Mengamen

1558 Kata
Matikan indra perasa dalam hati Bunuh rasa malunya sendiri Rendahkan ketinggian harga diri Urat malu Hardy bagai diiris tipis-tipis, ia bernyanyi sambil menggerakkan alat musik yang telah ia buat dengan suara teredam rasa. Menjadi seorang pengamen sebenarnya bukan salah satu pilihannya, tetapi apa yang bisa ia lakukan disini? Sementara pekerjaan apapun sulit ia dapatkan. Oh, biarkan kisah ini menjadi sebuah kenangan memalukan sepanjang masa atau kelak justru kisah ini yang akan mengantarkan dirinya menjadi orang besar. Hanya Tuhan yang tahu. Kami anak yatim piatu Kami tak punya ayah dan ibu Kami tak punya sanak keluarga Kami hidup sebatang kara Mohon bapak ibu berbagi sedikit rezeki Agar kami berdua bisa makan nasi Lagu itu dinyanyikan Hardy dari rumah ke rumah lainnya. Hasilnya cukup lumayan, sejauh kakinya melangkah, kini ia sudah mendapat uang sebesar sepuluh ribu rupiah. Uang itu akan ia kumpulkan perlahan dan jika sudah cukup banyak, Hardy berencana untuk menjadi pedagang asongan. Ia masih saja malu meski sudah beberapa kali menyanyikan sebuah lagu yang ia karang sendiri. Bening justru merasakan sebaliknya, ia merasa senang bisa menyanyikan lagu karangan kakaknya. Dengan suara lantang namun terdengar merdu, Bening selalu meninggalkan kesan baik kepada pendengarnya. Semua yang telah mendengarkan suara Bening, ingin kembali mendengarkan suaranya. Mengamen cukup menyenangkan bagi Bening, hanya dengan bernyanyi ia sudah mendapat uang. Paling sedikit ia mendapat lima ratus rupiah dari satu rumah, walaupun terkadang mereka juga tidak beruntung karena pemilik rumah mengusir mereka sebelum mengeluarkan suara. Hari sudah menjelang malam saat Hardy dan Bening beristirahat di sebuah masjid. Suara adzan maghrib baru saja selesai berkumandang. Tanpa membuang waktu, ia mengajak Bening ke masjid. Ia kini menjadi anak yang rajin mengerjakan sholat lima waktu dan sebisa mungkin ia melakukannya di masjid ataupun mushola. Hardy baru saja keluar dari masjid saat melihat adiknya duduk sambil memandang gerobak bakso. Bening pasti lapar setelah dari pagi ia ajak berjalan. Uang di tangannya baru terkumpul sepuluh ribu rupiah tapi tidak apalah jika hari ini dihabiskan. Ia ingin adiknya senang dan menikmati hasil kerja kerasnya. Hardy duduk di sebelah Bening, gadis itu segera menoleh sambil tersenyum. Bening berdiri namun tatapannya masih tertuju ke arah gerobak bakso. Aroma kuahnya sangat memanjakan hidung Bening, seolah berkata jangan buang waktu dan harus cepat-cepat membeli sebelum kehabisan. Air liurnya menggenang, pasti enak kalau malam yang dingin ini dihangatkan dengan semangkuk bakso. Bening melirik Hardy, ia berharap kakaknya mengerti kode rahasia meminta bakso tanpa berbicara. Melihat adiknya, Hardy tertawa. Si gadis yang menggemaskan sudah menemukan cara lain untuk meminta tanpa merajuk. “Ayo!” Hardy mendekati gerobak bakso, diikuti Bening yang berjalan di belakangnya dengan senyum bahagia. Bahagia itu sederhana, mensyukuri apa yang sudah didapat walau tidak terlalu banyak. Seperti itulah yang sedang dilakukan Hardy dan Bening. Duduk berdua dengan semangkuk bakso di tangan Hardy, menikmati satu porsi bakso bersama, hidup laksana di surga yang indah. *** Seminggu sudah Hardy dan Bening mengamen dari rumah ke rumah. Pendapatan mereka tidak tentu tetapi selalu ada sedikit uang yang bisa mereka sisihkan. Jika bertahan tiga minggu lagi maka Hardy bisa mulai mengganti profesi menjadi pedagang asongan seperti yang ia inginkan. “Sepuluh, lima belas, dua puluh ... Lumayan lah.” Hardy menyimpan uangnya ke dalam tas ransel. Hari ini cukup melelahkan, Hardy memutuskan untuk segera naik ke ranjang. Bening sudah tidur sejak mereka sampai. Gadis itu terlalu lelah sampai-sampai belum mandi karena keburu tertidur. Hardy membiarkan saja gadis itu, seperti ia membiarkan dirinya tidak mandi malam ini. Untungnya Malang kota yang dingin sehingga tidak mandi pun rasanya tetap nyaman. Hardy memandang jajaran genteng berwarna hitam dengan semburat putih karena telah berjamur. Sarang laba-laba ada di sudut-sudut atap, seekor laba-laba berukuran cukup besar sedang bersiap memburu mangsanya, mata Hardy tertuju kesana seolah ikut menunggu sang laba-laba beraksi. Hardy sedang berpikir bagaimana cara mempercepat menghasilkan uang. Ia tidak mau lebih lama mengamen. Ia masih saja merasa tidak percaya diri kendati sudah berkali-kali ia melakukannya. Ia berjanji sekali saja menjadi pengamen, setelah ini ia tidak akan pernah mau mencobanya lagi. Bagaimana kalau mengamen di bis? Pasti lebih cepat menghasilkan uang ketimbang dari rumah ke rumah. Ide yang muncul membuat sebuah senyum terukir di wajah Hardy. Seharusnya sejak awal ia berpikir tentang mengamen di bis. Hardy memutuskan mulai besok ia akan mengamen dari bis ke bis. Ia yakin dengan cara itu ia bisa mengumpulkan uang lebih cepat. Hardy segera memejamkan mata, ia tidak sabar menanti hari esok yang pasti memberi hari cerah dalam hidupnya. Secercah harapan baru yang ia nantikan. *** Hardy mendekati seorang sopir bis yang sedang duduk sambil menunggu kursi penumpang penuh. Pria itu menikmati segelas kopi bersama kondekturnya. “Pak, saya minta ijin mengamen di bis, Bapak.” Hardy bisa saja main masuk bis lalu bernyanyi, tetapi rasanya kurang sopan jika tidak meminta ijin dahulu. Sesaat ia menyesal, tetapi tidak apa-apakan jika bersikap sopan? Pria mengenakan kemeja biru dengan celana panjang berwarna hitam tersebut memandang Hardy. Cukup aneh saat mengetahui seorang pengamen meminta ijin dulu, tapi lebih baik anak ini yang mengamen di bis ketimbang anak-anak lain. “Ya, sudah. Tapi sampai terminal ya.” Pria itu kembali duduk bengong sambil memandang para penumpang yang masuk ke dalam bisnya satu-persatu. Hardy senang, ia berbagi senyum dengan Bening sebelum ia memutuskan masuk ke bis. Dengan tekat kuat dan semangat baja, Hardy bersiap mengeluarkan suara terindahnya dan ia yakin uang yang dihasilkannya nanti jauh lebih banyak dari biasanya. “Bapak-bapak, ibu-ibu, kakak adik sekalian. Perkenankan saya dan adik saya, menyanyikan sebuah lagu untuk menemani perjalanan bapak-bapak, ibu-ibu, kakak adik sekalian. Sebuah persembahan dari saya, lagu yang saya ciptakan sendiri….” Begitulah intro Hardy sebelum ia mulai menepukkan alat musik ke kakinya. Selama perjalanan itu, Hardy tidak hanya menyanyikan satu lagu tetapi dua lagu. Satu lagu diantaranya adalah lagu persahabatan bagai kempompong yang kerap kali ia nyanyikan bersama Bening. Lagu lainnya, ia karang secara mendadak karena Hardy hanya hapal satu lagu saja. Para penumpang mendengarkan lagu itu dengan tenang, menikmati buaian suara indah dari Bening. Rasanya perjalanan benar-benar menyenangkan karena dihibur oleh pengamen bersuara merdu seperti mereka berdua. Sembari bernyanyi, Bening menyodorkan sebuah kantong plastik bekas wadah permen ke para penumpang satu-persatu. Cukup banyak uang yang mereka dapatkan hanya dalam satu rute perjalanan. Saat Bening menunjukkan isi kantongnya, Hardy tersenyum puas dengan hasilnya. Turun dari bis, Hardy mencari bis lain yang akan membawanya kembali ke Malang. Ia belum berani mengambil rute tambahan karena takut tersesat di jalan. Sesaat ia memandang sekeliling terminal untuk mencari bis mana yang akan membawanya kembali ke Malang. Saat ia telah menemukan bis itu, ia segera melangkah namun tiba-tiba langkahnya terhenti karena dihadang empat bocah laki-laki berpakaian lusuh seperti dirinya. Dua orang anak mengunci tangan Hardy dan menyeretnya ke barisan bis yang berjajar. Hal ini membuat mereka tidak bisa dilihat orang lain kecuali jika ada yang melintas di jajaran bis yang menunggu giliran jalan. Setelah merasa aman, dua anak itu melempar tubuh Hardy hingga bocah itu terjerembab dan kedua tangannya seketika memerah. Bening berteriak sambil berlari ke arah kakaknya, ia segera membantu Hardy namun Hardy menepis tangan Bening. Ia berdiri dengan cepat, ia memandang anak-anak itu satu persatu tanpa rasa takut. Bocah berambut merah menyala dan berkulit gelap itu sempat merasa “Kamu anak baru ya?” Seorang anak dengan rambut merah menyala mendorong bahu Hardy hingga tubuhnya hampir terjungkal. “Ini kawasanku. Kamu harus ijin padaku.” Seorang anak laki-laki berkulit gelap dengan rambut berwarna pirang maju hingga tubuhnya hampir menempel ke Hardy. Hardy mundur, bukan karena takut tetapi karena ia harus melindungi adiknya. Secara spontan ia meraih lengan Bening dan menariknya ke belakang tubuhnya. “Kalian siapa?” tanyanya. Kompak keempat bocah laki-laki itu tertawa terbahak-bahak. Anak baru adalah mangsa paling menyenangkan bagi mereka. Anak lelaki berambut merah memandang kantong plastik yang ada di tangan Bening, seketika Hardy menggeser tubuhnya untuk menutupi Bening. “Minggir kamu!” Bocah berambut merah itu mengulurkan tangan ke pundak Hardy, ia hendak menggeser tubuh Hardy namun Hardy bergeming. “Kamu berani?” Sebuah bogem mentah melayang namun dengan sigap Hardy menangkap kepalan tangan itu lalu memeluntirnya ke belakang. Anak lelaki itu meringis, ia merasa dipermalukan oleh Hardy apalagi di depan teman-temannya. “Kalian tunggu apalagi? Serang dia!” Tiga anak lelaki lainnya segera melaksanakan perintah si bocah berambut merah. “Bening. Sembunyi!” Hardy mendorong adiknya. Ia tidak akan membiarkan Bening ada di tempat berbahaya seperti ini. Bening ingin bertahan tetapi empat anak lelaki bertubuh setinggi kakaknya tak pelak membuat nyali Bening menciut. Tetapi ia tidak ingin kakaknya dikeroyok, alih-alih menjauh, Bening mencari alat yang bisa dipakai untuk memukul empat anak lelaki itu. Hardy belum pernah dikeroyok, tetapi ia sering sekali diserang ayahnya sehingga kemampuan untuk melindungi dirinya sendiri, bisa dibilang cukup baik. Hardy bisa menghindari setiap pukulan yang datang tetapi empat lawan satu bukan pertarungan yang adil. Pada akhirnya Hardy babak belur, satu tendangan kuat membuatnya jatuh tersungkur. Empat anak itu tidak membuang momentum, keempatnya menyerang Hardy secara bersamaan. Hardy berusaha bangkit namun tendangan dari empat anak laki-laki itu membuatnya tidak berdaya. Bening menemukan sebuah sapu yang bisa ia gunakan untuk melawan anak-anak berandalan itu. Ia hendak kembali saat melihat kakaknya menjadi bulanan preman-preman itu. “KAKAK….” Ia histeris, berlari sambil membawa sapu yang diangkat tinggi-tinggi. Seorang petugas keamanan mendengarkan teriakan Bening, seketika petugas tersebut berlari mengikuti Bening. Ia melihat seorang anak dikeroyok oleh empat anak. Ia segera meniup peluit untuk menghentikan tindakan anak-anak itu. Mendengar suara peluit, empat anak itu segera berlari meninggalkan Hardy yang telah babak belur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN