Kesedihan Yang Mendalam

1625 Kata
Ibu adalah kasih tanpa kenal batas Ibu adalah pelindung tanpa kenal lelah Ibu laksana tiang pancang sebuah bangunan Ibu adalah seseorang yang tidak akan pernah tergantikan Lalu bagaimana jika Ibu pergi? Dua anak itu menangis histeris di depan jasad ibu mereka yang siap dihantarkan ke peraduan terakhirnya. Anak-anak yang malang, kehilangan sosok terpenting dari hidup mereka. Hanya Tuhan yang tahu bagaimana kelanjutan kisah mereka. Hardy menangis sambil memeluk adiknya, mencegah gadis itu menahan para pelayat yang hendak memindahkan jasad Indah yang telah dibungkus kain kafan ke keranda. Mata Hardy sudah bengkak tetapi air mata masih saja menggenanginya. Wajahnya sayu, sinarnya telah hilang bersama kepergian sang ibu. “Ibu ... jangan tinggalkan aku, Bu!” Tangis Bening seolah tak akan pernah berhenti. Suaranya menyayat hati para pelayat hingga hampir semua wanita di tempat itu turut larut dalam kesedihan, mereka menyeka air mata. Mbok Pah menarik tubuh Bening, mendekapnya erat ke dalam pelukan. Wanita itu bisa merasakan kesedihan Bening, seperti saat anak-anaknya kehilangan ayah mereka. Tidak, keadaan Bening dan Hardy jauh lebih malang ketimbang anak-anaknya. Mbok Pah menarik pundak Hardy, memeluknya erat dan membiarkan air mata membasahi pakaiannya. “Sabar ya, Har ... Bening.” Nasehat yang tidak membantu tetapi tetap saja Mbok Pah ucapkan. Bimo meredam tangis istrinya, sebagaimana ia berusaha meredam air matanya sendiri. Dulu ia merasa hidupnya sangat sulit namun melihat kesulitan yang dihadapi Hardy dan Bening, ia merasa jauh lebih beruntung daripada dua anak itu. “Ma, setelah pemakaman Bu Indah. Kita bawa anak-anak ke rumah kita!” Ia tidak akan membiarkan ayah Hardy dan Bening menghancurkan kehidupan dua anak itu. “Harus, Pa ... harus!” Mata Arini tidak buta, jika ia membiarkan dua anak itu tetap di rumah bersama ayah mereka, ia akan dihantui rasa bersalah yang teramat sangat. Keranda hijau menutupi jasad Indah, empat orang pria bersiap mengangkatnya. Bening menjerit histeris, ia meronta dari dekapan Mbok Pah. Ia tidak mau sang ibu dibawa pergi menjauh. “JANGAN BAWA IBUKU! JANGAN BAWA IBUKU!”. Mbok Pah dan Hardy mendekap tubuh Bening, gadis itu terus melakukan perlawanan sampai akhirnya keranda keluar dari rumahnya. Bening kembali menjerit dan meraung-raung, “IBU....”. Pada akhirnya keranda semakin menjauh, Hardy ada bersama iring-iringan itu sementara Bening ditahan di rumah karena takut akan mempersulit acara pemakaman. Mbok Pah meredam tangis Bening, gadis itu masih ada dalam pelukannya sambil sesekali terisak. Airmata gadis itu masih saja turun, wajahnya bengkak dan matanya memerah. Suara tangisnya masih saja keluar meski serak akibat terlalu lama menangis. “Kak Hardy. Kak Hardy.” Bening ingin bersama Hardy. Ia ingin berada di dekat kakaknya, hanya anak lelaki itu yang ia miliki. Bening tidak ingin jauh dari kakaknya. *** Sardi ketakutan, ia tidak berani mendekati rumahnya terlebih saat tahu seseorang berseragam polisi berdiri di depan rumahnya. Pria itu hanya melihat suasana duka keluarganya dari balik pohon mangga. Ia menyesal telah menyakiti Indah hingga membuat wanita itu pada akhirnya meninggal tetapi perasaan itu hanya melintas sekilas karena selanjutnya ia merasa ini kesalahan Indah sendiri. Sardi meludah di dekat kakinya kemudian ia menginjak jejak ludahnya sendiri. Persetan dengan semua ini, kematian Indah bukan kesalahanku jadi aku tidak peduli. Sardi melihat arak-arakan tandu keranda keluar dari rumahnya, diikuti para pelayat yang berjalan di belakang keranda itu. Sardi juga melihat Hardy berjalan dirangkul oleh seorang polisi yang sangat ia kenal. Sardi mendesis, ia sangat membenci Bimo yang sudah beberapa kali membuatnya berlari pontang-panting saat penggerebekan pemabuk dan penjudi. Setelah arak-arakan semakin menjauh, perlahan Sardi melangkah mengikuti mereka menuju ke tempat pemakaman umum yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumahnya. Ia menjaga jarak, takut jika orang-orang itu melihatnya lalu ia ditanya macam-macam. Sial, kenapa harus mati segala dia! Sardi benar-benar sebal. Di balik pohon randu yang berdiri kokoh di tengah pemakaman, ia kembali meludah lalu menginjak ludahnya sendiri hingga bercampur dengan tanah. Ia terus mengamati prosesi pemakaman dimana Hardy melompat masuk ke dalam liang lahat lalu membantu memasukkan jasad ibunya ke dalam. Sardi bergidik saat Bimo terlihat menoleh ke arahnya, segera ia menyembunyikan diri dengan menempel di tengah pohon randu. Ia tidak boleh terlalu lama disana atau polisi sialan itu akan menangkapnya. Sekali lagi ia memeriksa keadaan sebelum ia melarikan diri selayaknya seorang ... pecundang. *** Hardy meletakkan kepala Indah di atas bola-bola tanah, ia juga melepas ikatan kepala Ibunya. Dengan suara bergetar ia mengadzani ibunya, ia tak sanggup menahan bulir-bulir air mata. Rasanya seperti seekor burung terbang lalu sayapnya dipatahkan hingga menukik bebas ke bawah. Seperti itulah perasaan Hardy sekarang. Meski didera luka yang sangat dalam namun Hardy ingin mengantarkan ibunya sampai selesai. Para pelayat terdiam terpaku, tidak ada satu orang pun yang berani membayangkan kehidupan yang akan dihadapi Hardy dan Bening. Tetapi hanya sepasang manusia yang akan bersedia memberikan seluruh hidupnya untuk menjaga dua anak itu. Bimo memeluk istrinya yang berurai airmata, wanita itu tergugu tak sanggup menahan rasa emosional apalagi saat mendengar lantunan adzan yang begitu menyayat hati. Bimo bahkan harus berjuang untuk menahan air matanya sendiri. Hardy yang malang, harus berjuang menapaki kehidupan keras bersama sang adik tanpa perlindungan. Tentu saja Bimo tidak akan membiarkan ini terjadi. Bukan karena ia seorang penegak hukum lantas ia merasa bertanggung jawab atas apa yang dialami Hardy namun sebagai manusia, sudah sepantasnya ia mengulurkan tangan bagi dua anak yang akan menjalani hidup jauh lebih sulit dari masa kanak-kanaknya dahulu. *** Setelah sekian lama meronta, akhirnya Bening bisa melepaskan diri dari Mbok Pah. Ia berlari sekuat tenaga tanpa alas kaki menuju ke pemakaman. Ia tidak ingin ibunya dimasukkan ke dalam tanah. Ia tidak ingin dipisahkan dari ibunya. Ia ingin bersama ibunya. Begitu sampai ke dalam pemakaman, tidak sulit bagi Bening untuk menemukan dimana ibunya dikebumikan. Para pelayat belum beranjak saat ia datang. Bening berlari, tidak mengindahkan luka tusuk yang ia dapatkan dari duri bambu. Kakinya berdarah, tapi ia hanya membuang duri yang menancap di kakinya sebelum ia kembali berlari menuju pusara ibunya. “Jangan masukkan Ibuku ... jangan masukkan Ibuku!” Dengan sepasang tanga kecil, Bening hendak membongkar makam ibunya. “ Ibuku bisa mati di dalam sana.” Gadis itu terus menggali makam dengan dua tangan mungilnya. Arini segera menjatuhkan badan dan menarik tubuh Bening. Ia menahan tubuh gadis yang terus meronta sambil berteriak histeris.  “Tante tolong Ibuku! ... Tante, Ibuku disana. Tante....” Gadis itu berteriak seperti orang gila. Melihat adiknya sehisteris itu, Hardy mengusap air mata. Ia sadar sekarang ia harus menenangkan adiknya, hanya dia yang dimiliki Bening jadi Hardy tidak punya waktu untuk meresapi kesedihannya. Hardy menepuk punggung Bening, serta merta Bening berpindah masuk ke dalam pelukannya. Gadis itu terus menangis histeris di pundaknya, ia hanya bisa meneteskan air mata sambil mengusap punggung adiknya. Ini semua karena Sardi. Ini semua karena pria busuk itu. Aku tidak akan pernah memaafkan pria itu. Seperti janjiku, semua tetes darah dan semua tetes air mata yang keluar dari Ibu, aku dan Bening harus dibalasnya. Kemarahan Hardy meledak, ia ingin membuat perhitungan dengan pria itu. “Bening, kamu pulang sekarang! Aku akan menyusulmu.” Hardy melepas lengan Bening yang melingkar di lehernya. Anak lelaki itu segera berlari menuju tempat dimana biasanya Sardi berada. Melihat Hardy, Bimo menepuk pundak Arini. Wanita itu tahu apa yang harus ia lakukan semenntara Bimo segera melangkah mengikuti arah lari Hardy. “Bening pulang sama Tante ya!” Wanita itu tidak membutuhkan jawaban, ia segera mengangkat tubuh Bening dan membawanya keluar dari pemakaman. *** Hardy berlari sambil berteriak seperti orang gila. Seperti perkiraannya, Sardi sedang asyik main judi saat Hardy mendekat. Tumpukan kartu domino ada di tengah lingkaran empat manusia busuk dan tidak berguna. Beberapa lembar uang puluhan ribu ada di depan orang-orang itu. Hardy berdiri di dekat mereka dengan tatapan nyalang laksana elang melihat mangsanya. Sebelum bertindak, Hardy mencari sesuatu dengan matanya sebelum tertumbuk pada cangkul yang teronggok di sebelah sebuah warung bambu. Hardy meraih benda itu, mengacungkannya sambil mendekati Sardi.  “SETAN ... PEMBUNUH!” Hardy mengayunkan pacul ke punggung Sardi namun Sardi dengan mudah menghindar. Seperti Hardy, Sardi pun ikut terbakar amarah. Ia merebut pacul dari genggaman anaknya, keduanya saling menarik pacul, saling memperbutkan benda yang bisa melenyapkan nyawa salah satunya. Hardy menatap Sardi dengan kobar amarah seperti lava yang keluar dari gunung Semeru, “Aku akan membunuhmu, Sardi sialan.” Mata Hardy benar-benar gelap, ia hanya ingin membuat Sardi ikut merasakan dinginnya tanah seperti yang dirasakan ibunya sekarang. “Itu bukan salahku. Ibumu memang sakit-sakitan.” Sardi tidak mau disalahkan atas sakit yang diderita ibu Hardy. “Bukan salahmu? Masuklah ke neraka, sialan.” Hardy menendang kemaluan Sardi dengan lututnya. Pria itu segera melepas cangkul dan menggenggam k*********a sendiri. “ANAK SIALAN. ANAK....” Mulut Sardi seketika terkunci saat melihat Hardy kembali mengangkat cangkulnya tinggi-tinggi. Ia bergidik ngeri, membayangkan jika ujung cangkul itu melukai dirinya. Bimo datang di saat yang tepat, kedatangannya membuat teman-teman judi Sardi berlari pontang-panting. Tontonan seru dari Sardi dan Hardy tidak lagi menarik, mereka takut jika Bimo menangkap mereka dan memasukkannya ke dalam penjara. Bimo menarik cangkul dari genggaman Hardy, ia bisa merasakan kekuatan yang keluar dari anak sekurus Hardy. Ia yakin tangan Hardy panas dan mungkin saja berdarah akibat bergesekan dengan gagang cangkul yang terbuat dari kayu. Tetapi saat ini yang terpenting adalah menghindarkan Hardy dari tindakan yang pasti kelak akan disesalinya.  “Hardy, istighfar!” Semoga Hardy mendengarkan ucapannya. Tetapi Hardy tidak mendengarnya, ia terlalu gelap sehingga telinganya menuli. Dengan tangan kosong, Hardy mendekati Sardi. Ia tidak takut apapun, jika harus mati pun ia rela asalkan dendamnya terbalaskan. Bimo menarik tubuh Hardy, menahannya sekuat tenaga sementara ia mengkode Sardi untuk melarikan diri. Dalam hati ia mengumpat, seharusnya ia menghubungi kantor saat mengejar Hardy tadi sehingga ia bisa sekaligus meringkus preman-preman yang selama ini sangat meresahkan. Tetapi Hardy adalah yang terpenting baginya.  “Tenanglah, Nak! Tenanglah!” Hardy marah besar saat melihat ayahnya lari terbirit-b***t bahkan tidak menoleh kepadanya.  “SARDI, LAWAN AKU PENGECUT!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN