JANGAN LUPA FOLLOW AKUN AUTHOR❕
SEBELUM BACA JANGAN LUPA KLIK VOTE❕
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SESUDAH MEMBACA❕
JANGAN LUPA SHARE KE TEMAN-TEMAN KALIAN❕
DILARANG MENCOPY PASTE ❕❕❕
MAAF KALAU ADA YANG SALAH SAMA KATA-KATANYA❕
HAPPY READING ❕
Pagi harinya...
Shiny tersenyum melihat tempat peristirahatan terakhir kedua orang tuanya. Shiny meletakkan buket bunga lili putih di atas tanah orang tuanya.
Shiny mulai berkata sambil mengusap keramik nama Mama yang menyatu dengan Papa, "Assalamu'alaikum, Ma, Pa. Maaf kalau Shiny jarang menjenguk Mama dan Papa. Shiny rindu kalian berdua. Banyak yang ingin Shiny bicarakan pada kalian berdua."
"Perkataan mereka benar. Shiny hanya benalu di keluarga Varun. Shiny belum bisa menjadi istri dan menantu yang baik, Ma. Shiny tidak akan pernah bisa memberikan mereka keturunan. Shiny-,"
Shiny menghapus pipinya yang basah. Tangannya beralih ke perut ratanya, "Padahal Shiny berharap suatu saat ada nyawa di dalam sana."
Shiny duduk setengah berbaring di samping Mama dengan tangan yang memeluk kedua nama itu. Kini ia seakan sedang memeluk kedua orang tuanya secara langsung.
"Tuhan itu adil, ya, Ma, Pa? Dia membuat kita bahagia dan sedih. Semuanya dia yang atur."
"Shiny pernah mengeluh padanya agar Shiny di pertemukan lagi pada kalian. Sebentar lagi hari itu tiba. Dimana kita bertiga akan bahagia di alam sana."
"Shiny rindu pelukan kalian. Shiny tidak mau lama-lama berada di sini. Shiny takut menyusahkan mereka."
"Shiny tidak salahkan mengambil keputusan dan memilih melepaskan Varun untuk wanita lain? Mama juga pernah mengatakan pada Shiny. Jangan egois dan lepaskan dia, jika kita bukan takdirnya. Shiny bukan takdir untuk Varun, hiks! Shiny-,"
Shiny menutup matanya perlahan. Ia bukan pingsan, melainkan mengantuk. Ia rindu pada kedua orang tuanya. Ia ingin menghabiskan waktu hari ini bersama kedua orang tuanya. Jadi, biarkan saja ia tertidur di samping makam kedua orang tuanya.
Flashback On :
Beberapa menit yang lalu, ketika Shiny berhadapan dengan Dokter pribadi keluarga Irsyad.
"Maaf, sayang. Gejala yang kamu alami bukan bertanda hamil. Melainkan-,"
Shiny menunggu perkataan wanita paruh baya di hadapannya. Dia adalah Dokter Nina. Dokter Nina tersenyum tipis membuat Shiny sedikit berdecak.
"Melainkan apa Dokter? Tolong, jangan buat saya penasaran," ucap Shiny.
"Saya berharap, kamu tidak putus asa. Kamu harus berjuang jika ingin sembuh."
"Sembuh? Saya sakit? Saya sakit apa, Dok?" tanya Shiny beruntun ketika mendengar perkataan Dokter Nina.
"Kamu di diagnosis gejala kanker serviks," ucap Dokter Nina.
Ada yang hancur, namun bukan barang melainkan hati Shiny. Ia tidak dapat berkata apapun. Ia tahu betul apa itu kanker serviks. Kanker yang terjadi pada leher rahim. Kanker serviks terjadi ketika sel-sel yang sehat mengalami perubahan atau mutasi genetik. Mutasi genetik itu mengubah sel yang normal menjadi abnormal, kemudian berkembang secara tidak terkendali dan membentuk sel kanker.
"Kanker serviks yang kamu alamin masih stadium 2. Kamu masih bisa disembuhkan, namun di rumah sakit kami tidak menemukan obat itu. Lebih baik kamu mencari rumah sakit lain yang memiliki obat itu," ucap Dokter Nina membuat senyuman tipis terbit di bibir Shiny.
"Saya tidak perlu semua itu, Dokter. Sekarang yang saya perlukan janji Dokter. Saya mau Dokter berjanji pada saya untuk tidak mengatakan apapun pada keluarga Irsyad. Jangan sampai mereka tahu tentang penyakit saya. Dokter mau kan berjanji pada saya?"
"Tapi, sayang. Kamu lagi sakit dan keluarga harus ada yang tahu. Setidaknya satu orang. Saya tidak mau kamu sakit sendirian," ucap Dokter Nina.
"Saya punya Dokter. Bukankah Dokter sudah menganggap saya sebagai putri Dokter?"
Dokter Nina menatap teduh Shiny. Dokter Nina memang sudah menganggap Shiny sebagai putrinya. Tapi ini masalah nyawa. Bagaimana terjadi sesuatu pada Shiny jika tidak ada dirinya? Dokter Nina tidak akan bisa memantau Shiny selama 24 jam. Ia juga punya keluarga dan pekerjaan.
"Dokter, ayo jawab perkataan saya. Dokter mau berjanji kan?"
Dokter Nina membuang napasnya kasar dan menghirup rakus udara sebelum mengeluarkan suara, "Baiklah, saya akan menutup mulut hanya demi kamu."
"Saya berterima kasih pada Dokter. Maaf kalau saya sering menyusahkan Dokter," ucap Shiny mulai tak enak hati.
"Bukankah saya sudah kamu anggap sebagai Ibu kamu? Maka tidak ada yang perlu dimaafkan," ucap Dokter Nina dengan senyuman lebarnya.
Shiny menurunkan pandangannya. Dokter Nina menggenggam hangat tangan kanan Shiny yang ada di meja. Ia tahu kebiasaan Shiny ketika sedang menunduk.
"Apa yang ingin kamu minta lagi? Biar saya kabulkan."
Shiny mengangkat kepalanya dan menatap Dokter Nina teduh, "Shiny mau Dokter membuatkan sebuah surat yang tertulis kalau Shiny tidak bisa hamil."
"Shiny, apa lagi ini? Jangan buat kamu dalam masalah," keluh Dokter Nina.
"Bukankah saya memang tidak bisa hamil? Dokter hanya perlu membuatkan surat itu."
"Kamu ini keras kepala banget. Kamu tunggu di sini. Saya akan datang lagi membawa surat itu. Kamu puas, sayang?" ucap Dokter Nina berakhir pasrah.
"Sangat puas Dokter. Terima kasih."
"Tidak masalah, sayang."
Beberapa menit kemudian, Dokter Nina datang membawa surat yang diinginkan Shiny.
Shiny menerimanya dengan senang hati seakan baru saja mendapatkan permen kapas yang sudah lama ia minta.
"Terima kasih, Dokter. Saya tidak bisa apa-apa jika Dokter tidak membantu saya."
Flashback Off :
Kediaman Fadillaisyah.
Mbok Lyla masih setia mengetuk pintu kamar Janah dengan sebuah nampan di tangan. Namun, ketukannya seakan tidak terdengar sampai dalam karena pintunya juga belum dibuka oleh pemilik kamar.
"Neng Janah, ini Mbok Lyla," ucap Mbok Lyla dari luar.
"Jangan masuk, Mbok! Saya masih mau sendiri!" balas Janah yang akhirnya angkat suara.
Mbok Lyla mengucap syukur. Kenapa sejak tadi ia ajak saja Janah bicara? Dari pada mengetuk pintu berkali-kali, namun tidak ada jawaban? Seperti orang kurang kerjaan saja.
"Tapi Neng Janah belum makan sejak semalam. Tidak baik melewatkan sarapan, Neng," ucap Mbok Lyla kembali.
"Janah tidak lapar! Sudah sana! Jauh dari pintu Janah!" ucap Janah dengan tidak sopannya.
"Tapi Neng-,"
Bruk!
Janah yang berada di dalam melemparkan boneka besar kesayangannya ke pintu membuat Mbok Lyla sedikit terkejut.
"Mbok dengar Janah tidak, sih?! Tinggal pergi aja susah banget!" gerutu Janah pada pintu seakan ia berbicara langsung pada Mbok Lyla.
"I-ya, baik, Neng. Ma-af kalau sudah membuat mood Neng hancur," ucap Mbok Lyla segera pergi dari sana dengan nampan yang belum disentuh oleh Janah.
"Mood ku memang sudah hancur sejak semalam! Tidak ada yang bisa mengerti aku!"
"Bagaimana dengan sebuah cokelat? Apakah kamu tidak akan sarapan?" tanya seseorang yang berada di bendul pintu.
Janah mengalihkan pandangannya ke pintu saat mendengar suara familier itu. Pintu kamarnya sudah dibuka dengan kedatangan sosok itu.
Dia meletakkan kunci serep yang digunakannya tadi untuk membuka kamar Janah. Ia berjalan menghampiri Janah dan duduk di tepi ranjang membuat Janah mengusap pipinya yang basah.
"Pergi. Aku tidak mau diganggu," ucap Janah dengan suara seraknya.
Bagaimana tidak serak, jika ia menangis tanpa henti sejak semalam?
"Kamu keras kepala, maka aku lebih keras kepala. Sekarang buka mulutmu dan biarkan makanan ini masuk ke perutmu," ucapnya mengambangkan sendok yang berisi makanan di depan bibir Janah.
"Varun, aku tidak ma- um," ucapan Janah terpotong ketika Varun memasukkan paksa makanan itu.
"Aha, hih? Ahu bihang juha tihak mahu di haksa," gerutu Janah dengan mulut yang penuh dengan makanan.
Janah berakhir terbatuk ketika ingin mengangkat suara kembali.
"Kebiasaan. Makan selalu saja sambil bicara. Jadi batuk kan?!" ucap Varun sedikit protes dengan sedikit menengadahkan kepala Janah, lalu memberikannya minum.
Janah menghabiskan minumnya sampai tidak tersisa sedikit pun. Varun mengambangkan lagi sendok ke hadapan bibir Janah.
"Tidak, aku sudah kenyang," tolak Janah sambil menutup bibirnya dengan kedua tangannya.
"Makan Janah."
"Tidak mau," tolak Janah lagi dengan tangan yang masih menutup bibirnya.
"Makan."
Janah menggeleng kukuh. "Tidak mau, Varun. Udah sana! Kamu keluar aja! Aku tidak menyuruh kamu kesini juga! Memang istri kamu tidak marah, jika tahu kamu bersama wanita lain?"
"Shiny tidak manja dan cemburuan seperti kamu. Memang kamu? Dengan sikap kekanakannya?" ucap Varun berakhir menyindir Janah.
"Karena kamu tidak pernah ditinggalkan dengan orang yang kamu cinta," lirih Janah menurunkan pandangannya.
"Ketika kamu ditinggalkan selamanya, maka kamu akan merasakan kehilangan. Bayangkan saja, orang yang selalu ada di samping kamu pergi begitu saja untuk selamanya," lanjut Janah menatap Varun yang wajahnya datar.
"Sudah? Sekarang habiskan makananmu, aku mau keluar dahulu," ucap Varun yang hendak bangun dari tempat.
Namun, Janah menarik tangan Varun membuat Varun duduk lagi di tepi ranjang.
"Aku mau kamu menemani ku. Bisakan?" ucap Janah sedikit berharap, Varun hanya membalasnya dengan dehaman.
Janah mulai menghabiskan makanannya dengan gerakan lambat, sedangkan Varun sibuk memainkan ponselnya. Shiny yang berada di balik pintu kamar Janah pun tersenyum melihat keduanya dekat kembali.
Iya, tadi Bunda Pari menelepon Shiny ketika ia di perjalanan menuju pulang. Bunda Pari menyuruh Shiny membawa Varun, karena yang Bunda Pari tahu Janah akan makan jika ada Varun di sampingnya. Ingat, masalah itu hanya berlaku ketika Janah mogok makan.
Memang dari kecil, Janah dan Varun sangat dekat sampai mereka sahabatan, tapi tidak tahu sekarang. Karena sejak pertemuan mereka di keluarga besar Irsyad semalam seperti orang asing yang sama sekali tidak kenal satu sama lain.
Varun yang sikapnya dingin seperti es batu dan Janah yang cuek seperti tidak mau tahu apapun lagi. Bagaimana keduanya bisa disatukan kalau tidak ada yang mau mengalah?
Varun mengalihkan pandangannya ke pintu ketika ekor matanya melihat Shiny pergi. Varun tahu Shiny sedang mengawasinya. Sebenarnya Varun tidak mau melakukan ini pada wanita lain kalau bukan karena paksaan dari Shiny.
Tuk!
Janah meletakkan piring bekas makannya ke nakas, lalu menengadahkan telapak tangannya pada Varun dengan pandangan ke depan.
Varun mengernyit tidak mengerti. "Kenapa?"
Janah mengalihkan pandangannya ke Varun. Kini keduanya saling bertatapan.
"Minum," ucap Janah kesal.
"Kenapa tidak ambil sendiri?" tanya Varun protes.
Namun, tangannya tetap bergerak menuang air ke gelas yang ia letakkan di nakas sampingnya.
"Jauh, malas bangkit," balas Janah sedikit malas.
Varun memberikan gelas yang sudah diisi air minum pada Janah. Janah menerimanya, lalu meneguknya sampai habis.
Janah meletakkan gelasnya di nakas sampingnya, lalu menengadahkan telapak tangannya pada Varun kembali.
"Apa lagi?" tanya Varun berdecak.
"Cokelat. Bukankah kamu berjanji akan memberikan cokelat padaku setelah aku menghabiskan makanannya?" ucap Janah.
"Aku tidak mengatakan itu."
"Ya, sudah. Sekarang mana cokelatnya?" ucap Janah.
Varun meraba nakas untuk mencari cokelat yang ia letakkan tadi. Setelah ketemu, Varun menyodorkan cokelat itu tanpa melihat Janah.
"Tapi aku lagi sedih. Kenapa kamu memberikan aku cokelat?" ucap Janah membuat Varun menatap dirinya.
"Apakah cokelat harus dimakan di saat kita merasakan kebahagiaan?" ucap Varun membuat Janah memalingkan wajahnya ke depan.
Janah menyenderkan kepalanya pada kepala ranjang. Kini ia menatap langit-langit kamar dengan sebuah ingatan kecil.
"Ternyata kamu masih ingat. Aku pikir kamu melupakan semua masa lalu itu. Karena melihat kamu yang sekarang sangat berbeda dengan yang dahulu Varun. Dahulu kamu sangat perhatian, sekarang kamu menjadi pribadi yang tertutup. Apa yang membuat kamu berubah menjadi dingin begini?" ucap Janah dengan segala kebingungannya.
Tentu saja ia masih ingat dengan Varun kecil. Varun yang selalu menjaganya dengan baik sampai menganggapnya sebagai Adik sendiri. Tetapi setelah Janah pulang, Varun berubah menjadi sosok yang dingin seakan mereka tidak saling kenal.
Varun hanya berdeham, lalu bangkit dari duduknya. Janah menahan langkah Varun dengan memegang tangannya. Varun membalasnya dengan lirikan, lalu turun ke tangan Janah yang menggenggam tangannya.
"Kamu belum membalas perkataan ku. Kenapa kamu pergi?" ucap Janah sedikit kesal.
Varun menggerakkan lengannya ke kanan dan ke kiri sampai genggaman Janah terlepas.
"Kamu kepo!" balas Varun dan berlalu pergi membuat Janah menahan kesal.
"Dasar es! Awas aja kalau suka sama aku!" ucap Janah menggebu.
To Be Continued...
HAPPY BIRTHDAY HELLY SHAH
Hadriansyah Varun Irsyad (VARUN KAPOOR)
Luthfiyana Shiny Nabilah (SHINY DOSHI)
Janah Helly Fadillaisyah (HELLY SHAH)
Davino Namish Irsyad (NAMISH TANEJA)
Ralyn Teja Fadillaisyah (TEJASSWI PRAKASH)
Khyati Tuzzahra Irsyad (KHYATI MANGLA)
Kamis, 07 Januari 2021
Enggak jadi misahin Varun dan Shiny.
linar_jha2