamar dan tidur. Aku akan mengepel sebentar” “Kau tidak menjawab aku kak, kau tidak menyukai aku sebagai adik mu?” Adam hanya mengusap puncak kepala Naya dan tersenyum. Ia pun berlalu pergi meninggal kan Naya. Naya hanya menghela nafas, walaupun Adam tak menjawab pun, ia sudah tahu Adam sangat menyayangi nya. Ia hanya penasaran dengan respon Adam tentang adik kedua nya yang baru saja ia ingat malam ini, ia penasaran kenapa keluarga Dharmendra menghapus sosok Atharya. Keesokan paginya, tepat jam 10 sesuai jadwal kunjungan pasien, Naya sudah berada di lobi sebuah gedung bertuliskan RSJ. Harapan Indah. Walaupun tergolong rumah sakit elit, mereka hanya memiliki 4 lantai. Meski tidak terlalu tinggi, mereka memiliki gedung dan taman yang luas. Suasana rumah sakit tenang dengan hanya sedikit orang yang datang menjenguk, berbeda dengan rumah sakit biasa, kebanyakan rumah sakit jiwa mempunyai pengunjung lebih sedikit. RSJ sering kali di jadikan tempat pembuangan keluarga pasien, setelah menyerahkan pasien ke RSJ, keluarga seakan merasa bebas dan tidak pernah menjenguk anggota keluarganya. Padahal dukungan keluarga juga sama pentingnya selain perawatan dokter dan obat, alasan mereka bermacam macam, dari alasan lokasi rumah sakit yang jauh, biaya, hingga waktu yang tidak memungkinkan. Naya pun menuju ke tempat resepsionis, seorang suster berdiri menyambut kedatangan nya. “Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?”, ucapnya dengan senyum ramah. “Permisi bisa beritahu saya dimana ruangan pasien bernama Atharya Dharmendra?” “Apakah anda keluarga yang datang untuk menjenguk?”, tanyanya sekali lagi. “Bukan, saya temannya”, ucap Naya. Ia memilih jawaban itu mengingat seluruh keluarga Dharmendra tak mengakui Atharya. Suster itu pun mulai mengotak atik data di komputernya, sesaat kemudian ia terkejut. Ia pun menghampiri teman satunya, mereka mendiskusikan sesuatu sambil melirik Naya beberapa kali. Dengan tersenyum yang terkesan di paksakan, mereka menghadapi Naya kembali. “Maaf, boleh kami meminta kartu identitas anda?” “Untuk apa?” “Untuk melengkapi data pengunjung pasien” Naya tidak mempermasalahkan permintaan suster tersebut, tapi dari ekspresi yang mereka tunjukan, mereka seperti memiliki maksud lain, Naya memikirkan cara untuk menghindar. “Ahh, sepertinya kartu ku ketinggalan di mobil, izinkan aku untuk mengambilnya sebentar” “Tunggu”, ucap suster itu mencegah Naya. “Bolehkah salah satu dari kami menemani anda?”, pinta suster tersebut. Naya paham ia sudah tertangkap sekarang, sepertinya menyebut nama Atharya di rumah sakit ini merupakan suatu kesalahan. Pilihannya sekarang ada dua, menghindar sampai bisa pulang ke rumah, atau tetap maju berusaha mencari Atharya. Karena keduanya akan berakhir sama, keduanya akan membuat nya berakhir di meja intrograsi, setelah mereka mengetahui siapa dirinya, ia yakin pihak rumah sakit akan melaporkan hal ini pada keluarganya. “Tentu saja boleh, tapi sebelum itu bisakah aku mampir ke toilet, aku menahan buang air kecil dari tadi”, ucap Naya sedikit meringis. “Tentu, mari ikut saya”, salah satu dari mereka bergerak membantu. Mereka menuju ke salah satu lorong, setelah sampai di toilet Naya masuk ke salah satu bilik, suster itu pun berjaga di depan pintu. Di dalam Naya berpura pura menggerak kan barang barang di toilet, entah tutup kloset, tisu, maupun tempat sampah. Berharap suster itu tidak mencurigainya, ia membutuhkan waktu untuk memikirkan langkah selanjutnya. 15 menit berlalu Naya tak kunjung keluar, pikiran Naya buntu ia tak menemukan satu cara pun ia mulai berfikir menyerah. “Permisi nona, apakah masih la-“ Tak lama setelah itu terdengar suara benturan keras memotong pertanyaan yang akan dilontarkan suster itu, suara hening kemudian, Naya tergugup di dalam, antara ragu akan membuka pintu untuk mengecek atau tidak. ‘Tok’ ‘tok’ ‘tok’ Suara ketukan pintu mengagetkan Naya, dengan ragu ia membuka pintu perlahan, ia kaget di dapati Atharya di depan pintu dengan tersenyum menyeringai. Atharya membuka pintu lebih lebar, membuat Naya mampu melihat suster yang menjaganya tergeletak di bawah. “Kau ingin bertemu dengan ku kan?”, pertanyaan itu membuat Naya menatap Atharya kembali, ia mengangguk dengan cepat. Atharya menyerahkan sebuah bungkusan, yang ternyata sebuah pakaian pasien beserta masker. “Pakai itu!, kita perlu tempat untuk bicara, sebentar lagi pasti akan ada orang lain yang kemari, untuk tas kecilmu sembunyikan saja di belakang punggung, jangan lupa matikan HP, karena kita akan menyelinap” Naya mengangguk, “Apa yang kau lakukan pada suster ini?” “Hanya ku buat pingsan, cepat lah sebelum teman nya kemari” Naya pun bergegas mengganti pakaian, setelah itu mengikuti Atharya menyelinap melalui lorong asing dan sepi, tak jarang mereka terlihat berbaur dengan pasien lain atau berpura-pura bertingkah gila ketika bertemu petugas lain. Hingga akhir nya mereka berada di lorong sempit panjang yang terlihat kotor, sebuah pintu di buka, ia menemukan dirinya berada di kamar pasien yang sedikit lebih mewah. Atharya pun menutup pintu rahasia dengan lemari di dekatnya menyamarkan keberadaan pintu tersebut. “Kita ada di mana?” “Kamarku”, jawab Atharya singkat. Naya mengelingi pandangan nya ke seluruh kamar, kamar itu hanya berisi tempat tidur, satu lemari dan meja. Seluruh jendela di tutup korden, dan satu CCTV di salah satu sudut. Naya terkejut menyadari keberadaan benda itu, “Tunggu ada CCTV disini?” “Tenang saja, aku sudah meretas seluruh CCTV di rumah sakit ini, jadi yang mereka lihat hanya rekaman manipulatif yang ku buat”, ucap Atharya datar “Itu juga caraku menemukan mu” lanjutnya. Naya mengangguk terkagum, ia mempertanyakan alasan Atharya bisa berada di sini. “Kalau kau sepintar itu, kenapa bisa ada di sini?” “Aku tidak gila, sama sekali, bahkan kau bisa menyebutku jenius. Aku ada disini untuk di kurung” Naya kaget, “Untuk apa mereka mengurungmu di rumah sakit jiwa?” “Untuk reputasi, keluarga kita memiliki perusahaan yang cukup terkenal kalau kau lupa, aku masih bisa kabur jika di kirim keluar negri, dan akan terlihat buruk jika menaruh ku di penjara, mengasingkan ku di sebuah rumah pun akan menimbulkan pertanyaan, dan rumah sakit jiwa adalah tempat yang tepat, alasan gila sudah cukup untuk memenuhi rasa penasaran publik” “Apa alasan kau di kurung, kenapa keluargamu tidak menganggap mu ada, mengapa mereka menyembunyikanmu dariku, bahkan publik tidak tahu keberadaan mu, tapi keluargamu sudah menyiapkan berbagai alasan jika suatu saat nanti kau ketahuan, rumah sakit ini misalnya”, tanya Naya bertubi-tubi, ia sudah tidak sabar mengetahui semuanya. “Aku akan menjawab semua pertanyaan mu, tapi apakah kau akan mempercayaiku? karena aku yakin pasti kau sedikit ragu padaku” “Aku bertekad mempercayaimu, setelah aku mengingat mu dalam mimpiku tadi malam”, ucap Naya. “Atha”, tambahnya membuat Atharya tersenyum kotak. “Sudah lama aku tak mendengarmu memanggil namaku” “Jadi kau akan menjawab semuanya kan?”, Atha mengangguk pasti. “Jelaskan padaku siapa kau, aku hanya tau kau anak ketiga dari ayah Arga” Selesai mengucapkan pertanyaan nya, terdengar dering notifikasi dari HP Atharya, sebuah kolase rekaman CCTV muncul di layar, ia mengetuk salah satu dan memperbesarnya, sedetik kemudian ia terkejut. “Ada orang kemari” “Apa yang harus ku lakukan?” Naya panik ia reflek akan masuk lemari, tak ada waktu menggeser lemari itu dan masuk ke pintu rahasia. “Jangan di situ, ia akan memeriksa tempat itu pertama kali” “Lalu bagaimana?” Pintu kamar Atharya terbuka, masuklah ketiga penjaga keamanan berbadan besar. Mereka menatap angkuh Atharya yang duduk di atas kasur sendirian, seluruh kakinya tertutup selimut, sebuah buku terbuka ada di tangannya, sorot matanya tajam menatap penjaga. “Geledah tempat ini!”, ucap yang paling garang. Ia menghampiri Atharya menghiraukan tatapan tajamnya. “Apakah ini sudah waktumu untuk memeriksa?” ucap Atha ketus. “Bukan urusanmu, terserah aku mau datang kapan saja” angkuh penjaga itu. Ia mendekat meletakkan tangannya di leher Atha, “Hentikan tatapanmu atau kucekik” Ucapan itu membuat selimut Atha sedikit bergerak, beruntung si penjaga tidak melihat. Ya, Naya memang bersembunyi di situ, ia ketakutan dan memeluk kaki Atha erat, Atha menurun kan tangannya mengusap kepala Naya pelan, berusaha menenangkan Naya tanpa ketahuan. “Maaf pak, kami tidak menemukan di mana pun”, ucap yang lain. “Apa kau sedang mencari sesuatu?”, Atha bertanya dengan nada remeh membuat petugas itu lebih geram. Ia pun hendak mencekik Atha sebelum teman nya mencegahnya. “Maaf pak, bukan kah kita tidak boleh melukainya” Petugas itu mundur, “Kau beruntung karna perintah bodoh dari ayahmu itu, lain kali aku tak akan meloloskan mu” “Hah, pengecut”, ucap Atha sambil tertawa kecil. Detik berikutnya sebuah pukulan keras mendarat di wajah Atha, hingga kepalanya menoleh ke samping. “Diam b******k, ketahui posisi mu kau tidak bisa apa-apa” murka si penjaga. Atha balik menatap penjaga itu dengan sorot tajam, “Kau akan menyesal karena berani menyentuh wajah ku”. Si penjaga hendak kembali memukul, tapi kedua temannya bergerak cepat mencegah, mereka menahan temannya yang mengamuk dan bergegas menuju ke pintu untuk keluar. “Apakah mereka sudah pergi?” Sorot mata Atha berubah menjadi melembut setelah mendengar pertanyaan itu, ia membuka selimut alih alih menjawab pertanyaan Naya, menunduk menatap Naya yang menatapnya polos. Untuk sepersekian detik Atha tertegun menikmati kecantikan Naya. “Wow, kau sangat cantik” Pipi Naya memerah menerima pujian itu, ia salah tingkah dan mulai bergerak untuk duduk. Menunduk beberapa saat sebelum menatap Atha kembali, detik berikutnya ia berubah khawatir, sudut kanan bibir Atha berdarah. “Apakah ini tidak sakit?”tanya Naya dengan menempel kan jari tangannya ke sudut bibir Atha yang terluka, mengelusnya dengan lembut. “Apakah ini juga tidak sakit?” Atha balik bertanya tangannya pun menyentuh kepala Naya sebelah kiri, mengusapnya perlahan. Keadaan itu membuat mereka saling menatap, entah milik siapa yang memulai duluan, suara degup jantung bersahutan menandakan mereka gugup satu sama lain. Kepala Atha bergerak perlahan ke depan, kedua matanya yang tajam menatap Naya lembut. Naya hanya terdiam terhipnotis dengan tatapan itu, hingga kedua bibir bertemu, saling melumat lembut. Tangan Atha yang semula di kepala berpindah ke tengkuk, sedangkan yang lain merengkuh pinggang Naya lembut. Kedua tangan Naya meremas bagian depan kemeja Atha, Naya sedikit merasakan rasa asin, karena bibir Atha yang berdarah, tapi ia mengabaikannya, keduanya memejam kan mata menikmati sensasi menggelitik yang mereka terima. Sensasi ciuman pertama mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN