11.Sebuah rencana

4467 Kata
Atha segera membuka pintu setelah membaca pesan yang baru saja ia terima. Ia berlari menuju tempat yang di deskripsikan si pengirim pesan, sebuah warung kecil dengan plang nama bertuliskan mbok Marni di atasnya. Si pengirim pesan adalah Naya, yang entah dengan alasan apa ia tiba-tiba berada di dekat area rumahnya. Naya memang mengirim pesan padanya satu jam lalu meminta alamat rumahnya, tapi Atha tak pernah berfikir Naya akan menemuinya di rumah, ia justru berfikir Naya mungkin dalam kesulitan. Tapi yang membuat Atha terkejut, Naya tiba-tiba mengirim pesan padanya bahwa ia tersesat saat akan menuju kerumahnya dan minta di jemput, sontak hal itu membuat Atha kaget dan langsung berlari menjemput Naya. Atha khawatir hal buruk akan terjadi pada Naya, karena rumahnya bukan merupakan kawasan pemukiman yang aman. Atha selama ini tinggal di kawasan kumuh yang hanya mempunyai jalan gang kecil sempit yang bahkan motor saja sulit untuk melaluinya apalagi mobil yang memiliki ukuran lebih besar. Dan lagi sebagian besar penghuni kawasan ini adalah pelaku kriminal, seperti pencopet, perampok, dan banyak yang berstatus preman. Karena hal itulah Atha sangat mengkhawatirkan keadaan Naya, bisa jadi Naya telah lebih dulu menjadi korban tindak kriminal sebelum bertemu dengannya. Jarak rumah Atha dan warung mbok Marni tidak terlalu jauh, hanya berjalan lurus lalu belok ke kiri ke arah pertigaan dan warung mbok Marni berada di dekat pertigaan. Setelah Atha setengah berlari ke arah yang ia tuju, Atha akhirnya melihat Naya yang masih mengenakan seragam SMA di depan warung itu, terlihat Naya berdiri kebingungan dan terlihat canggung, karena perhatian orang-orang sekitar yang melihat Naya penuh minat. Terang saja Naya menarik perhatian orang-orang di sekitar, karena seragam sekolah yang Naya kenakan merupakan seragam sekolah elit, sudah pasti merupakan hal yang jarang mereka lihat, bahwa orang berstatus sosial lebih tinggi dari mereka berada di kawasan kumuh. Detik berikutnya hal yang Atha khawatirkan dari tadi yang mungkin akan menimpa Naya pun terjadi. Dari kejauhan terlihat dua orang lelaki yang salah satunya Atha kenal mendekati Naya dan Naya juga terlihat risih dengan kedatangan keduanya, mereka berusaha menggoda Naya meminta perhatian dan Naya berusaha menghindar namun tetap berusaha sopan agar tak menimbulkan hal yang lebih buruk. Namun sepertinya kedua lekaki itu malah tambah mendekat menggoda Naya. “Neng jangan malu-malu, abang baik kok gak maksud jahat sama neng” ucap salah satu lelaki yang menggoda Naya. “Maaf bang, makasih tawarannya tapi gak usah saya bisa sendiri” balas Naya menolak ajakan lelaki itu untuk menemani Naya mencari alamat yang Naya cari. Namun kedua lelaki itu malah tertawa dan mengulangi perbuatan mereka pada Naya. Atha yang melihat pun semakin emosi namun berusaha ia tahan, bagaimanapun emosinya Atha ia tak bisa sembarangan meluapkannya, karena ia merupakan pendatang di kawasan ini, walaupun Atha bisa memberi perlawanan tapi itu bukan tindakan yang bijak bisa jadi malah memperbesar masalah dan malah membuat Atha semakin kesulitan. Setelah menghela nafas dalam guna meredam emosinya, Atha mulai menghampiri kedua lelaki itu guna menegur. “Ehem” Atha berdeham setelah berdiri tepat di belakang mereka. Membuat keduanya serta Naya menoleh ke arahnya, melihat Atha yang datang Naya langsung tersenyum lega. “Permisi bang Toto, dia pacar saya” lanjut Atha membuat kedua lelaki yang menatapnya heran. “Pacar? Yang bener?” tanya lelaki yang di panggil bang Toto oleh Atha. “Betul bang, dia pacar saya, dia memang pertama kali datang kemari” jawab Atha menyakinkan. Bang Toto dan temannya sontak menatap Naya dengan teliti dan hal itu membuat Naya tambah risih, melihat Naya yang kurang nyaman Atha pun menarik perhatian bang Toto dan temannya lagi agar menghentikan aksi mereka. “Udah dong bang jangan kaya gitu, pacar saya malu” “Pinter juga lu pilih pacar ye” ucap teman yang Toto. “Pinter gimana bang?” tanya Atha bingung. Bang Toto pun mendekat ke arah Atha membisikkan sesuatu ke telinganya. “Pinter pilih pacar lu, udah cantik, seksi, kaya lagi” ucap bang Toto terjeda “Kalau bisa kita juga di cariin dong yang tipe kaya gitu juga” lanjut bang Toto. Atha pun tersenyum menanggapi. “Siap bang nanti kalau ketemu aku kabarin deh” balas Atha sambil nyengir. Naya yang melihat hanya kebingungan melihat keduanya yang saling berbisik lalu di akhiri dengan tawa. “Ya udah bang, saya pulang dulu ya, kasihan pacar saya nungguin” ucap Atha pamit. “Silahkan silahkan “ “Siaaap jangan lupa di jaga pacarnya” ucap bang Toto dan temannya berbarengan. Atha hanya mengangguk sambil tersenyum menanggapi, ia lalu menarik tangan Naya lembut untuk ia bawa ke rumahnya, Naya pun hanya menurut mengikuti Atha pergi. Atha kembali menyusuri jalan yang ia lalui tadi dengan menggandeng tangan Naya. Sepanjang perjalanan mereka menyusuri gang sempit, mereka berpapasan dengan ibu-ibu yang menyapa. Atha pun membalas dengan tersenyum ramah, Naya di buat tertegun dengan sisi lain Atha. Pasalnya Naya perlahan demi perlahan mampu melihat sifat asli Atha, awal pertemuan mereka bertemu Naya pikir Atha adalah orang yang aneh apalagi image RSJ yang melekat padanya. Lambat laun Naya melihat sosok Atha yang penuh kemisteriusan, bagi Naya, Atha tiba-tiba datang dengan keanehan tapi semuanya benar. Dan sekarang Naya melihat sisi dewasa Atha, ia dengan tenang dan bijak mengatasi 2 orang yang mengganggunya di pertigaan, sehingga Naya bisa lolos tanpa meninggalkan keributan. Lalu sekarang Naya melihat sosok Atha yang ramah pada semua orang, bahkan senyum kotaknya itu menjadi candu bagi Naya. Sekilas Atha seperti sosok yang akan baik ke semua orang, terlihat menarik apalagi dengan wajah tampan sehingga mudah bagi orang lain untuk menyukainya. Terlihat tak setia dan mudah pindah ke lain hati namun nyatanya Atha masih memiliki rasa posesif terlihat dari cara Atha yang selalu menggenggam tangan Naya erat dan sesekali memperhatikan Naya ketika melangkah. Atha memastikan Naya selalu aman, ia menarik Naya ke arahnya ketika berpapasan dengan orang lain dan hampir bertabrakan dengannya, tarikan posesif namun lembut, membuat Naya terharu dengan perbuatan romantis Atha. Akhirnya Atha dan Naya sampai di sebuah rumah yang sedikit luas. Rumah bercat putih lapuk dan tak memiliki teras dan halaman karena berada di kawasan gang sempit, Atha membuka pintu yang langsung menunjukkan ruang tamu. Terdapat dua sofa nyaman yang tak terlalu besar dan sebuah meja. Terlihat sesosok pemuda yang duduk di salah satu sofa memperhatikan Atha yang mempersilakan Naya untuk masuk, lalu pemuda itu memperhatikan Naya dari atas sampai bawah kemudian tersenyum menyeringai. Ia lalu meletakkan buku yang tengah di bacanya ke atas meja kemudian tertawa cekikikan yang di abaikan Atha. Atha lebih memilih menutup pintu daripada menanggapi tertawaan temannya. “Oo jadi ini yang bikin seorang Atha sampai kalang kabut lari keluar?” tanya temannya setelah menghentikan tawanya. “Bodo amat” balas Atha ketus, ia menarik tangan Naya lembut. “Ngomong di kamar aku aja ya?” ucap Atha pada Naya. Atha pun mengantar Naya menuju ke kamarnya di salah satu ruangan. Melihat dirinya di abaikan, teman Atha pun protes. “Hei ga ada perkenalan nih?” tanya teman Atha. Atha hanya mengangkat tangan lalu melambaikannya tanpa menoleh ke belakang tanda penolakan. Atha pun membuka pintu sebuah ruang kamar, kamar sederhana dengan satu ranjang tempat tidur kecil dan dua lemari yang di letakkan sejajar di salah satu sudut. Salah satu lemari terbuka dan berisi penuh dengan buku-buku tebal sedangkan yang satunya tertutup yang Naya kira pasti berisi pakaian pribadi Atha. Terdapat sebuah laptop yang terbuka di atas ranjang, Atha segera mematikan dan menutupnya lalu meletakkan nya di atas meja kecil yang memiliki laci dibawahnya yang terletak di samping ranjang. “Jadi apa ada sesuatu penting yang ingin kau katakan?” tanya Atha setelah selesai memberesi kamarnya. Yang ditanya tak langsung menjawab, Naya malah menunduk menatap lantai. “Nay? Gak papa kan?” tanya Atha bingung. Bukan jawaban yang Atha terima. Justru Naya memeluk Atha erat sambil menangis tersedu sedu di pundak Atha. Atha sebenarnya penasaran dengan apa yang terjadi dengan Naya, namun melihat keadaan Naya yang seperti ini akan lebih bijak jika ia membiarkan Naya menyelesaikan tangisannya terlebih dahulu, sebelum memberi pertanyaan. Hingga akhirnya dua jam ke depan hanya di isi dengan Naya yang menangis di pelukan Atha dan Atha yang sibuk mengelus punggung belakang Naya guna menenangkan. “Maaf Atha, aku sudah ngrepotin” ucap Naya setelah tangisannya mereda. “Kenapa bicara begitu, justru aku malah senang karena kau meminta bantuan ku saat dalam kesulitan” ucap Atha tenang. Naya terharu dengan ucapan Atha. “Jadi bisa kau ceritakan padaku apa yang terjadi?” lanjut Atha bertanya pada Naya. Naya pun menceritakan semua yang terjadi ketika berada di rumah Bagas dan ibunya, menceritakan kecurigaan dan semua yang di ketahui keduanya, serta memberitahu Atha bahwa Bagas ingin bertemu untuk bekerja sama karena merasa memiliki tujuan yang sama. Atha diam mendengarkan dengan seksama dan sesekali ia menganggukkan kepala menanggapi cerita Naya. Naya juga menceritakan apa yang terjadi di rumahnya, dimana ia yang mencuri dengar pertengkaran keluarga Dharmendra dan rencana Adam entah apa yang akan ia lakukan di acara perusahaan bulan depan. Mendengar semua itu membuat Atha tertawa puas. “Jadi mereka bertengkar karena aku?” ucap Atha sambil tertawa. “Dan kak Adam mendapat hukuman dari ayah?” lanjutnya. Naya sedikit tidak suka dengan sikap Atha yang menyukai kenyataan Adam mendapat hukuman, menurutnya hukuman itu sangat kejam dan mungkin dapat membuat Adam kehilangan nyawa. “Jangan tertawa, itu terlalu kejam tahu” ucap Naya membuat tawa Atha berhenti. Atha lalu memasang wajah serius yang membuat Naya gugup seketika. Atha menatap tajam kea arahnya. “Kejam katamu?” tanya Atha dengan nada rendah yang sedikit menyeramkan menurut Naya. “Lebih kejam mana dengan mereka yang membunuh orang tuamu?” ucap Atha lantang. “Lebih kejam mana dengan mereka yang membunuh para pekerja yang dulu?” “Lebih kejam mana dengan mereka yang berusaha menjatuhkan mu dari tangga?” “Lebih kejam mana dengan perbuatan yang mereka lakukan padaku selama ini? Naya hanya diam tak mampu menjawab, “Jawab aku Naya?” tanya Atha. “Kenapa kau marah padaku?” tanya Naya. “Aku kesal padamu, apa yang kau lihat dari Adam sampai kau terus membelanya, padahal sudah jelas apa yang ia perbuat bersama dengan keluarganya. Lalu untuk apa kau masih bersimpati pada Adam?” tanya Atha kesal. “Aku hanya merasa itu membahayakan nyawa seseorang” cicit Naya. Atha menghela nafas, ia berusaha memahami kehidupan Naya yang jauh dari kekerasan. Naya tumbuh bagai seorang putri, ia memiliki segalanya, keluarga Dharmendra begitu memanjakannya untuk merebut hati Naya. Jika seandainya di masa lalu ia mengalami kekerasan, itu semua sudah terkubur hilang saat kepalanya terbentur dan menyebabkannya hilang ingatan. “Jadi setelah mengetahui semuanya apa yang ingin kau lakukan sekarang? Tidak mungkin hanya diam saja kan?” tanya Atha. “Aku hanya ingin di jauhkan dari orang yang berusaha mencelakai ku, sejujurnya aku hanya ingin hidup tenang tanpa bayang-bayang ancaman di masa depan. Tapi aku tak tahu harus melakukan apa?” jawab Naya. Atha mengangguk paham, ia pun berfikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan Naya. “Seperti yang ku bilang kemarin, aku punya rencana yang dengan senang hati akan kuberikan padamu, tapi setelah mendengar permintaanmu, aku punya rencana yang lebih bagus” “Apa?” tanya Naya. “Kemarilah” jawab Atha sambil memberi kode tangan agar Naya lebih mendekat setelah itu Atha membisikkan sesuatu di telinga Naya. Naya terkejut setelah Atha selesai dengan kegiatannya, ia menggeleng kencang menanggapi ide Atha. “Kenapa? itu bagus tahu” ucap Atha. “Kenapa harus ayah Arga?” tanya Naya polos. “Karena dia adalah dalang utamanya, ia juga yang memulai semua kekacauan ini, ini semua adalah idenya, jadi jika kau ingin hidup tenang kita harus mulai dari dalangnya terlebih dahulu” jelas Atha. “Kau benar” ucap Naya ragu-ragu. “Kau yakin ini langkah yang tepat? Kau akan membantuku?” tanya Naya. “Tentu dengan senang hati” “Terima kasih” ucap Naya tulus. Melihat langit yang berubah menjadi lebih gelap tanda petang akan datang, mengingatkan Atha bahwa sudah waktunya Naya untuk pulang. “Aku rasa sebaiknya kau pulang sekarang, mereka pasti mencarimu” ucap Atha. Naya tak langsung menjawab, ia justru gugup menatap malu ke arah Atha. “Bolehkah aku menginap di sini? Aku belum ingin pulang?” “Kau yakin? Apa kakak Adammu tidak mengkhawatirkan mu?” sindir Atha. Naya hanya memberengut lucu. “Setelah kejadian tadi, aku rasa kak Adam juga tidak ada di rumah, dia pasti sekarang ada di rumah sakit. Dan jika aku pulang sekarang, aku takut bertemu dengan kak Abi, dia kan selalu berbuat buruk padaku. Aku juga takut dengan ayah dan ibu setelah melihat kejadian tadi, jadi aku tidak ingin pulang” jelas Naya. “Kau takut pada semua orang yang ada di rumah, tapi kenapa tidak dengan kak Adam?” tanya Atha. “Karena kak Adam selalu membuatku nyaman dan entah kenapa aku merasa ia akan selalu melindungiku. Dan lagi seperti yang kuceritakan tadi, ia meminta ayah untuk tidak menyentuhku dan malah menawarkan rencana lain” ucap Naya. Atha hanya menganggukkan kepala menanggapi. “Apa kau tahu apa alasannya kak Adam berbicara seperti itu?” tanya Naya balik. Adam malah terdiam melamun mendengar pertanyaan Naya. Detik selanjutnya ia malah menggeleng, terlihat menyembunyikan sesuatu. Naya penasaran dan berusaha mendesak. “Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu, ayo katakan padaku alasannya” desak Naya. “Aku memang tidak tahu, kenapa tidak kau tanyakan sendiri padanya?” tanya Atha balik. Melihat Atha yang menolak memberi alasan, Naya tak menyerah ia mengajukan pertanyaan lain. “Lalu apa alasan ayah meminta keluarganya untuk tak menyentuh dirimu?” tanya Naya, pertanyaan itu membuat Atha kaget, ia tak mampu mengelak untuk menghindar memberi jawaban. “Seluruh keluargamu ingin mencelakaimu tapi tidak dengan ayah, apa kau tahu alasannya?” lanjut Naya. Atha menghirup nafas dalam sebelum menjawab. “Itu karena ibuku” jawab Atha singkat. Naya bingung bagaimana Shinta yang menjadi alasan, jelas jelas kemarin ia juga bersikeras mencelakai Atha. Seperti mengetahui apa yang di pikirkan di dalam otak Naya, Atha menyuruh Naya untuk duduk di ranjang agar lebih nyaman lalu kembali melanjutkan ucapannya. “Bukan ibu Shinta yang aku maksud, tapi ibu kandungku” jelas Atha. Naya diam mendengarkan. “Aku adalah benalu di keluarga Dharmendra, ayah Arga berselingkuh dengan ibuku di belakang ibu Shinta, aku hadir ketika ibu Shinta mengandung kak Abi, itulah alasan mengapa jarak kelahiran kami dekat. Masa kecilku aku habiskan di sebuah rumah kontrakan kecil bersama ibuku dan seminggu sekali ayah selalu datang menengok tanpa sepengetahuan ibu Shinta. Hal sederhana tapi aku sangat bahagia akan hal itu, tapi ibuku meninggal ketika aku berumur 6 tahun, ia tiba tiba di bawa kerumah sakit dan dinyatakan meninggal setelahnya” ucap Abi dengan raut wajah sendu. “Sejak waktu itu tentu saja aku menjadi tanggungan ayah, ia membawaku masuk ke keluarga Dharmendra dan mengenalkan ku pada mereka ,awalnya aku fikir aku akan bahagia karena masih memiliki sosok ibu dan memiliki dua saudara. Tapi ternyata dugaan ku salah, kedatanganku tidak di terima dan malah membuat keluarga itu hancur, Arga dan Shinta jadi lebih sering bertengkar bahkan tak jarang mereka saling melempar barang. Kak Adam dan kak Abi juga tak pernah baik padaku, mereka selalu membully ku karena menganggap aku adalah penghancur keluarga. Namun Ayah ia selalu membelaku dan memperlakukanku dengan lembut, ia bilang aku juga anak kandungnya” “Lalu” ucap Naya meminta kelanjutan cerita Atha. “Sejak itu aku mulai mengasingkan diri, aku hanya akan muncul ketika ayah ada, tapi akan menghilang tak terlihat ketika ayah tak ada. Aku mencoba menghindari perlakuan buruk dari ibu dan kedua saudaraku, dan sepertinya mereka juga tak keberatan mereka malah senang karena aku tak muncul” “Sampai pada akhirnya perusahaan ayah jatuh bangkrut dan kami berakhir di rumahmu. Terus terang aku senang berada di rumahmu, ayah dan ibumu tak membeda bedakan siapapun, mereka juga tulus menyayangiku seperti anaknya sendiri, itulah kenapa aku lebih membela keluargamu, karena kasih sayang orang tuamu adalah impian yang selalu ingin ku dapatkan dari dulu” ucap Atha. Naya terharu dengan ungkapan terakhir Atha, mengenai alasan mengapa ia lebih memilih membela keluarganya daripada keluarga Atha sendiri. Rupanya selama ini Atha mendapat perlakuan buruk dari keluarga Dharmendra. “Lalu apa alasan ayah Arga untuk tak menyentuhmu?” tanya Naya. “Ia pernah bilang padaku ketika mengantarkan aku tidur waktu kecil, bahwa sebenarnya ia lebih mencintai ibuku daripada Shinta. Shinta tak pernah menjadi istri yang baik, yang di fikirannya hanya selalu uang dan foya foya. Berbeda dengan ibuku yang selalu memberi kenyamanan rumah saat ia pulang kerja. Dan aku adalah kenangan terakhir dan satu-satunya yang ia miliki dari wanita yang paling di cintainya, melihatku membuatnya mengingat ibu, karena wajah kami hampir mirip” jelas Atha. “Itukah alasan ayahmu selalu melindungimu?” tanya Naya. “Ya” jawab Atha singkat. “Padahal selama ini ibu dan kedua saudaraku berusaha untuk melukaiku karena rasa benci mereka. Apalagi ketika aku menggagalkan rencana mereka saat akan membunuh habis keluargamu, mereka terang-terangan memohon pada ayah untuk melenyapkanku. Tapi alih alih membunuhku, ayah lebih memilih mengasingkanku ke tempat lain untuk menjauhkan ku dari ancaman mereka dan mencegahku untuk melindungimu dan menggagalkan rencana mereka lagi” pungkas Atha. “Jadi itu alasan kau berakhir di rumah sakit jiwa?” tanya Naya lagi. “Ya, itu karena aku terus kabur dari panti asuhan yang mereka pilih. Mereka akhirnya bekerja sama dengan pihak rumah sakit untuk mengurung dan mengawasiku” jelas Atha lagi. “Jika ayahmu sangat menyayangimu, kenapa target pertama dari rencana kita adalah ayahmu? Apakah kau tidak apa-apa dengan hal itu?” tanya Naya. Atha terdiam sejenak sebelum menjawab. “Tidak, justru dari dulu aku memang ingin menghukumnya” jawab Atha singkat dan dingin. Naya menjadi heran. “Kenapa?” “Alasan pribadi, aku tak bisa menceritakannya padamu. Lagipula aku juga marah karena ayah membunuh orang tuamu, orang tuamu juga adalah orang yang aku sayangi” ucap Atha singkat. Naya berusaha memahami. “Lalu sekarang apa yang akan kita lakukan? Aku tidak tahu harus mulai darimana?” tanya Naya. “Acara perusahaan itu pasti penuh dengan orang penting dan media, pasti penjagaan yang di terapkan ketat. Aku akan membentuk tim untuk memperlancar rencana kita, tugas mu adalah yang terpenting” ucap Atha. “Apa itu?” “Cari informasi detail tentang acara itu dan informasi lain yang menurutmu penting lalu laporkan padaku. Dan...” jeda Atha. “Tetaplah bersikap seolah-olah kau tidak tahu apa-apa, aku fikir dengan bersikap seperti itu kau jauh lebih aman” lanjut Atha, membuat Naya meragu. “Apakah kau yakin aku akan aman jika kembali ke rumah itu jika bersikap seperti biasa?” “Ya, mereka baru akan memulai rencana mereka saat ulang tahun perusahaan. Jadi kau aman sampai bulan depan” jelas Atha. “Baiklah aku percaya padamu” ucap Naya. Hal itu membuat Atha tersenyum. “Sekarang karena kau akan menginap disini, sebaiknya kau mandi terlebih dahulu di sebelah situ, pakai bajuku yang ada di lemari untuk ganti” perintah Atha pada Naya sambil menunjukkan letak kamar mandi dalam yang ada di salah satu sudut kamar. Naya terlihat meragu dan Atha melihat itu. “Aku akan tidur di kamar temanku, jadi kau tenang saja, kalau aku ingin masuk aku akan memberi pesan padamu terlebih dahulu padamu” ucap Atha sambil menunjukkan handphonenya, Naya mengangguk menanggapi. “Baiklah, aku mengerti” jawab Naya. “Kalau begitu kau mandilah jangan lupa kunci pintu kamar lalu kabari aku kalau sudah selesai, aku akan keluar berkumpul dengan teman-temanku” ucap Atha sambil berjalan menuju ke arah pintu. Naya mengangguk menurut, ia pun mengantar Atha keluar kamar lalu mengunci pintu rapat. Setelah Atha keluar, Naya beranjak ke lemari pakaian Atha dan mulai memilih baju yang akan pinjam, saat Naya memilih baju handphone Naya bergetar tanda ia mendapatkan pesan. Naya bergegas mengambil handphonenya untuk membaca pesan yang baru masuk. --- My lovely Sikat gigi baru dan keperluan lain ada di belakang kaca, pakailah sesukamu --- Rupanya pesan dari Atha, Naya tersenyum setelah membaca pesan itu. Setelah selesai memilih pakaian yang akan ia pinjam, Naya mengambil handuk lalu pergi ke kamar mandi. Lima belas menit berlalu, Naya sudah selesai mandi dan mengganti pakaiannya, ia segera mengirim pesan ke Atha. --- Naya Aku sudah selesai My lovely Baiklah aku akan ke sana --- Beberapa saat kemudian terdengar suara ketokan pintu dan pangggilan lembut dari Atha. Naya segera bergegas ke arah pintu untuk membukakannya. “Keluarlah ke meja makan, temanku sudah memasak makan malam, nanti aku menyusul setelah selesai mandi” perintah Atha pada Naya. “Sendiri?” tanya Naya meragu. Atha hanya tersenyum mendengar pertanyaan Naya. “Tenang saja teman-teman ku baik kok” ucap Atha menenangkan. “Baiklah” jawab Naya. Ia pun segera keluar kamar meninggalkan Atha menuju ke ruang makan. Ternyata ruang makan dirumah ini menyatu dengan dapur, tanpa penyekat di seberang dapur terdapat sebuah meja panjang dan beberapa kursi. Di atasnya sudah terletak berbagai macam masakan yang tersaji, ada tiga pemuda lain yang berada di ruang makan selain Naya. Salah satunya adalah pemuda yang tadi menyambut Naya ketika datang di ruang tamu. Melihat kehadiran Naya semua orang mulai menatapnya intens. “Siapa nih cewek?” Tanya salah satu pemuda yang duduk di kursi ruang makan. “Pacarnya Atha yang sering di ceritain itu” jawab pemuda yang Naya lihat pertama kali, ia pun mulai menghampiri Naya. “Hai kemarilah, jangan malu-malu, makan malam sudah hampir siap lo, sebentar lagi kita akan makan sama-sama” ajaknya pada Naya. Naya pun mengikuti, rupanya pemuda itu membawa Naya untuk duduk di salah satu kursi di ruang makan. Pemuda lain yang dari tadi duduk di kursi ruang makan mulai memperhatikan Naya dari ujung atas sampai ke bawah. “ Namaku Dito teman Atha” ucap nya singkat sambil mengulurkan tangan. “Namaku Naya” jawab Naya singkat. “Santai aja disini, anggap aja kaya di rumah sendiri” nasihat Dito pada Naya. “O iya kenalan juga sama temen-temen yang lain, yang ini namanya Kevin” ucap Dito sambil menunjuk pemuda yang Naya pertama kali lihat di ruang tamu. “Lalu yang lagi masak namanya Cahya” ucap Dito lagi sambil menunjuk pemuda yang sedari tadi tengah memasak di dapur yang berada di seberang. Rupanya pemuda yang bernama Cahya sudah selesai memasak ia menghampiri tiga lainnya di meja makan sambil membawa piring berisi lauk lain. “Nah ini hidangan terakhir semoga Naya suka ya?” ucap Cahya menggoda. Yang lain bercie ria merespon ucapan Cahya membuat Naya tambah malu dibuatnya. Keributan kecil itu seketika berhenti ketika Atha datang. “Tuh kan” ucap Atha singkat membuat teman-temannya terdiam. “Baru juga di tinggal sebentar udah godain pacar orang aja” lanjut Atha. Teman-teman nya yang lain bukannya takut malah tersenyum mengejek “Pawangnya marah tuh, hayoh loh” ucap Kevin mencoba menakut-nakuti Cahya. “Sorry Tha, maksudnya biar lebih akrab gitu, biar gak kaku” ucap Cahya beralasan. Atha hanya memutar bola matanya dengan malas sebagai tanggapan. “Udah, udah. Makan aja yuk, udah lapar” ajak Dito menengahi. Detik berikutnya mereka melanjutkan kegiatan dengan makan malam bersama di iringi dengan canda tawa. Suasana yang penuh dengan kehangatan membuat Naya merasa nyaman, ia senang menjadi bagian dari sisi lain kehidupan Atha. Setelah makan malam yang penuh dengan canda tawa, Atha menemani Naya di tempat tidur. Mereka ingin mengobrol sebentar sebelum berpisah beranjak tidur, Naya tidur menginap di kamar Atha sedangkan Atha akan tidur dengan Kevin di kamar sebelah. “Gimana? Suka ketemu sama teman-temanku?” tanya Atha. “Iya, mereka orangnya asik” jawab Naya, Atha hanya tersenyum menanggapi. “Kamu kenal mereka di mana? Kamu kan belum lama keluar dari rumah sakit?” tanya Naya penasaran. “Mereka teman-teman panti yang mencariku dulu, mereka juga yang membantuku selama ini, termasuk saat keluar dari rumah sakit jiwa itu” ucap Atha. “Hebat sekali teman-teman mu” komentar Naya. Naya pun melihat berkeliling, ia mulai penasaran bagaimana Atha dan teman-temannya hidup. Rumah ini luas walaupun berada di kawasan kumuh dan gang sempit. Bagaimana mereka mendapatkan biaya untuk hidup? “Lalu bagaimana caramu bertahan hidup? Darimana kalian mendapatkan biaya untuk tinggal di tempat ini?” tanya Naya. “Kami bekerja” jawab Atha singkat. “Bekerja?” “Ya” “Bukan kah kau tidak sekolah? Apa teman-teman punya bisnis?” tanya Naya. “Tidak tidak. Bukan pekerjaan yang seperti itu, pekerjaan kami berada di bisnis gelap. Kami menerima pekerjaan sesuai permintaan client” “Pekerjaan seperti apa yang mereka minta?” “Sederhana, mulai dari menagih hutang, mencuri data perusahaan atau pribadi, bahkan pembunuh bayaran” jelas Atha enteng. Naya terkejut dengan penjelasan Atha. “Pembunuh bayaran?” tanya Naya sekali lagi. “Ya benar, kami sering mendapat permintaan seperti itu” jawab Atha. “Kami memiliki peran masing-masing saat bekerja dan tugasku adalah mencuri data sesuai dengan keahlian ku” lanjut Atha. “Begitukah cara kalian mendapatkan uang untuk bertahan hidup?” tanya Naya. Atha hanya mengangguk sebagai jawaban. “Lalu bagaimana cara kalian aman dari polisi? Kalian pasti sudah menjadi incaran mereka kan?” Atha mengangguk “Wajahku mungkin sudah tersebar di kepolisian walaupun tak di publish di masyarakat umum. Tapi identitas teman-teman ku masih aman” ucap Atha. “Lagipula kawasan ini aman bagi kami, di tempat ini semua pelaku kriminal berkumpul. Selama tak keluar kawasan, polisi tak akan bisa masuk” lanjut Atha. “Apakah ada yang berkuasa di tempat ini? Semacam mafia seperti yang ada di film-film?” tanya Naya heboh, membuat Atha tertawa kecil. “Ya benar, seperti semacam itu. Kami hanya perlu membayar upeti untuk mendapatkan keamanan itu” ucap Atha terjeda. “ Dua orang kemarin yang mengganggumu, tujuan mereka sebenarnya bukan hanya menggoda tapi mereka juga sedang mengecekmu. Kau terlihat asing dan bukan dari orang-orang yang terlibat kasus kriminal. Itu lah mengapa mereka mendekati untuk mengecekmu” lanjut Atha. “Oo begitu” ucap Naya. “Sudahlah sebaiknya kau tidur, ini sudah malam. Kau harus kembali ke rumahmu besok pagi” nasihat Atha membuat Naya gugup ketakutan. “Apakah besok aku akan baik baik saja?” tanya Naya khawatir. Atha mengelus dagu Naya lembut, lalu mencium lembut bibir Naya sekilas. Hal itu sukses membuat Naya terkejut dengan perbuatan Atha. “Percayalah padaku, besok tidak ada yang akan terjadi padamu. Jadi jangan takut, bersikap beranilah. Aku akan membantu mu menyingkirkan orang-orang yang berusaha mencelakai mu” ucap Atha tulus. Naya menganggukan kepalanya terharu. “Aku tidak akan takut, aku akan jadi berani besok” ucap Naya berjanji. Atha tersenyum sambil mengelus pucuk kepala Naya lembut. “Baguslah, sekarang pergilah tidur, aku yakin kau sudah mengantuk sekarang” perintah Atha pada Naya. Atha pun berjalan menuju ke arah pintu, sebelum keluar ia mematikan lampu dan mengucapkan selamat tidur pada Naya, lalu menutup pintu. Setelah Atha keluar, Naya merebahkan tubuhnya di ranjang lalu memejam kan mata untuk pergi tidur. Ia tak khawatir dengan apa yang akan ia hadapi besok, karena ia sudah berjanji pada Atha untuk menjadi berani. Naya juga sudah siap dengan tugas yang diberikan Atha padanya, ia harus menemukan info sebanyak mungkin untuk membantu Atha. Bagaimanapun juga ini semua juga demi dirinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN