?6

1728 Kata
JANGAN LUPA FOLLOW AKUN AUTHOR❕ SEBELUM BACA JANGAN LUPA KLIK VOTE❕ JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SESUDAH MEMBACA❕ JANGAN LUPA SHARE KE TEMAN-TEMAN KALIAN❕ DILARANG MENCOPY PASTE ❕❕❕ MAAF KALAU ADA YANG SALAH SAMA KATA-KATANYA❕ HAPPY READING ❕ Suara teriakan bahagia terdengar di sebuah club ternama saat mengingat mobil mereka mengalahkan laju mobil musuh bebuyutan. Sebuah meja disudut ruangan bagian kanan terdapat 7 orang. Berisi 4 cewek dan 3 cowok. "Ayo bersulang!" ucapnya lagi dengan gelas yang terangkat dan dibalas oleh temannya. Ting! "Aku belum puas melihat si Tristan malu di depan banyak orang," ucap teman cowoknya, Rian. Cewek di sampingnya mengiyakan perkataan Rian dengan kepala mengangguk. "Lagian si Tristan percaya diri banget kalau malam ini dia yang menang," lanjut Niku dengan kekehannya. "Dia tetap saja meremehkan keahlian kita," sambung Andi sambil menuang bir di gelasnya kembali. "Hem, kamu benar, Di. Padahal kita sering memperingati dirinya agar tidak bermain-main dengan kita. Tapi sepertinya otak dia tidak berfungsi lagi," Nitu angkat bicara. "Si Tristan sampai erat banget saat salaman sama aku tadi. Kayaknya dia tidak akan tinggal diam dengan kekalahannya," ucapnya dengan sedikit membungkukkan tubuh. "Sudah, kita akan membicarakan Tristan besok. Sekarang, kita harus bersenang dahulu untuk kemenangan yang sekian kalinya," ucap cowok yang statusnya sudah berubah menjadi kekasihnya, Rangga. Dia membetulkan duduknya sambil tersenyum nakal pada Rangga. Rangga yang melihat senyuman nakal gadisnya pun segera menarik punggungnya. "Kenapa, hem?" tanya Rangga saat gadisnya sudah membenamkan wajah di d**a bidang miliknya. Ia menggeleng, lalu melepaskan pelukannya saat dehaman keluar dari bibir Rian. "Apakah aku perlu memesankan kamar untuk kalian berdua, hem?" goda Rian membuat ketawa yang lainnya meledak, sedangkan Rangga sudah menatap tajam Rian. Berbeda dengan gadisnya yang ikutan tertawa mendengar perkataan Rian. Dengan gemas, Rangga mengapit kepala gadisnya dan membawanya ke ketiak. Ia mengambil tangan Rangga yang mengapit kepalanya dan menggenggamnya lembut. "Ayo kita berdansa!" "Tap-," Rangga menghentikan perkataannya saat gadisnya menarik paksa tangannya. "Apakah dia mabuk?" tanya Novya yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik aneh dari sahabatnya. Pertanyaan Novya menghantar geleng kepala dari yang lainnya. Nitu angkat bicara, "Sepertinya, tidak. Sebanyak-banyaknya Janah minum, ia tidak pernah-." "Astaghfirullah! Dia membuat kekacauan!" ucap Niku histeris yang langsung berlari menghampiri lantai dansa. "Aku sudah menduganya," ucap Novya yang akhirnya berlari juga dan diikuti yang lainnya. "Janah! Ayo turun!" ucap Rangga sebelum yang lainnya datang ke lantai dansa. "Tidak mau! Aku mau disini!" ucap gadisnya, Janah. Janah kembali meliuk-liukkan tubuhnya dengan ketawa yang menggema di setiap ruangan. Ia tak perduli dengan mata keranjang yang melihat lekukan tubuhnya. Cewek yang mendapatkan respon begitu dari cowoknya langsung menarik pasangannya keluar. Saat ini tinggal mereka dan beberapa sepasang kekasih yang masih setia menarik pasangannya. You know lah! Cewek mana yang rela pasangannya menatap gairah cewek lain? Janah tidak lagi meliuk-liukkan tubuhnya. Ia turun dari panggung klub. Ia menghampiri teman-temannya dengan ketawa yang masih menggema. Bukan hanya itu, air kristal mulai keluar dari kelopak matanya. Tidak tahu karena terlalu semangat atau ada masalah yang tidak diketahui mereka. "Ja-nah, kita pulang sekarang," ucap Rangga sambil mengusap pipi basah Janah. Janah menggeleng keukeuh dipelukan Rangga. "Tidak mau pulang, hiks! Aku ti-dak mau pu-lang," ucap Janah yang berakhir menutup mata. Kalau Rangga tidak menahan Janah, mungkin saja Janah sudah terjatuh. "Janah pulang bersamaku. Mungkin ia punya masalah dengan Nenek. Makanya ia sampai mabuk tidak seperti biasanya," ucap Niku dengan atensi yang tak lepas dari Janah. "Aku akan menggendongnya sampai mobil," ucap Rangga dengan Janah yang sudah di dalam gendongannya. Niku mulai berjalan menuju mobil dan diikuti Rangga yang menggendong Janah. Sedangkan yang lainnya mengikuti dari belakang. "Apakah Janah menyembunyikan sesuatu dari kita?" tanya Rian. "Sepertinya, iya," balas Andi. Beberapa menit kemudian, mobil Niku yang membelah jalanan sepi akhirnya masuk ke kompleks perumahan milik kedua orang tuanya. Sebenarnya ia memiliki sebuah apartemen, tapi jaraknya sangat jauh dari klub. Ia bisa saja membawa Janah ke sana. Tapi yang menjadi masalahnya adalah Niku tidak tahan lagi untuk menyetir. Pusing mulai mendera kepala Niku. Satpam yang sejak tadi menunggu Nona kecilnya pulang pun akhirnya terkabul saat mobilnya berhenti di depan pagar. Segera Pak satpam membuka pagar rumah. Ia menguncinya lagi setelah mobil Niku masuk ke halaman rumah. Pak satpam menghampiri mobil Niku. Seketika itu, matanya melotot saat melihat Niku berusaha menuntun Janah. "No-na Janah?" Niku berdecak melihat respons Pak satpam, "Pak! Ayo bantu saya! Jangan diam saja!" "E-eh, iya, Nona," ucap Pak satpam yang berakhir membantu Niku dan membawa Janah ke dalam. "Semua sudah tidur kan, Pak?" tanya Niku saat melihat jam di tangan. "Iya, Nona." "Kita pelan-pelan saja masuknya. Jangan sampai orang rumah tahu kalau Niku pulang bersama Janah," ucap Niku sedikit berbisik. "Baik, Nona," balas Pak satpam yang ikutan berbisik. Setelah beberapa menit membuat Niku masuk ke rumah sendiri seperti maling. Akhirnya mereka berhasil membawa Janah ke kamar. Keduanya sudah meletakkan Janah dan menyelimuti tubuhnya. "Huh!" Napas berat keluar dari Niku. Ia menutup pintu setelah Pak satpam turun ke bawah. Sebelum membaringkan tubuh di samping Janah, Niku berniat untuk membersihkan tubuhnya dahulu. Jangan sampai kedua orang tuanya tahu kalau ia pulang malam kembali. Keesokan harinya... Gadis itu terbangun dari tidurnya saat merasakan mual pada perutnya. Segera ia berlari menuju kamar mandi yang berada di kamar Niku. Gadis itu, Janah memuntahkan semua isi perutnya, namun tidak ada yang keluar. Pusing mulai mendera kepalanya. Janah membasuh wajahnya setelah ia merasa baikan. "Kalau ada masalah jangan mengeluh di klub dan mengeluh lah pada Tuhan." Suara itu membuat Janah membalikkan tubuhnya, walaupun saat ini ia merasa lemas. "Ma-," panggil Janah hampir tak bersuara. Tubuh Janah hampir saja terjatuh kalau Mama tidak menahan pinggangnya, "Sudah, kamu istirahat saja dahulu. Mama baru saja membuatkan kamu teh jahe. Di minum, ya, sebelum tidur kembali?" Janah mengerucutkan bibir pucatnya. Ia mulai berjalan dengan Mama yang menuntunnya. "Janah tidak suka teh jahe. Apakah tidak ada teh manis atau kopi?" ucap Janah saat dirinya sudah menyender di kepala ranjang. "Mama membuatkan kamu teh jahe agar pusingnya hilang. Sudah, sekarang minum teh jahenya." Mama mendudukkan dirinya di tepi ranjang dengan gelas yang berisi teh jahe mengambang di depan bibir Janah. Mama menyuruh Janah membuka mulutnya melalui mata. Janah menggeleng, ia menjauhkan wajahnya dari gelas itu. "Bagaimana dengan cokelat?" tanya Janah. "Cokelat tidak akan bisa menghilangkan pusing kamu," balas Mama yang masih setia meladeni Janah. "Janah tidak pusing. Siapa yang bilang kalau Janah pusing?" ucapnya yang masih berusaha mencari alasan. "Kamu berniat untuk menghabiskan waktu Mama? Kalau tidak suka dengan apa yang Mama berikan untuk kamu kasih tahu aja. Tidak usah mengulur waktu Mama sampai mencari alasan yang tidak jelas," ucap Mama langsung bangkit dari ranjang. "Ma," lirih Janah dengan kepala tertunduk. Janah mengangkat kepalanya lagi saat elusan mendarat di kepalanya. "Mama marah? Maaf, kalau Janah sudah membuat Mama marah," sesal Janah saat melihat mimik Mama berubah datar. "Memang tidak semua masalah kita harus di kasih tahu pada orang asing," perkataan Mama membuat Janah langsung menggeleng. "Bu-kan begitu. Janah tidak bermaksud-." "Saya memang orang asing, tapi tolong hargai saya yang sudah mengurus kamu. Bahkan kamu tahu sendiri kan kalau saya sudah menganggap kamu sebagai putri saya sendiri?" Janah tidak menjawab. Ia menundukkan kepalanya dengan air mata yang sudah mengalir, "Ja-nah tidak tahu diri, hiks!" "Ja-nah tidak bisa menjadi anak ataupun cucu yang baik di dalam keluarga. Janah selalu berbuat kesalahan sampai semua orang tidak suka pada Janah. Bah-kan, hiks! Bah-kan keluarga Janah sendiri sudah angkat tangan. Ja-Janah tidak ingin menyusahkan Mama, hiks!" Mama mengangkat dagu Janah yang sudah basah dengan dirinya yang duduk di tepi ranjang kembali, "Kenapa baru sekarang kamu mengatakannya? Apakah kamu tidak percaya pada Mama?" Janah menggeleng dengan napas yang tak beraturan, "Janah tidak ingin menambah pikiran Mama. Janah tidak ingin, hiks!" Mama langsung membawa Janah ke pelukannya sambil mengelus lembut punggungnya, "Mama sudah katakan bukan? Jangan memasukkan diri kalian pada tempat yang salah. Tidak ada orang tua ataupun keluarga yang ingin melihat anak dan cucunya terjerumus ke tempat yang dilarang agama." "Contohnya semalam, kalian pergi ke area balapan, pergi ke klub untuk merayakannya, dan berakhir mabuk kan? Untuk apa coba menghabiskan waktu ke tempat seperti itu?" Jangan tanyakan dari mana Mama tahu? Tadi pagi Pak satpam langsung mengatakan semuanya pada Mama, walaupun Niku sudah memperingatinya untuk tidak mengatakan apapun pada Mama. "Mama juga seperti itu," ucap Mama sambil melepaskan pelukannya. Mama mulai mengelus pipi Janah dengan tangan yang lain merapikan rambut berantakan Janah. "Mama sama seperti Bunda kamu. Kami sama-sama orang tua dan menginginkan putrinya tumbuh dengan baik. Namun lingkungan buruk sudah merebut kalian dahulu dan membawa kalian pergi dari lingkungan yang baik." "Mama juga sedih saat melihat Niku tumbuh dengan buruk. Pergi ke tempat yang haram dan berpasangan pada laki-laki yang bukan muhrimnya. Mama merasa gagal saat itu. Tapi Mama masih berusaha menyadarkan putri Mama. Mama tidak mau-." Perkataan Mama terhenti saat seseorang memeluk dirinya dari belakang. Air mata Mama keluar saat melihat si pelakunya. Niku menangis tersedu-sedu saat mendengar semua isi hati Mama yang selama ini ia abaikan, "I'am sorry, Mom. Niku minta maaf karena selalu mengabaikan perkataan Mama, hiks!" Niku berlutut di antara Mama dan Janah. Niku menggenggam lembut tangan Mama dengan air mata yang masih mengalir, "Niku berjanji akan berubah. Niku tidak mau lagi melihat Mama menangis diam-diam di kamar." Iya, setiap malam Niku pulang dan tidak sengaja melewati kamar Mama, ia selalu mendengarkan suara tangisan pilu. Mama memang selalu mengeluh pada Tuhan dan foto Papa dari pada ia yang selalu ada di samping Mama. Karena Mama tahu kalau putrinya tidak akan pernah mengerti dengan apa yang ia rasakan. Hanya mengharapkan putrinya yang berubah jadi perempuan baik saja sangat susah. Niku memeluk tubuh Mama yang mematung. Ia sayang pada Mama, tapi dunia luar sudah menguasai dirinya. Sedangkan Janah, ia menunduk. Bisakah ia berubah seperti yang dikatakan Niku? Apakah nyalinya kuat untuk meminta maaf pada keluarganya? Janah hanya butuh seseorang hadir untuk membimbingnya menjadi yang lebih baik. Tidak, ia sudah memiliki orang itu, Rangga. To Be Continued... 1585 kata Part Khusus untuk dia yang belum berani menampakkan jati dirinya. Sorry lama apdet, soalnya lagi ujian guys.. Maklumin aja, ok! Hadriansyah Varun Irsyad (VARUN KAPOOR) Luthfiyana Shiny Nabilah (SHINY DOSHI) Davino Namish Irsyad (NAMISH TANEJA) Ralyn Teja Fadillaisyah (TEJASSWI PRAKASH) Tarun Rabbani Irsyad (TARUN SINGH) Akanksha Lathifatul Nuha (AKANKSHA CHAMOLA) Amar Zulfatin Irsyad (AMAR SHARMA) Soni Trisnawati Irsyad (SONICA HANDA) Muhammad Nagesh Irsyad (NAGESH SALWAN) Shalini Isna Irsyad (SHALINI KAPOOR SAGAR) Sachin Affan Fadillaisyah (SACHIN TYAGI) Pari Eileen Fadillaisyah (PARINEETA BORTHAKUR) Kamis, 26 November 2020 Menantu kedua Soni dan Amar. linar_jha2
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN