5.Aku akan melindungimu

1336 Kata
"Lepaskan aku ayah” ucap Atha kecil. Ia kini tengah diseret oleh ayah kandungnya, badan kecilnya tak mampu melawan sang ayah untuk melepaskan diri. “Aku mohon lepaskan aku ayah” lanjutnya. Ia melirik ke belakang, tepat di atas tangga berdiri Naya kecil, ia sedang berjuang mempertahankan tubuhnya untuk tetap tegap berdiri di tengah sakit demamnya, ia berjalan pelan mencoba menyusul Atha. Atha tak tega melihatnya, ia tak mau Naya kesusahan karena dirinya. Hingga Atha sampai di pintu utama rumahnya, ayahnya membuka pintu membiarkan dirinya dan Atha keluar, lalu menutupnya kembali. Atha masih berusaha melepaskan tangan ayahnya, ia tak mau ayahnya membawanya pergi menjauh dari Naya. Hingga Atha melihat sebuah mobil telah siap dengan pintu terbuka bersiap akan membawa Atha pergi ke suatu tempat. Ia semakin berusaha sekuat tenaga melepaskan genggaman ayahnya. Tiba-tiba sebuah jeritan terdengar dari dalam rumah, Atha merasakan firasat buruk menghampirinya. Tampaknya ayahnya juga mendengar jeritan itu, ia sempat berhenti dan menoleh ke belakang, namun itu hanya sekejap, detik berikutnya ia kembali menyeret Atha tanpa mempedulikan hal yang terjadi di dalam rumah. “Ayah tunggu, apa yang terjadi di dalam?” ucap Atha mencoba membujuk ayahnya. “Diam! Apapun yang terjadi bukan urusan mu, kau harus pergi dari sini” tegas Arga, ayah Atha. Atha kesal, bagaimana ayahnya mampu bersikap acuh dan egois. Ia begitu mengkhawatirkan keadaan Naya di dalam. Atha akhirnya berbuat nekat, ia menggigit tangan ayahnya hingga genggamannya terlepas, lalu berlari secepatnya ke dalam rumah. Di dalam ia menemukan beberapa maid dan sisa keluarganya yang lain berdiri mengerubungi sesuatu, ia menyeruak mencoba melihat apa yang terjadi. Atha terkejut, ia melihat Adam tengah memeluk Naya dengan terisak menangis, keadaan Naya parah, kepalanya berlumur darah, bahkan darahnya sampai m*****i pakaian Adam dan jatuh turun ke lantai. Ia menatap berkeliling, melihat ibunya Shinta tengah memeluk Abi, Shinta terlihat shock dengan apa yang menimpa Naya, namun tidak dengan Abi, ketika Atha menatapnya, Abi membalas menatapnya, detik selanjutnya ia tersenyum menyeringai seakan puas dengan sesuatu. Atha menggeram marah, ia yakin hal yang terjadi pada Naya adalah hasil perbuatan Abi, Atha berlari mendorong Abi mencoba memukulnya, membalas semua perbuatan buruk Abi. “Apa yang kau lakukan?” teriak Atha sambil mendorong Abi hingga terjatuh ke belakang, Shinta terkejut ia mencoba menahan Atha ketika Atha mencoba memukul Abi. “Aku tahu itu kau, pasti kau yang melakukannya kan?” Abi hanya diam menatap Atha tak menjawab. Tangannya mengusap pantatnya beberapa kali mencoba menghilangkan rasa sakit. Kali ini Atha berusaha melepaskan diri dari cengkraman ibunya, hingga akhirnya ayahnya datang. “Astaga apa yang terjadi?” teriaknya terkejut dengan kekacauan yang terjadi. “Naya terjatuh dari tangga sayang” ucap Shinta sambil menahan Atharya. “Kenapa bisa seperti itu?” “Aku akan menjelaskannya nanti sayang, sekarang bawa anak ini pergi, aku akan mengurus Naya ke rumah sakit” ucap Shinta. Arga pun menurut, ia menyeret Atha kembali, menuju ke mobil yang sebelumnya telah di siapkan membawa Atha pergi. Atha berusaha melawan ayahnya, namun usahanya nihil, yang terakhir ia lihat tubuh lemah Naya yang masih di peluk Adam. Atha pun ikut menangis merasa gagal untuk melindungi Naya. *** 2 tahun kemudian. Atha berjalan tertatih panas aspal yang menyengat kakinya yang tidak menggunakan alas kaki sungguh menyiksa. Tapi itu semua tak mengurungkan niatnya, tinggal satu blok lagi maka ia akan sampai di tempat tujuannya. Hingga akhirnya ia tiba di depan rumahnya, ia mencoba memanggil satpam memohon untuk membukakan gerbang, satpam yang melihat Atha terkejut, ia berfikir untuk menolak permintaan Atha, karena jika ia menuruti membukakan pintu gerbang, maka bisa di pastikan ia akan mendapatkan teguran dari tuan Arga. “Aku mohon paman tolong buka kan gerbangnya, tidak mudah untukku untuk bisa sampai disini” mendengar penuturan Atha, satpam lalu melihat keadaan Atha, memakai pakaian lusuh dengan kedua kaki yang melepuh membuatnya tak tega, ia pun akhirnya membukakan gerbang untuk Atha. “Terima kasih paman, aku tak akan melupakan kebaikan mu” ucap Atha tulus. Ia pun mencoba melihat nametag si satpam yang tersemat di dadanya. ‘Sutrisna M.’ Atha tersenyum ia berjanji dalam hati, suatu saat nanti ia akan membalas perbuatan baik sang satpam bernama Sutrisna ini. “Tidak masalah nak, untuk apa tuan muda pulang kemari, apa ayah tuan tidak marah?” tanya Sutrisna. “Aku ingin bertemu dengan Naya, apa ia dirumah?” “Iya tuan, tadi aku melihat nona ada di taman” “Terima kasih kalau begitu aku masuk dulu paman” ucap Atha dengan tersenyum. Sutrisna hanya mengangguk membalas ucapan Atha. Atha pun langsung berjalan menuju taman, rasa perih di kaki nya tak terasa karena ia terlampau semangat bisa bertemu Naya. Hingga ketika ia berada di taman, Atha mengedarkan pandangan nya sampai ia menemukan sosok gadis yang lebih muda darinya. Gadis itu tengah duduk di bangku taman berwarna putih yang terletak di tengah taman. “NAYAAA” teriak Atha sambil mendekat menghampiri Naya. Naya yang merasa terpanggil meletakkan buku yang tengah ia baca di samping, lalu berdiri menunggu Atha sampai di depannya. “Akhirnya aku bisa bertemu denganmu” ucap Atha bersemangat. Ia pun memeluk Naya erat menyalurkan rasa rindunya. Sesaat kemudian Naya mendorong Atha menjauh melepas pelukan mereka. “Kenapa? Apa kau tak merindukan ku?” tanya Atha penasaran. Naya hanya menatap Atha dari atas hingga ke bawah dengan kedua alis menyatu, ia terlihat bingung dengan sosok Atha. “Maaf, anda siapa?” tanya Naya. “Siapa? ini aku Atharya” jawab Atha. “Maaf, tapi aku tak mengenalimu” ucap Naya singkat. Atha terkejut bagaimana bisa Naya tak mengenalinya, ia hanya pergi selama 2 tahun, dan menurutnya selama 2 tahun itu tak jauh mengubah penampilannya. Ia masih terlihat mirip dengan dirinya ketika berumur 10 tahun, di saat ia di seret paksa ayahnya pergi dari rumah. “Naya, apa yang terjadi padamu? Apa selama ini kau baik-baik saja?” tanya Atha lagi. “Aku baik kok” “Tidak, pasti ada sesuatu yang terjadi padamu, katakan padaku Naya, apa yang mereka lakukan padamu” cercar Atha. Ia yakin Naya tidak dalam keadaan baik-baik saja. Sebuah tangan lain menyeret Atha ke belakang membuat jarak yang cukup jauh. “Bagaimana bisa kau ada disini?” tanya Adam dengan raut terkejut. Terlihat Adam masih dengan seragam SMA nya menarik Naya ke belakang tubuhnya. Naya pun menurut ia bersembunyi di belakang Adam dan memeluknya dari balik punggung. Atha tak suka melihatnya. “Kakak, dia siapa?” tanya Naya pelan. “Bukan siapa-siapa, kau tenang saja di belakang ku” jawab Adam lembut. Mendengar jawaban Adam membuat Atha menjadi murka, ia tak masalah keluarganya menolak keberadaannya. Tapi tidak dengan Naya, ia tak rela Naya turut tak mengakui keberadaannya. “Apa maksud mu bukan siapa-siapa? Keberadaan ku lebih penting untuk Naya lebih dari siapa pun” ucap Atha. “Jangan sok merasa penting, Naya bahkan baik-baik saja tanpamu” “Baik-baik saja katamu? Lihat keadaannya sekarang, bagaimana ia tak bisa mengenaliku? Katakan padaku apa yang terjadi padanya” desak Atha pada Adam. “Bukan urusan mu, sebaiknya kau pergi sekarang, tempat mu bukan di sini” “Tidak, aku tak mau pergi sebelum aku memastikan Naya baik-baik saja” sergah Atha. “Bukan urusan ku anak bodoh” ucap Adam dengan nada meremehkan. “SATPAAAAM” teriaknya selanjutnya, membuat Naya yang di belakangnya terkejut, Adam pun mengelus lembut tangan Naya yang ada di perutnya mencoba menenangkan. Satu menit berikutnya datang 2 orang satpam menghampiri, salah satunya Sutrisna yang tadi menolong Atha. “Bawa anak ini pergi, suruh paman Doni membawanya kembali ke panti asuhan” perintah Atha kepada satpam. Kedua satpam pun mengangguk patuh, mereka pun membawa Atha pergi. “Yhaaaa, apa yang kau lakukan? kau pikir kau bisa menyingkirkan ku?” ucap Atha di tengah-tengah usahanya meloloskan diri. “Kalian tak akan bisa melakukan apapun pada Naya, aku berjanji akan selalu melindunginya” lanjutnya. Jaraknya pun semakin menjauh, hal terakhir yang ia lihat, Adam berbalik memeluk Naya sambil tangannya mengelus punggung Naya berusaha menenangkan. Naya pun membalas pelukan Adam, tapi tatapannya selalu tertuju pada Atha, hingga akhirnya Atha dipaksa masuk ke sebuah mobil yang akan membawanya kembali ke panti asuhan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN